Perlawanan Warga Demak terhadap Abrasi
Di kawasan pesisir Kabupaten Demak, daratan semakin menghilang akibat abrasi. Banyak kampung yang telah tenggelam, seperti Dusun Rejosari, Mondoliko, dan Tambaksari. Ketiga dusun ini berada di Desa Bedono, Kecamatan Sayung. Para penghuni tiga dusun tersebut terpaksa melakukan bedol desa. Namun, warga Dusun Bedono memilih untuk bertahan.
Komunitas Bumi Hijau Berupaya Menjaga Kampung
Di tengah ancaman air rob, warga Dusun Bedono membentuk komunitas bernama Bumi Hijau. Komunitas ini terdiri dari sejumlah nelayan yang fokus pada konservasi hutan mangrove. Mereka percaya bahwa hutan mangrove menjadi benteng alami yang mencegah abrasi.
Saiful Rozi, salah satu penggagas komunitas Bumi Hijau, menjelaskan bahwa komunitas ini dibentuk pada Desember 2022. Anggota komunitasnya saat ini hanya sekitar 15 orang, 14 di antaranya adalah nelayan dan satu orang pekerja pabrik.
Komunitas ini lahir dari kekhawatiran warga terhadap kampung mereka yang mulai tergerus oleh abrasi. Saiful mengingatkan bahwa Dusun Bedono pada era 1980-an masih merupakan persawahan. Pada tahun 1992, kawasan tersebut berubah menjadi tambak. Mulai tahun 2010, abrasi mulai mengancam.
Jarak rumah Saiful dengan laut pada 1992 sekitar 2 kilometer. Pada tahun 2014, laut sudah berada tepat di belakang rumahnya. Sebagian warga sudah pindah dari dusun mereka karena seringnya banjir rob. Dari tujuh dusun di Bedono, tiga dusun sudah hilang.
Hutan Mangrove sebagai Benteng Alami
Warga Dusun Bedono masih memiliki hutan mangrove yang menjadi benteng alami. Saiful menyatakan bahwa hutan ini sangat penting dalam menahan laju abrasi. Ia mengatakan bahwa kampungnya masih bisa bertahan lebih lama dibandingkan beberapa dusun lain karena adanya hutan mangrove.
Hutan mangrove di Dusun Bedono saat ini seluas 9 hektare dengan jenis mangrove Bongko dan Api-api. Lima hektare hutan didominasi mangrove usia 15 hingga 25 tahun, sedangkan empat hektare sisanya adalah kawasan mangrove baru yang berusia di bawah 5 tahun.
Manfaat Ekonomi dari Hutan Mangrove
Selain fungsi ekologisnya, hutan mangrove juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Nelayan dapat menangkap udang, kepiting, dan biota lainnya yang hidup di sekitar mangrove. Selain itu, warga juga membuat produk olahan dari mangrove seperti sirup dan keripik daun mangrove.
Mangrove juga menjadi sumber pendapatan alternatif melalui budidaya kerang hijau. Hasil tangkapan kerang hijau bisa diolah menjadi kerupuk kering. Buah mangrove juga bisa dijual mentah atau digunakan untuk membuat makanan khas seperti brayo.
Tantangan dalam Konservasi Mangrove
Meskipun komunitas Bumi Hijau berhasil menjaga hutan mangrove, mereka menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah pembalakan liar yang pernah mengancam pohon mangrove berusia di atas 15 tahun. Untungnya, masalah ini teratasi dengan patroli rutin dari nelayan dan polisi.
Tantangan lainnya adalah ancaman hama ulat bulu yang pernah mematikan banyak pohon mangrove. Saiful mengatakan bahwa penanganan hama ini dilakukan secara berkala agar tidak terjadi lagi.
Pentingnya Kolaborasi dan Dukungan
Staf Kajian dan Pengelolaan Pengetahuan WALHI Jawa Tengah, Bagas Kurniawan, menekankan bahwa penanganan lingkungan tidak bisa dilakukan sendiri. Kolaborasi antara komunitas dan pihak lain diperlukan untuk menciptakan solusi yang efektif.
Bagas menilai bahwa komunitas berbasis warga seperti Bumi Hijau sangat penting dalam mengisi posisi sebagai garda terdepan dalam penataan lingkungan. Namun, ia juga mengakui bahwa komunitas ini menghadapi tantangan internal seperti kesadaran warga dan keterbatasan sumber daya.
Untuk memperkuat inisiatif ini, dukungan dari pihak eksternal sangat diperlukan agar komunitas dapat bertahan dan berkembang lebih jauh.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”












