Guru SDN Nganjuk Mengajar dengan Sepatu Jebol, Honor Rp 400 Ribu



NGANJUK, – Seorang pria berkopiah hitam berdiri di depan kelas SDN Gondang, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Jumat (23/1/2026). Dengan suara tenang, dia menjelaskan pelajaran Pendidikan Agama Islam kepada puluhan murid kelas III SD yang duduk rapi di bangku kayu. Mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna hitam kombinasi putih dan celana panjang gelap, penampilannya sekilas tak berbeda dari guru pada umumnya. Rapi dan sederhana.

Namun, perhatian tertuju pada sepatunya. Alas sepatu kiri berwarna putih tampak terlepas dari badan sepatu hitam yang dikenakannya. Rupanya, sepatu itu jebol. Pria itu adalah Mohamad Anang Arianto (26), guru agama di SDN 2 Pacekulon yang diperbantukan mengajar di SDN Gondang kurang dari sebulan terakhir ini.

Selama tujuh tahun, Anang mengabdikan diri sebagai guru honorer tanpa tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). “Kalau (mengajar) di pelajaran agama itu sudah jalan tujuh tahun ini,” ujar Anang saat ditemui wartawan usai mengajar.

Anang mengungkapkan bahwa dirinya belum masuk Dapodik sejak awal mengajar. Dia menyebut persoalan itu bermula sekitar tahun 2019 atau 2020. Saat itu, menurut Anang, dirinya tidak bisa masuk Dapodik karena belum memiliki ijazah sarjana. Kini, dia telah menamatkan studi Strata Satu (S1), tapi juga tak kunjung tercatat di Dapodik.

Anang mengaku telah berupaya mengurus persoalan tersebut dengan mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk sebanyak dua kali. Namun, usahanya belum membuahkan hasil. “Dulu pernah mencoba ke Dinas Pendidikan dua kali, tapi tidak tembus,” ujarnya.

Menurut Anang, alasan yang diterimanya adalah karena lembaga tempatnya mengabdi sudah tidak menerima tenaga honorer baru. “Karena katanya itu sudah tidak menerima honorer lagi lembaga,” ucapnya.

Selama mengajar, Anang hanya menerima honor yang nilainya jauh dari kata cukup. Dia menyebut, honor pertamanya sebesar Rp 150.000, dan kini menjadi Rp 400.000 per bulan. Honor tersebut, menurut dia, jelas tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. “Ya, kalau di zaman sekarang ya jelas tidak (cukup),” tuturnya.

Untuk menyambung hidup, Anang terpaksa mencari pekerjaan sampingan. Di luar jam mengajar, dia memiliki kerja sampingan sebagai pengemudi ojek online. Mengajar Pakai Sepatu Jebol

Kondisi ekonomi yang terbatas membuat Anang tetap mengenakan sepatu yang rusak saat mengajar. Sepatu yang dikenakannya sudah jebol. Anang mengaku terpaksa memakai sepatu rusak tersebut. Sebab, hanya sepatu itulah yang dimilikinya. Sementara untuk membeli sepatu baru, honornya kecil dan masih jauh dari kata cukup untuk menyambung hidup. “Ya mau bagaimana lagi Pak, punyanya juga hanya (sepatu) ini aja,” katanya.

Anang pun berharap ada perhatian dari pemerintah daerah terhadap nasib guru honorer seperti dirinya. “Harapannya, tentunya nanti ke depannya yang honorer seperti saya ini bisa diangkat menjadi pegawai negeri, dan untuk di Dinas Pendidikan ya utamanya yang honorer seperti saya itu lebih disejahterakan,” katanya.

Kepala SDN Gondang, Sukirno, membenarkan bahwa sekolahnya masih bergantung pada tenaga honorer untuk memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan. Saat ini, menurut Sukirno, di SDN Gondang terdapat dua tenaga honorer yakni seorang tenaga administrasi yang mengurus operasional sekolah dan seorang petugas kebersihan.

Sementara untuk Anang, dia mengatakan, merupakan tenaga honorer yang diperbantukan dari SDN 2 Pacekulon karena di SDN Gondang sempat tidak memiliki guru agama. “Di sini (SDN Gondang) tidak ada guru agama, karena guru agama sebelumnya mutasi ke Lengkong, sehingga tidak ada yang mengajar di kelas,” ujarnya.

Terkait honor Anang, Sukirno menyebut bahwa dana tersebut bukan berasal dari anggaran sekolah. Melainkan dari guru agama SDN Gondang yang lama. “Dari lembaga tidak ada (honor) sama sekali,” katanya.

Sebagai kepala sekolah, Sukirno berharap ada jalan keluar bagi nasib para tenaga honorer. Termasuk Anang yang saat ini belum masuk Dapodik dan statusnya hanya diperbantukan di SDN Gondang. “Kami sangat mengharapkan (ada jalan keluar) dengan nasib-nasib saudara-saudara ini. Ke mana kami harus mengadu, ke mana kami harus menyampaikan,” pungkas Sukirno.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *