Trump Menghina Peran NATO di Afghanistan, Inggris Marah: Penghinaan Terbesar

Pernyataan Trump yang Menghina Peran NATO di Afghanistan Memicu Kekacauan di Inggris

Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menganggap remeh peran pasukan NATO dalam konflik Afghanistan memicu kemarahan luas di Inggris. Pemerintah dan masyarakat setempat menilai klaim Trump tidak benar dan merendahkan pengorbanan ribuan tentara sekutu yang bertempur serta gugur selama dua dekade perang.

Kontroversi ini bermula dari wawancara Trump dengan Fox News di Davos, Swiss. Dalam kesempatan itu, ia menyatakan bahwa pasukan NATO—selain AS—tidak berada di garis depan selama perang Afghanistan. Ia bahkan meragukan apakah NATO akan hadir membantu AS jika diminta di masa depan.

“Kami tidak pernah membutuhkan mereka, kami tidak pernah benar-benar meminta apa pun dari mereka,” kata Trump, dikutip dari Associated Press. “Mereka akan bilang mengirim pasukan ke Afghanistan atau ini dan itu, tapi mereka berada sedikit di belakang, agak menjauh dari garis depan,” imbuhnya.

Pernyataan tersebut bertentangan dengan fakta sejarah. Invasi Afghanistan dimulai pada Oktober 2001, hampir sebulan setelah serangan 11 September terhadap New York dan Washington. Operasi itu dilakukan oleh koalisi pimpinan AS dengan keterlibatan puluhan negara, termasuk negara-negara anggota NATO. Serangan 9/11 bahkan memicu pengaktifan Pasal 5 NATO—klausul pertahanan bersama—untuk pertama kalinya dalam sejarah aliansi.

Artinya, negara-negara anggota sepakat bahwa serangan terhadap AS diperlakukan sebagai serangan terhadap seluruh aliansi. Reaksi keras dari pemerintah Inggris terhadap pernyataan Trump berlangsung cepat. Kantor Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa Trump “salah” dan telah meremehkan peran pasukan NATO.

Beberapa politisi mendesak Starmer untuk meminta klarifikasi atau bahkan permintaan maaf dari Trump. Inggris merupakan salah satu sekutu utama AS dalam perang Afghanistan. Setelah serangan 9/11, Perdana Menteri Inggris saat itu Tony Blair menyatakan bahwa Inggris akan “berdiri bahu-membahu” dengan AS melawan al-Qaida dan Taliban.

Data resmi menunjukkan lebih dari 150.000 tentara Inggris bertugas di Afghanistan sejak 2001, menjadikan Inggris sebagai kontingen terbesar kedua setelah AS. Operasi militer Inggris berfokus terutama di Provinsi Helmand, wilayah yang dikenal sebagai salah satu daerah paling berbahaya dalam konflik tersebut. Lebih dari 450 personel militer Inggris tewas selama perang Afghanistan.

Menteri Pertahanan Inggris John Healey menegaskan bahwa Inggris dan sekutu NATO “menjawab panggilan Amerika Serikat” setelah 9/11. “Mereka yang gugur harus dikenang sebagai pahlawan yang mengorbankan nyawa demi negara,” ujarnya.

Kemarahan juga datang dari kalangan veteran. Anggota parlemen Ben Obese-Jecty, yang pernah bertugas di Afghanistan sebagai kapten di Royal Yorkshire Regiment, menyebut pernyataan Trump “menyedihkan” karena menganggap murah pengorbanan Inggris dan sekutu NATO lainnya.

Kritik makin tajam karena latar belakang pribadi Trump. Ia tidak bertugas dalam Perang Vietnam meski memenuhi syarat, setelah menerima penangguhan wajib militer dengan alasan medis. Sejumlah pengamat menilai ironi ini memperparah ketersinggungan di Inggris.

Kontroversi Afghanistan bukan insiden tunggal. Dalam beberapa hari terakhir, Trump berulang kali melontarkan pernyataan yang merendahkan komitmen NATO, terutama ketika ia meningkatkan tekanan terhadap Eropa terkait ambisinya atas Greenland. Trump bahkan sempat mengancam tarif dagang terhadap negara-negara Eropa yang menentang rencananya.

Padahal, klaim Trump bahwa NATO tidak akan hadir jika AS membutuhkan bantuan, bertentangan langsung dengan fakta sejarah Pasal 5. Selain Inggris, Denmark juga disebut sebagai sekutu yang sangat aktif di Afghanistan, dengan 44 tentara tewas—angka korban per kapita tertinggi di antara pasukan koalisi.

Pernyataan Trump dinilai kembali menggerus kepercayaan di antara sekutu trans-Atlantik. Kontroversi ini muncul di tengah upaya meredakan ketegangan soal Greenland, yang sebelumnya juga memicu gesekan antara AS dan Eropa.

Diane Dernie, ibu dari Ben Parkinson—tentara Inggris yang mengalami luka parah akibat ranjau di Afghanistan pada 2006—menyebut komentar Trump sebagai “penghinaan terbesar”. Ia mendesak pemerintah Inggris bersikap tegas. “Panggil dia, buat pernyataan tegas untuk mereka yang berjuang demi negara ini dan bendera kami,” katanya.

Bagi Inggris dan banyak negara Eropa, peran NATO di Afghanistan bukan sekadar catatan sejarah, melainkan simbol solidaritas aliansi saat Amerika Serikat paling membutuhkan dukungan. Pernyataan Trump yang meremehkan peran tersebut dinilai bukan hanya keliru, tetapi juga melukai dasar kepercayaan yang menopang NATO.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, kontroversi ini menambah daftar ujian bagi hubungan trans-Atlantik—dan mempertegas betapa rapuhnya solidaritas aliansi ketika retorika politik mengabaikan fakta dan pengorbanan di medan perang.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *