Kehidupan seorang manusia sering kali dihadapkan pada berbagai tantangan, termasuk dalam hal tetangga. Terkadang, kita merasa tidak nyaman dengan perilaku orang-orang di sekitar kita. Kalimat “Orang gak enakan akan ketemu dengan orang nggak tahu diri” memang cukup populer dan sering dianggap benar oleh banyak orang. Banyak dari kita mungkin pernah merasakan hal yang sama, terutama ketika hidup bersama tetangga yang tidak menyenangkan.
Sebagai contoh, keluarga saya tinggal bersama ibu mertua. Rumah kami berada di posisi hook atau pojok dekat jalan raya. Kondisi ini membuat kami terbiasa dengan kebisingan sehari-hari seperti lalu-lalang kendaraan, suara orang yang bertengkar, atau bahkan kecelakaan kecil. Karena itu, toleransi keluarga kami terhadap hal-hal kecil cukup tinggi. Kami tidak mudah marah dengan masalah-masalah sepele. Namun, ternyata kami juga ditakdirkan memiliki tetangga yang sangat mengganggu.
Tetangga kami (kita sebut saja Pak Y) memiliki beberapa anjing yang sering menggonggong di jam-jam istirahat, terutama saat sedang birahi. Gonggongan mereka nyaris mirip dengan lolongan, yang sangat mengganggu. Selain itu, anjing-anjing tersebut juga sering membuang kotorannya di pot tumbuhan depan rumah kami. Hal ini membuat kami sangat kesal.
Saya ingin melaporkan hal ini kepada Pak Y, tetapi Ibu Mertua menyarankan untuk tidak membicarakan hal ini karena takut terjadi konflik. Ia mengatakan bahwa nanti akan diperbaiki oleh ART kami. Saya pun memilih untuk bersabar. Namun, masalah semakin memburuk ketika tembok rumah kami retak akibat renovasi rumah Pak Y yang dilakukan secara sembarangan. Ibu Mertua kembali menyarankan agar kami hanya memperbaiki bagian tembok yang rusak tanpa mempermasalahkan asalnya.
Masalah terus berlanjut ketika talang pipa rumah kami rusak karena pot bunga di lantai 3 Pak Y jatuh ke genteng rumah kami. Akibatnya, saluran pipa rusak dan air mengalir ke mana-mana. Saya mulai tidak tahan lagi dengan sikap Pak Y dan keluarganya. Saya ingin melaporkan hal ini, tetapi Ibu Mertua kembali menyarankan agar suami saya yang bicara.
Suami saya mencoba berbicara dengan Pak Y dengan nada santai. Namun, respons Pak Y sangat tidak sopan. Ia hanya berkata, “Oh, itu potku ya? Wah, sorry ya!” Ini membuat saya sangat marah.
Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman ini. Pertama, kita harus belajar menjadi lebih sabar, tetapi juga harus bersikap asertif. Orang toksik sering kali tidak menyadari bahwa mereka toksik. Jika kita diam dan tidak berani menghadapi, mereka akan terus bersikap demikian.
Selain itu, stres yang terlalu lama bisa berdampak buruk pada kesehatan. Ibu Mertua sering mengeluh tentang sakit maag dan vertigo, yang disebabkan oleh tekanan emosional yang terpendam. Ini menunjukkan pentingnya mengekspresikan keluhan secara sehat dan tidak menyembunyikannya.
Jadi, jika Anda memiliki tetangga yang toksik, ingatlah bahwa Anda tidak boleh menjadi orang yang tidak enakan. Jangan juga menjelma menjadi orang yang tidak tahu diri. Berikan pendapat Anda dengan cara yang baik dan jelas. Ingat selalu bahwa “Orang gak enakan akan ketemu dengan orang nggak tahu diri.” Jangan biarkan kebiasaan buruk tetangga mengganggu kenyamanan hidup Anda.











