Perjalanan Nadya Sriningrum dalam Membuat Gaun Pengantin untuk Perempuan Bertubuh Besar
Nadya Sriningrum Sanyoto (45) sudah sangat paham bahwa bagi sebagian perempuan dengan tubuh besar, hari pernikahan sering kali tidak datang bersama rasa percaya diri. Gaun pengantin yang seharusnya menjadi simbol perayaan justru sering menjadi sumber kecemasan: takut terlihat gemuk, takut salah potong, atau takut tubuhnya tidak cocok dengan gaun impian.
Selama 21 tahun berkecimpung di dunia bridal, Nadya sering mendengar pertanyaan serupa dari calon pengantin plus size. “Ci, ada enggak ya gaun seukuran saya? Tapi nanti kelihatan tambah gede enggak?” ujarnya menirukan pelanggannya.
Dari keresahan itulah, Nadya menyadari bahwa gaun pengantin bukan hanya sekadar busana. Ia adalah medium kepercayaan diri. Bagi perempuan bertubuh besar, kepercayaan diri itu sering kali harus diperjuangkan lebih keras.
Desain yang Merayakan Tubuh
Melalui workshop Nadya Bridal di Jalan Jambu Raya Nomor 5, Lamper Kidul, ia memilih jalur berbeda. Jalur yang tidak banyak diambil oleh desainer bridal yakni merancang gaun pengantin yang tidak menyembunyikan tubuh, melainkan merayakannya.
Koleksi terbarunya bertajuk “Elegant Beyond Size” ingin membuktikan bahwa plus size tidak identik dengan sederhana atau membatasi diri. “Plus size itu bukan berarti enggak bisa glamour. Tetap bisa cantik, tetap elegan, dan tetap proporsional,” katanya.
Perjalanan Nadya di dunia bridal dimulai dari rias pengantin. Ia tumbuh dari lingkungan keluarga yang sudah lebih dulu bergelut di dunia desain. Awalnya, ia hanya membantu merias. Namun setelah mulai menangani pengantin secara penuh, fokusnya perlahan bergeser ke desain gaun.
Dari sana, kariernya terus berkembang hingga kini menginjak tahun ke-21. Bertahan selama dua dekade bukan perkara mudah, apalagi di tengah menjamurnya desainer muda. Namun Nadya mengandalkan pengalaman dan tim yang solid. Ia memilih bekerja dengan tim lama yang sudah memahami ritme dan standar kerjanya.
Fleksibilitas dan Keinginan Pelanggan
Soal pasar, Nadya tak menutup mata. Ia mengikuti keinginan pelanggan, bahkan rela menyesuaikan desain dengan tren fashion terbaru atau inovasi jika koleksi yang ada belum sesuai selera calon pengantin. Namun baginya, keputusan akhir tetap ada di pelanggan.
“Kami selalu menyesuaikan keinginan customer, jika perlu kami bantu desain dan buat gaun baru apabila itu permintaan customer,” katanya.
Dalam setahun, musim paling sibuk biasanya terjadi sejak Desember hingga menjelang Lebaran. Pada periode puncak itu, Nadya bisa menangani tiga hingga empat pernikahan setiap pekan. Pelanggannya datang dari berbagai daerah, mulai dari Semarang, Pati, Jepara, hingga luar Jawa seperti Medan.
Menariknya, pola pemesanan juga berubah. Jika dulu pengantin memesan jauh hari, kini banyak yang serba instan. Bahkan ada klien yang hanya memesan gaun dua minggu sebelum hari pernikahan.
Koleksi Terbaru dan Desain yang Inovatif
Pada malam IKAPESTA 2026, Sabtu (24/1/2026), Nadya menampilkan 16 gaun pengantin dan delapan jas. Fokus utamanya jelas yakni desain plus size. Gaun-gaun tersebut dirancang untuk mengakomodasi berat badan hingga 120 kilogram.
Proses pengerjaannya memakan waktu sekitar satu bulan lebih, dengan total 12 gaun diselesaikan dalam periode tersebut. Menurut Nadya, mendesain gaun plus size membutuhkan keberanian artistik. Setiap tubuh memiliki lekuk yang berbeda dan menonjol di bagian yang berbeda pula.
“Enggak bisa disamaratakan. Gaunnya harus disesuaikan supaya lekuk tubuh tetap kelihatan proporsional dan cantik,” jelasnya.
Salah satu model yang justru banyak diminati adalah mermaid. Model ini sempat dianggap “menakutkan” bagi perempuan bertubuh besar karena dianggap menonjolkan perut dan pinggul. Namun Nadya justru meyakini sebaliknya, model gaun mermaid jika didesain dengan baik bisa membuat pengantin bertubuh besar jadi lebih ramping.
Tren 2026 dan Harga yang Kompetitif
Untuk tren 2026, Nadya melihat pergeseran ke arah desain yang lebih simpel dan elegan. Gaun-gaun berlengan panjang dengan full brokat masih menjadi favorit, terutama untuk pengantin muslim. Payet besar mulai ditinggalkan, digantikan payet kecil agar tampilan lebih menyatu dan anggun.
Soal warna, putih masih mendominasi gaun pengantin internasional. Namun untuk resepsi, warna-warna lembut seperti hijau sage menjadi tren yang banyak diminati.
Dari sisi harga, Nadya menegaskan bahwa kualitas tidak harus mahal. Paket di Nadya Bridal dimulai dari Rp10 juta untuk sepasang pengantin lengkap dengan riasan. Mayoritas pelanggan memilih sistem sewa. Bahkan untuk gaun baru, konsepnya tetap sewa dibuat khusus lalu disewakan dengan harga mulai Rp20 juta per pasangan.
Pesan yang Dijunjung Tinggi
Bagi Nadya, bisnis bridal bukan sekadar soal tren atau penjualan. Ada misi personal yang ia jaga sejak awal memastikan setiap perempuan merasa layak dan percaya diri di hari pernikahannya, apa pun ukuran tubuhnya.
“Banyak yang datang ke sini dengan rasa minder. Tapi saya ingin mereka yakin kalau mereka cantik, dengan gaun pernikahannya,” ujarnya.
Di tengah standar kecantikan yang kerap sempit, Nadya memilih jalan konsisten. Dia terus menjahit satu pesan sederhana bahwa perempuan tidak perlu mengecilkan diri untuk terlihat indah. Gaun yang tepat bisa menjadi awal keberanian untuk berdiri tegak di pelaminan tanpa rasa takut pada tubuh sendiri.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











