Budaya  

Tertangkap dalam Misteri Pulau Sokotra



Angin laut kering yang beraroma asin menghembuskan wajah Alex, Bambang, Deden, Sahat, dan Yusuf ketika perahu kayu yang mereka naiki mulai menepi di Pantai Qalansiyah. Di sana mereka berkemah selama liburan di Sokotra. Tiba-tiba, sepasang pesawat jet tempur melesat di atas kepala mereka dengan suara yang memekakkan telinga.

Perjalanan petualangan ini dilakukan pada musim dingin awal tahun, bertujuan untuk menjelajahi pulau terpencil Yaman yang dikenal sebagai tempat pengasingan Dajjal. Pulau ini sering disebut sebagai “the most alien place on Earth” karena keganjilan alamnya. Bagi lima sahabat ini, yang berasal dari Manggarai-NTT, Madiun, Sumedang, Brastagi, dan Barabai-Hulu Sungai Tengah, perjalanan ini menjadi kesempatan untuk melepaskan kepenatan setelah bekerja di pertambangan minyak lepas pantai milik monarki Emirat Abu Dhabi.

Tidak ada yang menyangka bahwa hari ketiga mereka di pulau itu akan berubah drastis. Langit Yaman tiba-tiba dipenuhi jet tempur yang melesat dengan jejak cahaya menyilaukan mata. Ledakan pertama terdengar jauh seperti guntur, tetapi berita perang segera muncul di media sosial mereka. Meski jaringan internet di pulau ini tidak stabil, konflik antara koalisi Saudi dan Yaman membuat bandara dan pelabuhan ditutup total.

Sokotra, yang sebelumnya terisolasi oleh alam, kini terisolasi oleh perang. Lima sekawan dan wisatawan lain dari mancanegara terdampar di dunia antah berantah bernama Sokotra.

Pulau Sokotra bukanlah destinasi biasa. Saat mereka menginjakkan kaki di sana, lanskap ganjil dengan pegunungan granit tajam menjulang seperti gigi raksasa di antara lembah-lembah kering yang dipenuhi batu-batu aneh membuat mereka merasa seperti berada di dunia lain.

Pemandangan hutan Pohon Darah Naga (Dracaena cinnabari) yang berdiri kaku dengan tajuk menyerupai payung terbalik semakin memperkuat kesan misterius. Getah merahnya yang terus meleleh dan bau anyir yang menusuk hidung menambah keganjilan alam Sokotra.

“Ini kok seperti Mars, tapi dengan pohon-pohon alien,” gumam Alex sambil mengabadikan keganjilan demi keganjilan.

Di lembah-lembah tanah kapur yang tandus, Desert Rose Sokotra (Adenium obesum socotranum) tumbuh dengan bonggol raksasa yang tampak seperti tubuh makhluk hidup yang membeku. Bunga pink cerah yang mekar di ujung ranting-ranting tipis menambah kecantikan alam yang misterius.

“Bener Lex! Tanaman ini seperti hamil permanen ya, serasa bukan di Bumi yak!” bisik Deden.

Yusuf, yang gemar membaca kajian eskatologi, teringat cerita tentang pulau terpencil di laut Arab tempat Dajjal diasingkan. Apakah inikah pulau yang dimaksud?

Malam kedua di Sokotra lebih menegangkan dari siangnya. Sunyi yang terasa ganjil dan suara serangga serta burung malam endemik Sokotra menambah suasana misterius.

Keesokan paginya, rombongan melakukan hiking ke perbukitan batu kapur Hajhir untuk menjelajahi Gua Hoq. Di dalam gua, mereka mendengar suara-suara aneh dan ganjil. Salah satu anggota rombongan melihat rantai besi tua yang berkarat tertanam di dalam batu gua.

Saat mereka keluar dari gua, senja mulai beralih menjadi gelapnya malam. Mereka dihiasi suara cicak-cicak dan serangga-serangga raksasa Sokotra yang memiliki bentuk dan komposisi tak lazim. Burung-burung Socotra Starling dan kalong-kalong alias kelelawar buah juga mengawasi mereka dari kejauhan.

Keesokan paginya, Yusuf terbangun lebih awal dan melihat benda melayang dengan lampu kedip selayaknya mata-mata yang mengawasi mereka dari ketinggian. Apakah itu UFO?

… dan menjelang siangnya, mimpi buruk itu menjadi kenyataan! Jet-jet tempur koalisi Saudi tiba-tiba berhamburan di udara, melancarkan serangan besar-besaran ke Sana’a. Pesan dari Ali, tour leader, menyebut pihak travel tidak bisa menjemput mereka karena semua bandara ditutup.

Itupun isian untuk menu full Yaman taste seperti Nasi Mandhi atau Nasi Hadramaut yang full rempah, olahan daging domba juicy yang biasa disebut Haneeth, Sup Saltah, sup daging domba yang disajikan dalam mangkok batu, plus “pencuci mulut” berupa roti selai malawach dan Aseeda si-pangsit berisi daging domba, tidak sesempurna sajian sebelumnya!

Celakanya, Ali menyebut perbekalan untuk konsumsi sudah sangat menipis, hanya menyisakan untuk sekali atau dua kali makan bersama untuk 15 orang.

Pengalaman urusan konsumsi yang selalu tidak pernah clear 100 persen setiap liburan dan berpetualang ke berbagai negeri yang sudah-sudah, gara-gara lidah nusantara mereka yang terlanjur medok, benar-benar menjadikan pelajaran terbaik untuk kelimanya!

Bambang sebagai chef yang berpengalaman, tidak pernah lupa untuk mempersiapkan bahan-bahan asupan nusantara sebagai mood booster terbaik, sekaligus memasaknya menjadi kuliner sedap ketika mereka berada di tempat-tempat asing, termasuk kali ini saat mereka terjebak dalam keganjilan Sokotra karena perang!

“Mau saya buatkan nasi pecel dengan dadar telur dari Burung Socotra Starling?” Tanya Bambang kepada semua rombongan? (BDJ180126).

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *