Keistimewaan Budaya Indonesia dalam Kehidupan Nyata
Banyak orang mengatakan bahwa masyarakat Indonesia sangat ramah. Bahkan, jika kita berada di transportasi umum seperti gerbong KRL yang sesak atau bus antarkota yang penuh kebisingan, selalu ada orang asing yang menyapa dengan tulus. Mereka memberikan pertanyaan sederhana yang terdengar ramah, disertai senyum yang tulus. Dengan begitu, mereka memulai obrolan yang lancar dan menciptakan rasa persaudaraan yang hangat meski tidak saling kenal.
Orang asing sering dihiasi oleh senyuman. Saat berjalan melewati orang tua, kita bisa melihat kepala sedikit ditundukkan sambil mengucapkan “Permisi” atau “Punten”. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang murah senyum, santun, dan menjunjung adat ketimuran. Pengalaman ini bukan sekadar mitos. Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia juga merasakan hal ini.
Fakta ini didukung oleh survei InterNations tentang Local Friendliness 2024. Dalam survei tersebut, Indonesia menduduki posisi ke-2 dari 53 negara sebagai negara paling ramah di dunia. Negara-negara seperti Brazil, Filipina, dan Vietnam kalah dari Indonesia. Indikatornya jelas: seberapa ramah masyarakat lokal, seberapa sering mereka berinteraksi dengan orang asing, dan seberapa bahagia pendatang berada di negara tersebut. Di dunia nyata, Indonesia adalah juara keramahtamahan.
Namun, semuanya berubah ketika kita melihat ponsel dan media sosial. Kita melihat komentar-komentar kasar, caci maki, hingga doa-doa buruk yang bertebaran tanpa sensor. Profil yang melontarkan kata-kata keji seringkali memasang foto profil wajah polos, ibu rumah tangga yang sedang menggendong anak, atau bapak-bapak berseragam dinas yang terlihat wibawa. Fenomena ini sejalan dengan hasil survei Microsoft Digital Civility Index (DCI) pada tahun 2020 yang menobatkan netizen Indonesia sebagai yang paling tidak sopan se-Asia Tenggara.
Psikologi di Balik Layar Kaca
Untuk memahami fenomena ini, kita perlu menyelami psikologi di balik layar kaca. Di satu sisi, masyarakat Indonesia memiliki budaya malu yang kuat. Di dunia nyata, kita menjaga perilaku karena takut dihakimi tetangga dan nama baik keluarga tercoreng. Ada kontrol sosial yang nyata. Namun, internet memberikan jubah gaib. Meskipun menggunakan nama asli, layar ponsel menciptakan jarak psikologis yang masif.
Ketika mengetik komentar jahat, kita tidak melihat mata lawan bicara. Tidak melihat wajah penerima pesan yang mungkin sedang menahan tangis. Absennya kontak mata ini mematikan saraf empati. Otak kita gagal memproses bahwa di seberang sana adalah manusia yang punya hati. Lahirlah keberanian semu. Orang yang di dunia nyata tidak berani menatap mata atasan, bisa berubah menjadi singa yang galak saat memaki presiden atau artis di kolom komentar.
Gotong Royong yang Berubah
Salah satu ciri khas bangsa Indonesia adalah semangat gotong royong. Kita suka melakukan segala sesuatu bersama-sama. Bahkan, ketika nongkrong atau makan, tidak masalah apakah makan atau tidak, yang penting kumpul. Sayangnya, di era digital, nilai luhur ini bermutasi menjadi sesuatu yang mengerikan, yaitu gotong royong mem-bully.
Ketika seorang netizen melihat akun yang sedang dirujak, ada dorongan kuat untuk ikut melempar batu. Ada rasa kepuasan kolektif saat menjadi bagian dari massa yang menghukum seseorang. Kalimat “Yuk, silaturahmi ke akunnya!” adalah kode halus untuk instruksi penyerangan massal. Ketika ribuan orang melakukan hal yang sama, rasa bersalah individu hilang. “Lho, kan bukan cuma saya yang ngatain? Semuanya juga ngatain!”
Pembenaran dengan Dalil Agama
Banyak netizen Indonesia berlindung di balik dalil moral atau agama untuk membenarkan kekejaman verbal mereka. Kita sering melihat komentar yang berbunyi, “Sekadar mengingatkan ya kak…” tapi diikuti dengan kalimat yang menghakimi fisik, pilihan hidup, atau aib seseorang. Merasa sedang menjalankan tugas suci untuk meluruskan yang salah.
Mereka merasa bahwa karena targetnya melakukan kesalahan, maka target tersebut halal untuk dihina. Hilang sudah ajaran agama yang menyuruh bicara lembut. Yang ada adalah ego untuk terlihat paling suci dengan cara menginjak orang lain.
Dampak Negatif dari Komentar Jahat
Apa yang diketikkan netizen memiliki dampak fisik dan mental yang fatal. Kita telah melihat artis Korea bunuh diri karena komentar jahat. Di Indonesia, kita melihat anak-anak muda depresi, menutup diri, bahkan trauma berat karena viral jalur hujatan. Reputasi hancur, bisnis ditutup, keluarga diteror. Jempol netizen memiliki daya ledak setara nuklir bagi kehidupan personal seseorang.
Miripnya, si pelaku cyberbullying seringkali tidur nyenyak setelah meninggalkan komentar negatif, menganggap itu hanya hiburan malam minggu. Artikel ini adalah cermin retak bagi kita semua. Kita bangga dengan batik, rendang, dan keramahan alamnya. Tapi apakah kita bangga dikenal sebagai bangsa preman online?
Redefinisi Sopan Santun
Sudah saatnya kita meredefinisi makna Sopan Santun. Sopan santun bukan hanya tentang mencium tangan orang tua atau membungkuk di depan pejabat. Sopan santun sejati adalah kemampuan menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain, bahkan ketika tidak ada satu orang pun yang tahu siapa kita.
Ujian integritas seseorang bukanlah saat ia berada di tengah keramaian terang benderang, melainkan saat ia sendirian di kamar gelap, hanya ditemani cahaya layar HP. Apa yang ia ketikkan di sana, itulah karakter aslinya. Mari kita kembalikan “Punten” itu ke dalam papan ketik (keyboard) kita. Ingatlah pepatah baru untuk era ini, “Jempolmu, Harimau-mu.” Jangan sampai harimau itu memangsa saudaramu sendiri, lalu berbalik menerkam martabat bangsamu di mata dunia. Di balik akun yang dihujat, ada manusia yang juga punya ibu, punya rasa takut, dan punya hati yang bisa patah, sama seperti kita semua.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."












