Satu Bukti Ressa Rizky Yakin Jadi Anak Denada, Peristiwa Setelah Lulus SMA Terungkap

Pengakuan Ressa Rizky Rossano sebagai Anak Kandung Denada

Ressa Rizky Rossano, seorang pemuda berusia 24 tahun, mengaku bahwa dirinya adalah anak kandung dari penyanyi ternama Denada Elizabeth Anggia Ayu Tambunan. Ia bahkan melalui proses hukum untuk menuntut Denada atas dugaan penelantaran sejak kecil.

Ressa berasal dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Ia mengajukan gugatan terhadap Denada dengan nilai sebesar Rp7 miliar ke Pengadilan Negeri Banyuwangi. Menurut Ressa, ia merasa ditelantarkan oleh sang penyanyi sejak kecil. Selama ini, yang diketahui Ressa adalah bahwa ia adalah anak dari paman Denada, Dino Rossano Hansa, yang tinggal di Banyuwangi.

Dino Rossano merupakan adik dari ibu Denada, almarhumah Emilia Contessa. Ressa baru mengetahui bahwa dirinya adalah anak kandung Denada setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia sering mendengar selentingan bahwa dirinya bukan anak bibinya Denada, melainkan anak Denada sendiri.

“Hal itu baru ia ketahui secara pasti setelah lulus SMA, ketika diberi tahu oleh seseorang yang sangat ia percayai,” ungkap kuasa hukum Ressa, Firdaus Yuliantono. Ressa pun menanyakan kepada Denada untuk memastikan kebenaran tersebut, tetapi tidak mendapat jawaban seperti yang ia harapkan.

“Ketika ia menanyakan langsung kepada Denada, hal tersebut tidak diakui. Denada tetap mengatakan bahwa ia (Ressa) adalah adiknya, bukan anaknya,” tambah Firdaus.

Selama ini, kebutuhan Ressa dicukupi oleh keluarga besar Denada, terutama almarhumah Emilia. Namun, menurut Firdaus, ekonomi keluarga memburuk setelah Emilia berpulang dan Ressa tak mendapat haknya lagi. Hal itulah yang mendasari Ressa mengajukan gugatan terhadap Denada.

“Setelah Bu Emilia meninggal dunia, kondisi ekonomi keluarga memburuk dan tidak ada pemasukan sama sekali. Akhirnya, anak tersebut mencoba menuntut Denada,” jelas Firdaus.

Perasaan Tidak Adil

Tidak hanya soal ekonomi, Ressa juga merasa tidak adil ketika melihat pemberitaan tentang Denada yang merawat putrinya selama pengobatan penyakit kanker. Ressa merasa sedih karena ia tidak mendapat perlakuan dan hak serupa dari Denada yang diduga ibu kandungnya.

“Makanya, ketika dia sempat melihat beberapa pemberitaan terkait dengan perjuangan Denada itu sebagai ibu yang memperjuangkan penyakit adiknya kemarin itu, ya wajar anak itu menjadi sedih dan bertanya-tanya, ‘Kok kenapa aku tidak mendapatkan perlakuan dan hak yang sama gitu loh’,” tutur Firdaus.

Sidang perdana antara pihak Ressa dan Denada sudah berlangsung, namun sang penyanyi tidak hadir. Pihak Ressa berharap Denada bisa hadir dalam sidang mediasi selanjutnya.

“Mudah-mudahan di sidang selanjutnya nanti sidang kedua besok minggu depan ini dari pihak yang bersangkutan (Denada) juga bisa hadir,” ujar kuasa hukum Ressa lainnya, Andika Meigista Cahya.

Menurut Andika, pihaknya butuh bicara secara langsung dengan Denada agar Ressa bisa mengutarakan keinginannya. “Sehingga kita bisa berbicara pada dasarnya kita tidak ingin mencari sesuatu ya atau berperkara dengan siapapun,” jelasnya.

Pihak Ressa masih membuka kemungkinan masalah ini diselesaikan dengan jalur kekeluargaan. “Tujuan kami kalau memang masih bisa kita bicarakan secara kekeluargaan kenapa tidak,” pungkas Andika.

Respons Denada

Terpisah, kuasa hukum Denada, Muhammad Iqbal, mengatakan kliennya menanggapi secara santai gugatan yang diajukan Ressa Rizky Rossano. Iqbal menjelaskan, dari tiga panggilan yang dilayangkan PN Banyuwangi, hanya satu yang sampai ke Denada dan ia kemudian menunjuk kuasa hukum.

Setelah mengetahui gugatan kepada dirinya, Denada berkonsultasi dan meminta arahan untuk menyepakati jalannya sidang. Namun, Iqbal belum bisa berbicara banyak karena panggilan yang datang kepada Denada tanpa disertai surat gugatan.

“Respons Denada intinya santai, tidak apa-apa,” kata Iqbal. “Kemarin saya hadir di proses mediasi mewakili Ibu Denada dan saya meminta materi surat gugatan saat mediasi, baru dikasih.”

Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *