Demo besar di Iran jadi tempat bentuk, 2 tewas



TEHERAN – Demonstrasi besar-besaran di Iran yang berlangsung selama lima hari telah berubah menjadi bentrokan sengit antara massa dan aparat keamanan. Aksi protes ini, yang merupakan yang terbesar dalam tiga tahun terakhir, menewaskan sedikitnya dua orang dan memicu peningkatan eskalasi kekerasan.

Beberapa kota di Iran melaporkan jalanan mereka berubah menjadi arena baku hantam antara demonstran dan pasukan keamanan. Di Lordegan, sebuah kota di wilayah barat daya Iran, bentrokan mematikan terjadi antara warga dan aparat. Media pemerintah tidak merinci identitas korban, namun laporan dari warga dan video yang beredar di media sosial menunjukkan bahwa sejumlah demonstran tergeletak tak bergerak setelah ditembak oleh aparat.

The Guardian juga menerima gambar dua jenazah dengan luka yang diduga akibat tembakan senapan peluru dan pellet. Meski konteks pengambilan gambar tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen, organisasi Hengaw yang berbasis di Oslo menyatakan bahwa salah satu korban tewas terkena tembakan peluru tajam dan meninggal sebelum sempat dibawa ke fasilitas medis.

Seorang saksi mata yang berbicara kepada The Guardian menggambarkan situasi di lapangan sebagai sangat mencekam. Ia menyebut, “Ini seperti medan perang, dan mereka [pasukan keamanan] menembak tanpa ampun.”

Seruan dari aktivis dan warga

Ebrahim Eshaghi, seorang atlet gulat asal Iran yang tinggal di Jerman dan berasal dari Lordegan, mengatakan bahwa ia terus berkomunikasi dengan para demonstran di kota tersebut. Menurutnya, warga turun ke jalan untuk menuntut hak-hak mereka. “Hari ini, warga kota saya turun ke jalan untuk menuntut hak mereka. Sejauh ini, dua anak muda telah tewas dan banyak lainnya terluka,” ujar Eshaghi.

Ia juga menyerukan perhatian dunia internasional. “Kami meminta seluruh masyarakat dunia untuk menjadi suara kami.” Rekaman video yang beredar luas di media sosial menunjukkan aparat keamanan menggunakan senjata api untuk membubarkan massa. Dalam video tersebut, tampak kerumunan demonstran berlarian di jalanan yang dipenuhi asap, sementara sejumlah orang yang tampak terluka diangkut menjauh dari lokasi bentrokan.

Di tengah meluasnya aksi protes, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa otoritas Iran di Teheran menangkap 30 orang pada Kamis malam atas dugaan pelanggaran ketertiban umum. Penangkapan dilakukan di distrik Malard, bagian barat Teheran. “Setelah operasi terkoordinasi oleh aparat keamanan dan intelijen, 30 orang yang dituduh mengganggu ketertiban umum di distrik Malard, Teheran barat, telah diidentifikasi dan ditangkap tadi malam,” tulis Tasnim.

Dipicu krisis ekonomi

Aksi protes ini awalnya dipicu oleh anjloknya nilai mata uang nasional Iran yang berdampak langsung pada melonjaknya biaya hidup. Demonstrasi pertama kali pecah pada Minggu (28/12/2025) di Teheran, sebelum menyebar ke berbagai kota di seluruh negeri. Para demonstran meneriakkan tuntutan keadilan ekonomi dan mendesak diakhirinya rezim yang berkuasa.

Direktur pelaksana Abdorrahman Boroumand Center for Human Rights in Iran, Roya Boroumand, mengatakan, protes didorong oleh krisis ekonomi yang kian menekan kehidupan masyarakat. “Semakin banyak warga Iran hidup di bawah garis kemiskinan dan tidak memiliki harapan akan adanya perbaikan signifikan dalam kondisi hidup mereka,” ujarnya.

Ia menambahkan, kemarahan publik juga dipicu oleh salah urus negara dan korupsi. “Mereka marah terhadap salah urus dan korupsi negara, serta kebijakan yang menimbulkan penderitaan di dalam negeri,” kata Boroumand. Menurutnya, Pemerintah Iran menganggap setiap protes anti-pemerintah sebagai tindakan ilegal, sehingga tidak ada ruang bagi demonstrasi yang sah. “Itulah sebabnya kita melihat pola ledakan kemarahan rakyat yang berujung pada penindasan berdarah.”

Hartono Hamid

Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *