Opini  

Opini: Eufemisme, Kekuatan Kata, dan Eksploitasi di Dunia Akademik

Peran Bahasa dalam Eksploitasi Akademik

Dalam dunia akademik, terdapat berbagai bentuk praktik yang sering kali tidak terlihat oleh masyarakat luas. Salah satu contohnya adalah eksploitasi dosen terhadap mahasiswa dalam hal riset dan publikasi ilmiah. Dalam beberapa kasus, dosen senior mengklaim karya mahasiswa sebagai hasil karyanya sendiri, bahkan tanpa mencantumkan nama mahasiswa sebagai penulis utama.

Pada tahun 2023, Kompas TV meluncurkan sebuah artikel yang menyoroti kejadian ini, di mana seorang dosen dari Universitas Esa Unggul mengklaim skripsi mahasiswa sebagai karyanya sendiri untuk memperoleh gelar guru besar. Hal serupa juga terjadi pada tahun 2024, ketika Tempo.Co melansir berita tentang dosen dari Universitas Tanjungpura (Untan) yang memanfaatkan mahasiswa untuk kepentingan pribadi, seperti mengerjakan jurnal atau meminta uang untuk publikasi.

Di luar media, masih banyak berita serupa yang menunjukkan bahwa praktik eksploitasi ini tidak hanya terjadi di universitas-universitas besar, tetapi juga bisa terjadi di kampus-kampus di NTT. Namun, karena penyembunyian dengan bahasa yang halus, praktik ini sulit terdeteksi.

Eufemisme dalam Komunikasi Akademik

Praktik eksploitasi sering kali disampaikan melalui eufemisme, yaitu penggunaan kata-kata yang lebih halus untuk menyamarkan maksud yang sebenarnya. Dalam konteks akademik, eufemisme digunakan untuk membungkus tindakan eksploitatif, seperti memaksa mahasiswa menulis jurnal atas nama dosen atau memaksa mereka menempatkan nama dosen dalam karya ilmiah.

Contoh eufemisme yang umum digunakan adalah “ini untuk proyek akhir mata kuliah” alih-alih “ini untuk proyek riset dosen”, atau “ini untuk nilai mata kuliah” alih-alih “ini untuk kinerja dosen”. Penggunaan frasa-frasa seperti ini membuat mahasiswa merasa bahwa keterlibatan mereka dalam publikasi ilmiah adalah bagian dari proses belajar, bukan pemerahan.

Pragmatik dan Relasi Kuasa

Dari sudut pandang pragmatik, frasa-frasa ini menciptakan ilusi kesetaraan, meskipun sebenarnya ada ketimpangan kuasa antara dosen dan mahasiswa. Dosen menggunakan strategi mitigasi untuk menyamarkan ketidaksetaraan dan membungkam kemungkinan perlawanan dari mahasiswa. Dalam konteks ini, mahasiswa cenderung menganggap permintaan dosen sebagai perintah yang harus dipatuhi, bukan sekadar permintaan.

Selain itu, dosen juga menggunakan struktur kalimat pasif untuk mengaburkan peran mahasiswa dalam publikasi. Misalnya, kalimat seperti “artikel sudah dikirim ke jurnal” menghilangkan subjek sebenarnya, yaitu mahasiswa, sehingga dosen menjadi tokoh utama dalam identitas kepengarangan.

Beban Finansial dan Pembalikan Peran

Tidak hanya dalam hal penulisan, mahasiswa juga sering kali diwajibkan menanggung biaya publikasi jurnal. Biaya tinggi pada jurnal open access sering kali dibebankan kepada mahasiswa dengan alasan tugas akhir atau kolaborasi. Selain itu, mahasiswa juga diperas untuk memperoleh hak atas kekayaan intelektual (HAKI), sementara biaya pengurusan HAKI tetap menjadi tanggungan mahasiswa.

Praktik ini menunjukkan pembalikan peran (role inversion), di mana mahasiswa berperan sebagai aktor utama yang bertanggung jawab penuh atas publikasi dan biaya, meskipun sebenarnya dosen adalah yang mendapatkan manfaat. Mahasiswa cenderung diam karena takut tidak lulus mata kuliah tertentu atau tidak mendapatkan layanan administrasi.

Solusi dan Kesadaran Berpikir Kritis

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan intervensi pada kebijakan institusional dan kesadaran berpikir kritis. Di tingkat perguruan tinggi, perlu dibuat regulasi eksplisit mengenai hak dan kontribusi mahasiswa dalam publikasi karya ilmiah, termasuk kejelasan pembagian kerja, pencantuman nama dalam publikasi, dan tanggung jawab finansial.

Di sisi lain, mahasiswa perlu meningkatkan kesadaran berpikir kritis dengan menalar setiap instruksi dosen yang disampaikan lewat bahasa. Mereka perlu memahami bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga alat kekuasaan dan medan ideologis. Dengan demikian, mahasiswa akan lebih mampu mengenali manipulasi wacana dan lebih percaya diri untuk menegosiasikan peran dan haknya.

Penutup

Eksploitasi dalam dunia akademik tidak selalu hadir dalam bentuk kasar. Ia bisa hadir dalam bentuk tutur yang halus, ajakan yang tampak bersahabat, motivasi (dukungan) yang positif, atau bahkan nasihat yang terdengar bijak. Faktanya, lantaran cirinya yang tak langsung, ia menjadi sulit dikenali, dan karena itulah, ia perlu dikaji secara linguistik.

Hanya dengan memahami cara kerja bahasa dalam membentuk relasi kuasa, kita bisa mulai membongkar praktik-praktik tak adil yang telah lama tersembunyi di balik kata-kata. Eufemisme dan kuasa bahasa yang memproduksi eksploitasi di ruang akademik perlu dicegah, bahkan dihapus dari galeri wacana karena hal ini akan mencemari reputasi institusi perguruan tinggi.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *