Tahun 2025, Awal yang Berbeda
Saya merasa agak aneh saat melihat teman-teman Kompasianer ramai menulis tentang resolusi di tahun 2025. Saya justru merasa enggan untuk menetapkan target apapun. Ingatan itu masih jelas di kepala saya, dengan yakin saya memilih tidak menargetkan apapun. Berbeda dengan tahun sebelumnya.
Di bulan Januari, saya masih belum menyadari kekejaman tahun ular kayu menurut penanggalan Cina ini. Dua anak perempuan saya yang beranjak remaja memberikan kado kecil di hari ulang tahun ibunya. Dan terharu lagi, anak tengah sengaja berjualan kue di sekolahnya untuk menabung. Pada tanggal 19 Januari, saya menerima kado sederhana dari pasangan serta dari kedua anak perempuan.
Di penghujung Januari, saya merasa masih cukup stabil. Meskipun hati saya mulai robek menanggung beban luka setahun lamanya, saya masih bisa beraktivitas seperti biasa. Termasuk mendampingi anak bungsu dan teman-temannya outing class mengunjungi Perpustakaan Umum.
Sementara anak-anak sibuk memilih buku-buku yang ingin dibaca, saya dan Bunda wali satri lainnya berjalan kaki menuju warung bubur ayam Banten tak jauh dari gedung Perpustakaan. Setelah sarapan, kami kembali ke area perpustakaan dan menunggu anak-anak selesai. Tak lupa kami menyempatkan foto bersama sebagai kenang-kenangan. Sama sekali tak menyangka tahun 2025 akan menjadi tahun pelepasan, tahun ganti kulit.
Biduk Kami Pecah
Kedatangan ombak, mungkin tidak selalu menggulung apa yang ada di laut. Begitu juga dengan angin, tidak semuanya akan menjelma sebagai badai. Setelah melalui hari-hari yang menyakitkan, saya baru sadar biduk rumah tangga yang saya miliki tidak cukup kokoh. Kayunya lapuk di sana-sini, dan mesin kompas tidak bekerja sebagaimana layaknya.
Akhirnya saya menelan pil pahit, setelah sebelumnya merasa berada di zona nyaman pernikahan. Ketiga anak kami tumbuh sehat, bahkan berprestasi di sekolah. Ayam-ayam peliharaan juga terus berkembang, dari sepasang menjadi puluhan ekor. Demikian juga kucing peliharaan yang saat itu sudah sebanyak sebelas ekor. Sampai suatu ketika biduk kami pecah di bulan April. Sekali lagi, bukan karena dihancurkan batu karang, atau ditenggelamkan gurita laut. Hanya sebuah lubang kecil yang dibiarkan terus dimasuki air bah dari luar.
Allah Itu Dekat
Mungkin di masa kecil Anda juga pernah bermain hujan-hujanan. Tidak takut tubuh kedinginan dan tidak peduli teriakan ibu meninta berhenti. Menikmati guyuran air langit bersama teman-teman memang sangat mengasyikkan. Membuat lupa waktu sampai akhirnya terpeleset dan jatuh.
Saya tidak sedang main hujan-hujanan, tetapi saya jatuh dan basah oleh air mata. Saya menggigil di atas sajadah dengan jiwa terhempas. Ketiga anak perempuan saya tidak mungkin menunggu lama. Mereka butuh biaya sekolah, butuh tumbuh seperti anak-anak lain di luar sana. Mereka butuh ibu yang segera sembuh apapun caranya.
Seorang sahabat pernah berpesan: bangkitlah dengan berjuang, atau bertahan dengan bersabar. Selekasnya saya mengesampingkan perasaan duka. Semua itu memang valid, tetapi saya harus segera mencari jalan untuk keluar dari mimpi buruk.
“Boleh ketemu di warung, Bun? Apakah buka sampai sore?” Demikian pesan WhatsApp yang saya layangkan ke seorang Bunda. Jika dia setuju, saya ingin join dan memulai titik nol dari sini. “Boleh dong…. Datang aja, saya sampai malam kok!” Begitulah, hari demi hari saya lalui seperti anak ikan yang baru belajar berenang. Tidak sepenuhnya berani, namun begitu banyak sahabat yang menulari saya dengan energi positip.
Tidak Akan Melampauimu
Matahari memang tak ingkar janji. Dia terbit tepat waktu, dan terbenam di waktu yang sama. Minggu terus berganti bulan, dan roda kehidupan berputar mengikuti catatan takdir yang ditentukan. Hari ini, orang-orang yang pernah menyelimuti saya dengan segala perhatian, diam tanpa bertanya sedikit pun. Mereka cukup senang melihat saya bisa sedikit tersenyum, yang berarti ada harapan untuk pulih kembali.
Kini saya menjalani hari-hari dengan fokus pada diri sendiri. Berupaya tidak menjadi people pleasure yang terus mengorbankan kebahagiaan demi orang lain. Saya juga memutus pola tidak sehat yang selama ini tidak disadari. Saya mencintai pasangan dengan cara kejar-tarik. Memberikan perhatian yang jatuhnya malah mendominasi.
Ini salah, dan merupakan rasa takut kehilangan yang menyertai sejak kecil, saat ditinggalkan ibu bekerja. Tidak akan melampauimu, apa yang menjadi takdirmu. Saat ini, mantan pasangan saya hadir kembali di tengah-tengah kami. Bukan sebagai orang yang saya cintai, tetapi sebagai manusia yang memenuhi takdirnya.











