Opini  

Tantangan 2026

Resolusi Tahun Baru: Mencari Kebahagiaan yang Sejati

Setiap tahun baru, kita sering kali membuat resolusi. Dari ingin lebih sehat hingga ingin sukses dalam bisnis atau bahkan melamar pasangan hidup. Ada juga yang ingin melanjutkan studi ke jenjang S2 atau S3, menulis buku, atau meningkatkan amal ibadah. Namun, salah satu resolusi yang paling umum adalah menjadi lebih bahagia.

Tapi, apa arti kebahagiaan itu? Apakah kebahagiaan sama dengan senang? Jika kita memiliki uang lebih banyak, rumah mewah, mobil mewah, gelar akademik tinggi, jabatan bergengsi, atau populer, apakah kita akan lebih bahagia?

Banyak selebritas di Indonesia yang kaya dan terkenal, tetapi tidak selalu bahagia. Mereka sering memamerkan kehidupan mereka melalui media sosial, tetapi di balik itu, ada ketidakbahagiaan yang disembunyikan. Beberapa pasangan kerja keras untuk mengejar dunia, sehingga kebersamaan mereka terabaikan. Bahkan, ada pesohor yang suaminya terlibat korupsi dan kini dipenjara. Bagaimana perasaan mereka?

Di Amerika, negara dengan jumlah orang kaya dan tersohor terbanyak, beberapa dari mereka justru tidak bahagia. Banyak dari mereka mengonsumsi obat-obatan dan secara tidak sadar membunuh diri. Contohnya, Marilyn Monroe, Robin Williams, Elvis Presley, Whitney Houston, Michael Jackson, hingga Chester Bennington. Bahkan, seorang pencipta lagu dari grup Nirvana, Kurt Cobain, bunuh diri setelah menjadi pecandu narkoba.

Kecenderungan ini juga terjadi di Korea Selatan. Banyak pesohor K-pop yang bunuh diri, termasuk Jeong Da-bin, Choi Jin-sil, Kim Sae-ron, Kim Jong-hyun, Choi Jin-ri, dan Goo Hara.

Steve Jobs, pendiri Apple, pada tahun 2011 saat menderita kanker pankreas parah, menyadari bahwa semua penghargaan dan kekayaan yang ia miliki menjadi tidak berarti ketika menghadapi kematian. Jim Carrey, aktor komedi Amerika, berkata, “Jika Anda memimpikan kekayaan dan ketenaran, itu bukan jawaban.” Peringatan ini penting bagi kita yang hanya ingin mengejar kekayaan, jabatan, dan ketenaran.

Arthur Brooks, profesor bisnis dari Harvard University, mengingatkan bahwa mengejar uang, kekuasaan, kesenangan, dan ketenaran tidak akan memberikan kebahagiaan yang bertahan lama. Ia menambahkan, “Kebahagiaan sejati adalah proses berkelanjutan dari kebiasaan yang lebih baik, pemahaman diri yang lebih baik, dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain.”

Jika mencari kekayaan secara halal saja tidak otomatis membuat kita bahagia, bagaimana dengan orang yang mendapatkan kekayaan dan jabatan dengan cara tidak benar?

Benjamin List, pemenang Nobel 2021 dalam bidang kimia, pernah berkata, “Letak kebahagiaan bukan pada kepemilikan benda atau hadiah Nobel sekalipun. Kemampuan bernapas dan menikmati pengalaman sehari-hari, seperti minum kopi pagi hari dan menikmati sinar matahari, sangat berharga bagi kebahagiaan.”

Bagi akademisi, yang mengira kesuksesan akademik akan membuatnya bahagia, renungkanlah kata-kata Rabindranath Tagore, pemenang Nobel Sastra asal India: “Pendidikan tertinggi tidak hanya memberi informasi, tetapi membuat hidup kita harmonis dengan semua eksistensi. Hidup Anda akan kerdil jika Anda hanya mencari ambisi duniawi, ambisi akademik sekalipun.”

Akademisi sering menghasilkan karya ilmiah, tetapi hal itu harus dilakukan secara etis. Kecurangan akademik bisa menyebabkan rasa bersalah yang menghantui seumur hidup. Bahkan, meski kita mendapat pengakuan nasional atau internasional, jangan sampai kita sakit atau stres berat atau mengorbankan kebahagiaan dengan pasangan dan anak-anak.

Resolusi terbaik tahun 2026 adalah meraih kebahagiaan sejati.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *