Studi: Belajar Hanya Mengandalkan AI Tidak Efektif Daripada Mencatat



Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam proses belajar. Banyak pelajar dan mahasiswa memanfaatkan AI untuk merangkum materi atau menjawab soal tanpa perlu mencatat atau mengolah informasi sendiri. Namun, apakah penggunaan AI saja sudah cukup efektif untuk memahami dan mengingat materi dalam jangka panjang?

Para ahli menekankan bahwa proses belajar aktif seperti mencatat dan mengolah informasi secara mandiri tetap penting. Sebuah studi yang dilakukan oleh Cambridge University Press & Assessment dan Microsoft Research menunjukkan bahwa aktivitas pembelajaran tradisional seperti membuat catatan masih memiliki peran signifikan dalam pemahaman dan daya ingat siswa.

Studi ini juga menyoroti bahwa model pembelajaran berbasis AI, seperti ChatGPT atau Microsoft Copilot, dapat menjadi alat bantu yang berguna untuk membantu siswa mengklarifikasi, mengeksplorasi, dan mengontekstualisasikan materi mereka. Meski banyak siswa sudah menggunakan AI, penelitian tentang dampaknya pada proses pembelajaran mendasar masih terbatas.



Bagaimana Hasil Temuan Studi Ini?

Studi gabungan ini dimuat dalam jurnal Computers & Education dan menjadi salah satu eksperimen kelas acak pertama yang mengkaji bagaimana penggunaan AI, seperti ChatGPT, memengaruhi pemahaman dan daya ingat siswa saat belajar. Penelitian melibatkan 405 siswa sekolah menengah berusia 14–15 tahun dari tujuh sekolah di berbagai wilayah Inggris.

Para siswa diminta mempelajari dua materi sejarah yang termasuk dalam kurikulum nasional Inggris, yaitu tentang apartheid di Afrika Selatan dan krisis rudal Kuba. Mereka dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama mempelajari satu materi dengan bantuan ChatGPT 3.5 Turbo, sementara materi lainnya dipelajari dengan cara mencatat. Sementara itu, kelompok kedua juga menggunakan AI untuk satu materi, tetapi pada materi lainnya mereka diminta mengombinasikan penggunaan AI dengan membuat catatan.

Dalam setiap skenario penggunaan AI, para siswa terlebih dahulu mendapatkan tutorial singkat dan bebas memanfaatkan alat tersebut sesuai kebutuhan mereka selama belajar. Tiga hari kemudian, tanpa pemberitahuan sebelumnya, para siswa mengikuti tes untuk mengukur sejauh mana mereka memahami dan mengingat isi kedua materi tersebut. Pertanyaan yang diajukan, misalnya tentang peristiwa Pemberontakan Pemuda Soweto pada 1976 dan peran Uni Soviet dalam Krisis Rudal Kuba.

Setelah sesi belajar dan tes selesai, para siswa juga diminta membagikan pendapat mereka tentang pengalaman tersebut, termasuk apakah mereka merasa tertarik dan menikmati proses belajarnya.



Hasil penelitian menunjukkan bahwa membuat catatan—baik secara mandiri maupun dikombinasikan dengan penggunaan AI—lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan AI saja dalam membantu siswa memahami dan mengingat informasi baru. Meski demikian, siswa mengaku menikmati penggunaan AI karena membantu mereka lebih terlibat dan mengeksplorasi topik-topik relevan di luar teks pembelajaran.

Dr. Pia Kreijkes, penulis utama studi ini, menjelaskan bahwa penggunaan chatbot dan alat berbasis AI sudah menjadi bagian dari keseharian siswa, termasuk untuk membantu mengerjakan tugas sekolah. Namun, penelitian tentang dampak penggunaan AI terhadap kemampuan memahami dan mengingat informasi masih tergolong terbatas.

“Studi kami menunjukkan bahwa siswa senang menggunakan chatbot AI, tetapi mencatat lebih efektif untuk hasil pembelajaran. Temuan kami dapat menjadi panduan dalam penggunaan AI untuk pembelajaran,” ujar Dr. Kreijkes.



Ia menekankan pentingnya siswa tetap mencatat secara terpisah saat menggunakan AI, agar tidak sekadar menyalin informasi yang dihasilkan AI. Selain itu, siswa juga perlu mendapatkan pelatihan dan pendampingan tentang cara memanfaatkan AI secara tepat untuk mendukung pembelajaran yang aktif dan bermakna.

Ia juga menambahkan, guru dapat mengambil manfaat dari penggunaan AI oleh siswa. Ke depannya, wawasan dari interaksi siswa dengan AI berpotensi membantu guru memahami area yang membutuhkan dukungan lebih, sehingga materi pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

Dr. Jake Hofman, peneliti utama senior di Microsoft Research, mengaku terkejut melihat banyaknya siswa yang menggunakan AI untuk memperdalam pemahaman mereka. “Mereka menggunakannya untuk bertanya tentang konteks sejarah, mengklarifikasi referensi yang belum dipahami, hingga mengeksplorasi makna dari peristiwa-peristiwa penting,” ujar Dr. Hofman.

Meski begitu, ia menekankan AI tetap bisa bermanfaat sebagai pendamping, dan bukan cara belajar yang paling efektif. “Daripada memandang teknik pembelajaran tradisional, seperti mencatat, dan pendekatan AI generatif yang lebih baru sebagai alternatif yang bersaing, kita seharusnya memandang keduanya sebagai pelengkap,” tutup dia.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *