Pelantikan Prof. Mochtar Lutfi: Antara Harapan dan Spekulasi
Hari ini, Rabu (31/12/2025), di sebuah aula Universitas Tadulako (Untad) menjadi saksi pelantikan Prof. Dr. Mochtar Lutfi, SE., M.Si. sebagai Wakil Direktur Bidang Administrasi dan Keuangan Program Pascasarjana. Di balik seremoni yang khidmat tersebut, terselip sebuah narasi besar yang berdenyut di hati para civitas akademika. Apakah ini sebuah pengabdian baru, ataukah sebuah pagar pembatas bagi perubahan?
Pelantikan ini memicu spekulasi hangat di kalangan pengamat kampus. Ada aroma kental yang mengisyaratkan bahwa penunjukan Prof. Mochtar Lutfi oleh Rektor saat ini, merupakan langkah strategis untuk meredam tensi pemilihan rektor mendatang. Publik bertanya-tanya, apakah jabatan ini adalah “karpet merah” untuk merangkul lawan sanding agar tidak maju bersaing pada 2026?
Namun, bagi mereka yang mengenal sosok Prof. Mochtar Lutfi, spekulasi tersebut terasa hambar. Prof. Mochtar Lutfi bukan sekadar akademisi, ia adalah representasi ketulusan dari tanah Ampana. Dikenal sebagai sosok yang santun dan jauh dari sifat pendendam, ia membawa karakter pemimpin yang mengayomi. Harapan besar dititipkan di pundaknya oleh mereka yang merindukan perubahan di Untad.
Bagi para pendukungnya, sosok Prof. Mochtar adalah oase. Mereka percaya bahwa integritas seorang guru besar tidak akan luruh hanya oleh selembar surat keputusan jabatan wakil direktur. Ada keyakinan mendalam bahwa Mochtar Lutfi tidak akan menggadaikan martabat sebab jabatan bukanlah harga untuk sebuah kompromi politik yang mengkhianati nurani. Ia juga bukan tipe pengejar kursi sehingga menerima jabatan ini, itu semata-mata demi pengabdian, bukan sebagai bentuk “sogokan” untuk mundur dari gelanggang pemilihan rektor.
Suara Hati dari Akar Rumput
“Kami melihat sosok Prof. Mochtar sebagai simbol perubahan. Harapan kami bukan pada jabatan apa yang ia pegang hari ini, tapi pada keberaniannya untuk tetap berdiri tegak bagi kepentingan orang banyak,” ujar salah satu simpatisan yang enggan disebutkan namanya.
Publik berharap Prof. Mochtar Lutfi tetap konsisten. Mengingat rekam jejaknya yang bersih, banyak yang menilai bahwa mundur dari pencalonan rektor hanya karena jabatan struktural akan melukai ribuan harapan yang telah terlanjur disandarkan kepadanya.
Menolak Menjadi Singa yang Dijinakkan
Pelantikan Prof. Dr. Mochtar Lutfi, SE., M.Si. sebagai Wakil Direktur Pascasarjana Universitas Tadulako hari ini (31/12/2025) mungkin terlihat seperti seremoni birokrasi biasa bagi sebagian orang. Namun, bagi mereka yang jeli membaca peta nurani, ini adalah sebuah fragmen drama tentang harga diri.
Di koridor-koridor kampus, bisik-bisik itu tak bisa diredam. Apakah jabatan ini adalah bentuk apresiasi, ataukah sebuah sangkar emas yang sengaja disiapkan agar langkah Prof. Mochtar terhenti menuju kursi Rektor? Spekulasi bahwa ini adalah upaya sistematis untuk mematikan nyala api persaingan terhadap petahana, Prof. Dr. Amar, kian menguat.
Namun, mereka yang melempar spekulasi itu sepertinya lupa satu hal, siapa Mochtar Lutfi sebenarnya? Sebagai Putera dari Touna, Prof. Mochtar dibesarkan dengan falsafah kejujuran yang mengakar. Ia bukanlah tipe pria yang bisa dibeli dengan papan nama di pintu kantor yang baru. Bagi Mochtar, jabatan adalah sebuah pengabdian, bukan alat barter untuk membungkam aspirasi perubahan yang selama ini ia suarakan.
“Integritas tidak memiliki label harga. Jika ada yang menganggap sebuah jabatan bisa membungkam langkah kaki menuju perubahan, maka mereka belum mengenal kedalaman hati seorang Mochtar Lutfi”, kata salah seorang yang menaruh banyak harapan.
Kesetiaan yang Tak Terbeli
Keteguhan Prof. Mochtar justru diuji di titik ini. Banyak yang meyakini bahwa Mochtar Lutfi tidak akan membiarkan martabatnya digadaikan demi posisi Wakil Direktur. Bagi seorang Mochtar Lutfi, mengkhianati harapan pendukungnya demi sebuah “sogokan jabatan” adalah bentuk bunuh diri moral yang paling rendah, dan itu bukanlah karakternya.
Ia dikenal bukan sebagai sosok pendendam, melainkan sosok yang pemaaf namun tetap kokoh layaknya karang di lautan Ampana. Ia mampu merangkul semua pihak, tetapi tidak bisa didikte oleh kepentingan yang ingin mengecilkan perannya hanya dalam lingkup Pascasarjana.
Pesan Tak Terucap untuk Universitas Tadulako
Catatan ini menjadi pengingat bagi orang-orang yang mudah “dibeli” dengan berbagai bentuk. Mulai dari perjalanan dinas, raket tenis, hingga jenis kesenangan sesaat lainnya. Bahwa bagi Mochtar Lutfi tetaplah Mochtar Lutfi yang dulu. Langkahnya menduduki kursi Wadir hari ini bukanlah sinyal “mundur teratur”, melainkan bukti bahwa ia bisa mengabdi di mana saja tanpa harus kehilangan kompas moralnya, harap salah seorang pendukungnya.
Para pendukungnya tidak perlu cemas. Seorang petarung sejati tahu kapan harus menerima amanah dan kapan harus tetap berdiri tegak untuk menjemput takdir yang lebih besar. Jika hari ini ia dilantik untuk mengurus administrasi, esok atau lusa, nurani warga Universitas Tadulako mungkin akan memanggilnya untuk mengurus masa depan universitas ini secara utuh.
Testimoni yang Menggetarkan
Di tengah hiruk-pikuk pelantikan, seorang alumni senior yang juga tokoh pemuda dari Ampana, yang kita sebut saja sebagai saksi perjalanan Mochtar Lutfi, berujar dengan mata berkaca-kaca:
“Kami melihat Prof. Mochtar bukan sebagai pencari kerja, tapi sebagai pembawa harapan. Kalau hari ini beliau dilantik jadi Wadir, kami tidak takut beliau akan berubah. Kami hanya ingin berpesan: ‘Prof, jangan biarkan kursi empuk itu membuatmu lupa pada getaran suara kami di bawah. Jangan biarkan jabatan itu menjadi harganya sebuah mundurnya langkah. Sebab bagi kami, integritas Prof adalah satu-satunya barang mewah yang tersisa di kampus ini’.”
Seorang dosen muda juga menambahkan dengan nada yang tak kalah getir dalam mengungkapkan isi hatinya.
“Beliau adalah sosok yang tidak punya bakat untuk mendendam, tapi beliau punya bakat luar biasa untuk tetap teguh. Jika jabatan ini dimaksudkan sebagai penawar agar beliau berhenti bertarung di Pilrek, maka mereka yang memberinya jabatan salah menilai orang. Prof. Mochtar tidak akan menukar kehormatan Putera Ampana hanya demi fasilitas kantor.”
Bagi seorang Mochtar Lutfi, mengkhianati harapan ribuan orang yang menginginkan wajah baru Untad hanya demi “kenyamanan pribadi” adalah bentuk pengkhianatan terhadap harkat dan martabatnya sendiri. Ia tahu betul, sekali ia melangkah mundur karena disogok jabatan, maka runtuhlah seluruh kewibawaan yang ia bangun puluhan tahun. Selamat atas Jabatan barunya Prof, tapi jangan khianati kepercayaan dan harapan orang banyak.












