Opini  

Nyaman Sendiri Bukan Kebiasaan

Kadang-kadang, hal yang paling sederhana justru menjadi tantangan terberat. Bagi saya, tidak pernah pacaran seolah menjadi keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Namun, segalanya berubah ketika orang-orang mulai bertanya, “Kapan kamu menikah?” Saat itu, saya merasa nyaman dengan hidup sendiri, tapi ternyata usia yang semakin matang membawa tuntutan untuk mulai memikirkan keluarga.

Saya jujur merasa ini seperti sebuah misi baru yang harus dikerjakan: mencari pasangan. Masalahnya, pengalaman saya tentang hubungan dan interaksi romantis dengan lawan jenis sangat minim. Akibatnya, saya merasa seperti seorang remaja yang baru saja menginjak masa puber.

Pikiran pertama yang muncul adalah rasa tidak percaya diri (insecure). Saya sudah berusaha mengabaikan teman-teman yang sering mengejek berat badan saya, tetapi ketika mendapat “misi” untuk mencari pasangan, rasa insecure ini malah muncul. Saya mulai bertanya-tanya apa saja yang membuat saya layak disukai oleh lawan jenis. Dalam pikiran saya, ada tiga aspek yang dianggap minimum: 1) Penampilan yang baik, 2) Keuangan yang stabil, dan 3) Cara memperlakukan pasangan. Tiga hal ini saya anggap sebagai dasar, tapi sayangnya, saya merasa tidak cukup bahkan di tingkat minimum ini.

Sejauh ini, kerabat selalu berusaha mengenalkan saya pada wanita. Pada suatu kesempatan, saya akhirnya mengambil langkah pertama untuk PDKT. Banyak hal yang saya pertanyakan, meskipun saya tidak terlalu tertarik pada si cewe tersebut. Saya takut terkesan arogan karena penampilan saya bukanlah yang menarik. Oleh karena itu, saya ikuti ajakan mereka hingga bertemu di rumah kerabat.

Saya merasa momen itu seperti doa yang selama ini saya minta. Jadi, saya putuskan untuk menjalani proses ini terlebih dahulu. Karena jika tidak, saya khawatir tidak memiliki keinginan untuk mendekati wanita secara aktif. Meski akhirnya tidak berlanjut, pengalaman ini tetap bermanfaat bagi saya.

Mengenai tiga aspek minimum yang saya sebutkan, sebenarnya bisa diartikan lebih lembut lagi. Yang saya maksud dengan tampan adalah penampilan yang rapi dan bersih. Sementara itu, aspek lainnya masih abu-abu.

Saya merasa insecure karena postur tubuh saya agak gemuk. Setiap kali difoto, saya selalu terlihat lebih besar dari orang lain. Saya merasa tidak layak dicintai secara logis. Belum lagi masalah finansial yang tidak stabil, dan saya juga tidak tahu cara berinteraksi dengan pasangan yang baik.

Jika dipikir-pikir lagi, alasan saya merasa tidak layak dicintai adalah karena saya merasa selalu harus mengubah diri sendiri agar layak disukai. Apakah boleh saya tidak perlu mengubah diri saya sendiri agar layak disukai? Seringkali saya iri pada orang-orang yang gemuk tapi sudah menikah dan hidup normal. Saya merasa kehilangan mental untuk tidak merendahkan diri sendiri demi memenuhi standar sosial.

Dari awal, saya suka hidup sendiri, sehingga upaya-upaya untuk PDKT terasa tidak alami. Kadang saya lebih suka kesendirian. Seringkali, chatting atau berbicara dengan orang lain terasa aneh karena saya pendiam dan jarang terlibat dalam obrolan panjang.

Selain itu, dalam bermasyarakat, ada banyak keharusan seperti datang ke tahlilan, menghadiri undangan, atau kerja bakti. Saya merasa malas melakukan semua itu. Saya jarang bergabung dengan tetangga, karena saya merasa orang tua saya yang lebih dekat dengan mereka. Jika mereka dekat, maka otomatis mereka akan menyapa anaknya juga (termasuk saya), tapi orang tua saya bekerja sebagai TKI, sedangkan saya tinggal bersama nenek yang sakit dan jarang keluar rumah.

Akibatnya, saya agak jauh dari tetangga dan terlihat jarang keluar rumah. Meskipun begitu, saya bekerja dari jam 7.30 pagi hingga 7.00 malam, hanya libur di akhir pekan. Jadi, sebenarnya tidak ada waktu untuk bermedia sosial jika ingin menghindar.

Ada satu hal yang terus muncul dari ketakutan dan dilema saya: apakah saya benar-benar perlu berubah agar meningkatkan peluang untuk disukai?

Masalah lain yang membuat saya terus berpikir adalah: apakah saya memang perlu berubah karena sifat dan karakter saya yang terkesan tidak peduli pada orang lain?

Saya bisa membela diri bahwa saya tidak suka basa-basi. Lebih baik saya tinggal di lingkungan baru yang tidak ada yang mengenal saya. Saya merasa mulai dari nol dan terasa lebih mudah daripada memperbaiki masalah yang ada. Padahal, saya merasa itu hanya masalah waktu sampai saya mengulangi kesalahan yang sama.

Bermasyarakat dengan baik itu membutuhkan sedikit keterbukaan, namun masalahnya adalah hidup di tempat tinggal masa kecil saya, terutama di tempat yang banyak orang kenal, seringkali membuat saya merasa dihakimi.

Ini seperti saat saya kuliah di luar kota, saya merasa nyaman berlari pagi dan sore. Tapi di sini, saya merasa tidak nyaman karena aktivitas ini tergolong jarang (tidak banyak orang yang melakukannya). Saya takut bertemu orang yang tidak saya kenal, meskipun kita sama-sama warga setempat. Saya lama tidak memiliki lingkaran pertemanan, jadi saya merasa nyaman sendiri. Tapi entah kenapa, saya merasa ada keharusan untuk menyapa (negor).

Namun, saya merasa tidak dekat dan takut diabaikan. Karena tak ingin merasakan perasaan yang tidak enak, saya justru menghindari situasi tersebut. Ini adalah contoh ketidaknyamanan yang dampaknya negatif karena menghalangi tujuan saya untuk melakukan sesuatu.

Jadi intinya, jangan bicara soal rencana menikah, bahkan berlaku sebagai masyarakat normal pun saya merasa malu-malu kucing.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *