ADHD dan Waktu yang Berbeda Setiap Hari

Persepsi Waktu yang Berbeda



Waktu sering kali dianggap sebagai sesuatu yang pasti dan adil. Jam berdetak sama bagi semua orang, kalender berganti tanpa memilih siapa pun. Namun, pengalaman hidup saya sebagai seseorang dengan disleksia dan ADHD mengajarkan bahwa waktu tidak selalu terasa sama bagi setiap manusia. Ia bukan sekadar angka, melainkan pengalaman psikologis yang sangat subjektif. Bagi sebagian orang, waktu adalah garis lurus yang rapi. Namun bagi saya dan banyak individu neurodivergen lainnya, waktu adalah ruang yang melompat, kabur, dan kadang terasa tak nyata.

Saya hidup dengan konsep waktu yang sederhana sekaligus rumit: sekarang dan bukan sekarang. Apa yang terjadi hari ini terasa sangat nyata, mendesak, dan menyita seluruh energi. Namun apa pun yang berada di luar “sekarang” besok, minggu depan, atau bulan depan sering kali terasa abstrak, jauh, dan tidak memiliki bobot emosional. Inilah yang oleh para ahli disebut sebagai time blindness, salah satu karakteristik utama ADHD. Menurut Russell A. Barkley, pakar ADHD dunia, ADHD bukan sekadar gangguan perhatian, melainkan gangguan fungsi eksekutif otak, termasuk kemampuan mengelola waktu, merencanakan masa depan, dan mengingat konsekuensi jangka panjang.

Dalam kehidupan nyata, time blindness bukan konsep akademik yang kering. Ia hadir dalam bentuk tugas yang tak kunjung dimulai, janji yang terlupa, tenggat yang terasa tiba-tiba, dan kelelahan mental karena terus-menerus merasa “tertinggal”. Saya mengalaminya sejak kecil. Di sekolah, saya sering dicap malas, tidak disiplin, bahkan tidak menghargai waktu. Tidak ada yang bertanya bagaimana otak saya memproses waktu. Yang ada hanya tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan sistem yang tidak dirancang untuk saya.

Disleksia membuat pengalaman ini semakin kompleks. Banyak penelitian, termasuk dari British Dyslexia Association, menyebutkan bahwa disleksia tidak hanya berkaitan dengan kesulitan membaca dan menulis, tetapi juga dengan pemrosesan urutan, memori kerja, dan organisasi waktu. Mengingat jadwal, mengurutkan aktivitas, atau memperkirakan durasi menjadi tantangan nyata. Ketika disleksia dan ADHD bertemu dalam satu tubuh, waktu bukan hanya terasa cepat atau lambat, ia sering kali terasa membingungkan dan melelahkan.

Pengalaman lapangan saya sebagai pendidik anak berkebutuhan khusus mempertegas hal ini. Di berbagai daerah, saya bertemu anak-anak dengan ADHD yang dimarahi karena terlambat, dianggap tidak serius karena lupa tugas, atau dilabeli “nakal” karena sulit duduk tenang mengikuti ritme kelas. Padahal ketika kami mengubah pendekatan menggunakan pengingat visual, jadwal konkret, pembagian tugas menjadi langkah kecil, dan pendampingan yang konsisten perubahan terjadi. Anak-anak yang sebelumnya “bermasalah” mulai menunjukkan potensi, rasa percaya diri, dan ketenangan. Masalahnya bukan pada anak, tetapi pada sistem yang gagal memahami cara kerja otak mereka.

Sayangnya, budaya kita masih menjadikan waktu sebagai ukuran moral. Tepat waktu dianggap tanda tanggung jawab, sementara terlambat sering disamakan dengan tidak peduli. Dalam konteks ini, penyandang ADHD sering kali tumbuh dengan rasa bersalah kronis. Kami merasa selalu salah, selalu kurang, selalu gagal memenuhi standar yang seolah tak pernah ramah. Padahal yang kami butuhkan bukan penghakiman, melainkan pemahaman dan strategi yang tepat.

Memahami ADHD dan konsep waktu bukan berarti menghilangkan aturan atau menurunkan standar. Ini tentang menciptakan sistem yang lebih adil dan manusiawi. Dunia yang inklusif bukan dunia tanpa struktur, tetapi dunia yang fleksibel yang mengakui bahwa otak manusia tidak diciptakan dengan satu pola. Ada yang kuat di perencanaan jangka panjang, ada yang unggul di momen sekarang. Keduanya memiliki nilai yang sama.

Saya belajar berdamai dengan waktu bukan dengan memaksakan diri menjadi “normal”, tetapi dengan mengenali cara kerja otak saya sendiri. Saya belajar membangun penopang eksternal: alarm, catatan visual, pendampingan, dan ritme hidup yang lebih realistis. Lebih dari itu, saya belajar memaafkan diri sendiri. Karena hidup dengan ADHD bukan tentang melawan waktu, melainkan belajar menavigasinya dengan cara yang jujur dan berbelas kasih.

Jika kita ingin membangun pendidikan dan masyarakat yang benar-benar inklusif, maka kita perlu berhenti melihat waktu hanya dari sudut pandang jam dinding. Kita perlu mulai mendengarkan cerita-cerita dari mereka yang hidup dengan pengalaman waktu yang berbeda. Di sanalah empati tumbuh, dan di sanalah perubahan dimulai.

“Aku tidak pernah tertinggal dari waktu. Aku hanya berjalan di jalur yang berbeda dan di jalur itu, aku belajar menjadi manusia seutuhnya.” Imam Setiawan

Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *