Membawa NTB Keluar dari Kemiskinan Melalui Desa Mandiri

Program Desa Berdaya: Gerakan untuk Membangun NTB dari Bawah

Program Desa Berdaya yang diinisiasi oleh pasangan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri (Iqbal-Dinda) bertujuan untuk memberdayakan masyarakat mulai dari tingkat desa. Gerakan ini diluncurkan pada 16 Desember, sehari sebelum peringatan hari ulang tahun ke-67 Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Tujuannya adalah memastikan bahwa tidak ada satupun orang yang tertinggal dalam proses pembangunan.

Sejak masa kampanye, Iqbal-Dinda sering menyampaikan pesan “No one life behind” atau tidak ada satupun orang yang tertinggal. Hal ini menjadi dasar dari program Desa Berdaya yang ingin membangun kembali desa-desa dengan fokus pada pengentasan kemiskinan ekstrem.

Pemetaan Wilayah Sasaran

Dalam tahap pertama, program ini akan fokus pada 40 desa dengan status miskin ekstrem dari total 106 desa. Targetnya adalah menurunkan angka kemiskinan ekstrem hingga tahun 2029. Adapun wilayah sasaran tersebar di berbagai kabupaten/kota di NTB, antara lain:

  • Kota Mataram: Jempong Baru, Mandalika, Bintaro, dan Pagutan Timur.
  • Lombok Utara: Senaru, Malaka, Gumantar, Bayan, dan Sigar Penjalin.
  • Lombok Barat: Buwun Mas, Taman Ayu, Batu Mekar, Batu Putih, dan Mekar Sari.
  • Lombok Tengah: Barabali, Banyu Urip, Bangket Parak, Pemepek, Ungge, Kelebuh, dan Mangkung.
  • Lombok Timur: Tetebatu, Pringgabaya Utara, Sakra, Pijot, Sembalun Bumbung, Pesanggrahan, dan Lendang Nangka Utara.
  • Sumbawa: Pada Suka, Labuan Aji, Motong, dan Lape.
  • KSB: Telaga Bertong dan Seteluk Tengah.
  • Dompu: Sori Tatanga dan Saneo.
  • Bima: Nipa dan Mbawa.
  • Kota Bima: Jatibaru dan Ntobo.

Pendampingan dan Verifikasi Data

Untuk memastikan keberhasilan program, Pemerintah Provinsi NTB telah merekrut ribuan pendamping desa tranformatif. Mereka akan melakukan analisis terhadap masalah yang ada di masyarakat serta memverifikasi data secara langsung di lapangan. Hal ini penting karena sasaran program berasal dari data Badan Pusat Statistik (BPS), sehingga diperlukan validasi agar program tepat sasaran.

Gubernur Iqbal menegaskan bahwa gerakan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan seluruh masyarakat. Oleh karena itu, ia lebih suka menyebutnya sebagai “gerakan bersama” daripada “program”.

Optimisme Akademisi

Akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram (Unram), Iwan Harsono, optimis bahwa program Desa Berdaya dapat membawa NTB keluar dari status provinsi termiskin. Menurutnya, ada tiga faktor utama yang membuatnya yakin:

  1. Program berbasis data – Memastikan bahwa sasaran benar-benar sesuai dengan kondisi nyata.
  2. Adanya pendampingan – Agar program bisa dijalankan secara efektif.
  3. Desain graduasi – Mengubah masyarakat miskin menjadi mandiri melalui pendampingan yang tepat.

Selain itu, Iwan juga menyebut rencana pembangunan bypass port to port Lembar-Kayangan sebagai harapan besar bagi pertumbuhan ekonomi NTB. Proyek ini diharapkan dapat memangkas waktu perjalanan dari empat jam menjadi 1,5 hingga dua jam. Namun, ia mengingatkan agar setiap ruas jalan yang melintasi lahan persawahan disertai penggantian sawah yang cukup, agar produksi pertanian tidak terganggu.

Kedepan, Semua Agenda Berjalan Sesuai Rencana

Jika semua langkah ini berjalan baik, maka triple agenda Iqbal-Dinda – pengentasan kemiskinan, pariwisata mendunia, dan ketahanan pangan – akan berjalan sesuai rencana. Dengan kombinasi program Desa Berdaya, pembangunan infrastruktur, dan pendampingan masyarakat, NTB memiliki peluang besar untuk berkembang secara berkelanjutan.


Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *