Hanya pada kekasih? Gaslighting juga terjadi di keluarga dan pertemanan

Apa Itu Gaslighting dan Bagaimana Bisa Terjadi di Berbagai Aspek Kehidupan?

Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis yang dapat membuat korban meragukan persepsi, ingatan, atau penilaian diri mereka sendiri terhadap sesuatu hingga membuat mereka merasa bersalah. Perilaku ini bisa membuat korban kehilangan percaya diri dan bahkan bergantung secara emosional pada pelaku.

Meski sering dianggap hanya terjadi dalam hubungan romantis, gaslighting sebenarnya bisa muncul dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pertemanan dan keluarga. Menurut Fitri Jayanthi, M.Psi., pendiri Cup of Stories, gaslighting tidak hanya terjadi dalam hubungan romantis, tetapi juga bisa ditemui di berbagai situasi sosial.

Contoh gaslighting yang umum terjadi dalam hubungan pertemanan adalah ketika seseorang mengatakan lelucon yang tidak dianggap lucu oleh orang lain. Kalimat seperti, “Kamu tuh terlalu sensitif, padahal kan aku cuma bercanda,” merupakan contoh dari perilaku ini. Di keluarga, gaslighting bisa terjadi melalui pernyataan seperti, “Kok kamu lupa sih, kan sudah janji untuk pergi ke sini. Kan aku sudah bilangin berkali-kali dari kemarin.”

Perilaku Komunikasi yang Bisa Mengakibatkan Gaslighting

Adelia Octavia Siswoyo, M.Psi., psikolog yang berpraktik di lembaga Jaga Batin dan Pusat Penguatan Karakter & Konseling (P2K2) Universitas Padjadjaran, menambahkan bahwa gaslighting bisa terjadi di luar hubungan romantis karena itu adalah perilaku komunikasi. Perilaku komunikasi adalah cara seseorang berbicara dengan orang lain, dan ini bisa terjadi dalam berbagai relasi, termasuk antara anggota keluarga dan teman.

Dalam keluarga, gaslighting bisa terjadi antara ibu dan anak, ayah dan anak, atau antara saudara. Namun, tidak jarang gaslighting juga bisa terjadi di ranah pekerjaan, baik antara atasan dan bawahan maupun antara rekan kerja.

Mengapa Gaslighting Terjadi?

Penyebab gaslighting terjadi adalah agar orang lain mengambil tanggung jawab atas permasalahan yang sedang terjadi. Walaupun sebenarnya masalah tersebut ada karena si pelaku. Melalui kalimat yang tidak sesuai fakta, pelaku membuat korban mempertanyakan pengalaman dan persepsi mereka.

Akibatnya, korban mengalami ketidakamanan yang mendalam, penurunan rasa percaya diri, dan mulai bergantung pada pelaku untuk mengonfirmasi persepsi mereka sendiri. Fitri menjelaskan bahwa di situlah akhirnya si pelaku jadi kayak “mengontrol” situasi. Ibaratnya, “cuci tangan” karena, “Ah, bukan gue yang salah kok, kamu yang salah.”

Selain untuk melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain demi terlepas dari beban atas tanggung jawab itu, Adelia mengatakan, seseorang berperilaku seperti itu karena tidak ingin merasa tidak nyaman. Mereka tidak ingin merasa tidak nyaman atas kesalahan yang mereka lakukan. Jadi untuk bisa tetap merasa nyaman walaupun melakukan kesalahan, mereka “secara tidak langsung” melimpahkan atau memutarbalikkan kesalahan ke lawan bicara.

Gaslighting, Guilt Tripping, dan Playing Victim: Semua Bentuk Manipulasi

Fitri menjelaskan bahwa baik gaslighting, serta perilaku seperti guilt tripping dan playing victim, adalah perilaku yang berada di bawah payung manipulasi. Ketiganya memiliki benang merah berupa perilaku untuk memengaruhi orang lain. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan. Mengapa seseorang memiliki sifat manipulatif?

Pola Asuh yang Membentuk Sifat Manipulatif

Salah satu penyebab seseorang memiliki sifat manipulatif yang bisa membuat mereka melakukan gaslighting, guilt tripping, atau playing victim, adalah pola asuh. Misalnya karena ada perilaku kompetitif di dalam keluarga, seperti sibling rivalry atau persaingan kakak-adik.

Keluarga yang “memelihara” persaingan antara kakak dan adik bisa membuat salah satu pihak terbiasa dengan tidak mendapatkan perhatian atau sesuatu yang diinginkan. Alhasil, ia mengembangkan perilaku manipulatif di luar lingkup keluarga untuk mendapatkan apa yang tidak bisa didapatkan dari keluarganya.

Misalnya ketika dia ingin diterima di dalam suatu kelompok tertentu, dan ternyata dia sulit untuk diterima, dia berusaha untuk memainkan kata-kata untuk memanipulasi, sehingga dia bisa diterima di kelompok tersebut.

Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Sifat Manipulatif

Cara manusia berperilaku sangat dipengaruhi dari apa yang dilihat dan dipelajari dari lingkungan sekitar, salah satunya lingkungan pekerjaan. Perihal manipulatif, tidak dapat dipungkiri bahwa sifat ini bisa saja “dipelajari” oleh seseorang yang pekerjaannya berkaitan dengan “memanipulasi” orang lain, alias pekerjaan yang membutuhkan keahlian untuk memengaruhi orang lain.

[Dengan tugas dalam pekerjaan yang seperti itu, otomatis kita juga mengembangkan diri untuk memiliki trik-trik tentang bagaimana cara untuk memengaruhi orang. Itu tanpa sadar berkembang menjadi sifat manipulatif di dalam diri kita], tutur Fitri.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *