Mengapa Banyak Orang Merasa Depresi Setelah Berolahraga?
Bagi banyak orang, olahraga sering dikaitkan dengan rasa segar, tubuh yang bugar, dan suasana hati yang lebih baik. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Ada sebagian orang yang justru merasa murung atau bahkan depresi setelah berolahraga. Ini bisa terjadi karena beberapa faktor yang berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental.
Ketika seseorang melakukan latihan, bukannya merasa puas, mereka justru merasa hampa dan sedih. Hal ini tentu menimbulkan kebingungan karena ekspektasi awalnya adalah perasaan bahagia. Fenomena seperti ini nyata dan memiliki penjelasan medis maupun psikologis. Faktor biologis, seperti perubahan hormon dan kelelahan fisik, bisa berperan. Begitu pula dengan faktor psikologis, seperti tekanan untuk mencapai target tertentu atau perasaan tidak cukup baik dibandingkan orang lain.
Penyebab Kesenangan yang Tidak Terpenuhi
Ada beberapa penyebab mengapa seseorang bisa merasa sedih atau depresi setelah berolahraga. Kesehatan fisik dan mental saling berkaitan, sehingga apa yang memengaruhi tubuh juga bisa memengaruhi pikiran dan suasana hati. Beberapa faktor utama meliputi:
- Kurangnya asupan makanan
Asupan makanan yang cukup dan tepat sangat penting bagi tubuh sebelum dan sesudah olahraga. Saat seseorang berolahraga, tubuh menghabiskan banyak energi, dan nutrisi yang tersimpan mulai digunakan untuk mendukung aktivitas fisik tersebut. Jika asupan makanan tidak mencukupi, tubuh tidak akan memiliki bahan bakar yang cukup untuk menjalani dan memulihkan diri dari aktivitas fisik. Kekurangan nutrisi, terutama karbohidrat dan protein, dapat menyebabkan kadar gula darah rendah, yang kemudian bisa memengaruhi suasana hati.
Untuk menghindari hal ini, kamu bisa merencanakan latihan berikutnya dan memastikan kamu mengonsumsi makanan yang cukup sebelum latihan dimulai. Namun, hindari makanan yang terlalu berat, karena bisa membuat kamu mual atau kram saat berolahraga.
- Ekspektasi berlebihan
Banyak orang memulai rutinitas olahraga dengan harapan besar, baik itu penurunan berat badan, peningkatan kebugaran, atau perasaan bahagia. Namun, ketika hasil yang diharapkan tidak segera tercapai atau hasilnya tidak sesuai dengan yang dibayangkan, kekecewaan bisa muncul. Harapan yang terlalu tinggi bisa menyebabkan stres emosional, yang berkontribusi terhadap perasaan tidak puas atau depresi.
Misalnya, kamu mungkin berharap bisa menurunkan berat badan dalam waktu singkat atau mencapai penampilan tubuh tertentu setelah beberapa minggu berolahraga. Ketika itu tidak terjadi, perasaan gagal dan frustrasi bisa berkembang, sehingga menimbulkan perasaan depresi.
- Stres berlebihan
Aktivitas fisik bisa menjadi cara yang sehat untuk mengurangi tingkat stres atau dampak stres pada tubuh dan pikiran. Namun, untuk kasus stres berat atau kronis, fungsi mental dan fisik mungkin akan sangat menghabiskan energi. Olahraga bisa menguras sumber energi tubuh kamu yang sudah terbatas.
Stres bisa meningkatkan risiko depresi dan memperburuk gejala depresi, termasuk perubahan siklus tidur, peningkatan kelelahan, peningkatan iritabilitas, dan emosi negatif yang meningkat, seperti kecemasan atau kesedihan. Jika kamu sedang mengalami stres berat dan menyadari bahwa olahraga justru memperburuk stres, kamu mungkin ingin beralih sementara dari latihan intensitas tinggi ke pilihan yang lebih santai. Contohnya yoga, taichi, qigong, jalan kaki, atau peregangan santai.
-
Latihan yang berlebihan
Latihan yang berlebihan atau overexertion dapat memiliki dampak negatif pada tubuh dan pikiran. Ketika seseorang berolahraga terlalu keras atau terlalu sering tanpa memberikan tubuh waktu untuk pulih, hal ini dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental. Kondisi ini dikenal sebagai “overtraining syndrome,” yang bisa menyebabkan berbagai gejala termasuk depresi, kelelahan kronis, dan gangguan tidur. Olahraga yang berlebihan juga dapat menguras sumber daya energi tubuh. -
Kondisi kesehatan mental yang sudah ada

Bagi mereka yang sudah memiliki kondisi kesehatan mental seperti depresi atau kecemasan, olahraga bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, olahraga dapat membantu mengelola gejala, tetapi di sisi lain bisa memperburuk kondisi jika tidak dilakukan dengan bijak. Seseorang dengan gangguan mental yang sudah ada mungkin lebih rentan terhadap fluktuasi suasana hati setelah berolahraga, terutama jika mereka sudah mengalami tekanan atau ketidakstabilan emosional.
Selain itu, jika olahraga dilakukan sebagai pelarian dari masalah mental tanpa pengawasan, ini bisa memicu perasaan depresi setelah selesai berolahraga. Dalam kasus ini, penting untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental sebelum memulai atau mengubah rutinitas olahraga.












