Menulis buku adalah sebuah “lompatan” dari tulisan-tulisan kecil seperti artikel. Ada yang melompat dari segi keluasan dan kedalaman sehingga buku memberi ruang ekspresi tak bertepi. Akan tetapi, ada juga yang melompat untuk sekadar mengumpulkan artikel-artikel yang terserak lalu dijahit kembali menjadi sebuah buku.
Istilah Taufik Abdullah (sejarawan dan mantan Kepala LIPI), buku kumpulan tulisan itu adalah book is not a book. Namun, pembaca buku kumpulan tulisan di Indonesia juga banyak sehingga buku-buku seperti itu tetap laku. Bahkan, buku yang merupakan kumpulan status di media sosial juga ada yang membelinya.
Melahirkan buku pertama bagi seorang penulis adalah momentum. Ada yang kelahirannya normal, ada pula kelahirannya tidak normal sehingga kemudian mucul cerita di balik sebuah buku. Narasi yang sering digunakan sebagai bagian dari promosi buku.
Buku pertama itu pun ada yang bernasib mujur dan ada pula bernasib hanya terbujur di rak buku lalu masuk gudang siap diobral. Buku yang tak laku tidak serta merta membuat penulisnya kapok menulis buku. Penulis lebih kapok menulis buku (mungkin) karena bukunya dibajak atau bukunya laku, tetapi royaltinya tidak mampu membuat ia pergi umrah, apalagi naik haji.
Pertanyaan yang kerap dilontarkan kepada saya sebagai penulis buku seperti ini: “Apa buku pertama yang Pak Bambang Tulis?”
Penulis buku selalu ingat buku pertama yang dilahirkannya. Saya mungkin termasuk penulis beruntung karena buku pertama lahir dari pesanan penerbit—tanpa bersusah payah saya mengajukannya. Saya menulis buku pelajaran bahasa Indonesia untuk SMP dan SMA pada tahun 1995 yang dipesan oleh Penerbit Granesia (Grup Pikiran Rakyat). Itulah debut pertama sebagai penulis buku—bagi banyak orang mungkin tidak terlalu istimewa, tetapi bagi saya tetap istimewa.
Hal yang istimewa itulah kali pertama saya mendapatkan honor jutaan rupiah. Sedikit dapat membeli kemewahan yang tidak pernah saya alami saat kuliah. Saya juga bukan seorang guru yang malah dipercaya untuk menulis buku pelajaran.
Tujuan pragmatis menulis buku memang salah satunya memperoleh pendapatan, tetapi di Indonesia sering kali industri perbukuan itu digambarkan tidak selalu menggembirakan. Royalti kecil dari penerbit plus aktivitas pembajakan buku yang ugal-ugalan sering kali membuat para penulis buku enggan menulis buku lagi.
Walaupun demikian, tetap saja ada yang menulis buku dan tetap saja ada penerbit buku karena menulis dan menerbitkan buku bukan semata soal pendapatan. Bahkan, ada yang sudah menulis malah rela membayar demi bukunya terbit.
Debut Buku Ferry Irwandi
Ferry Irwandi, dengan segala popularitasnya di jagat maya, kontroversinya di mata pemerintah, dan pemikirannya yang bernas sekaligus lugas, pun akhirnya menulis sebuah buku. Saya tak perlu menjelaskan siapa Ferry Irwandi, engkau tinggal mengetikkan namanya di mesin pencari atau mesin AI. Sosok Ferry yang berkumis dan sedikit berewok akan hadir di hadapan engkau.
Di IG @irwandiferry, ia menulis.
Sudah tidak sabar merilis buku pertama ini dalam memperkuat gurita bisnis yang mencengkram tanah dan langit.
Btw buku ini tak tulis sendiri dan ilustrasikan sendiri nanti tak pasarkan sendiri juga, tujuannya jelas bukan aktualisasi, melainkan margin profit
Selamat menyambut buku pengantar ilmu ekonomi paling “nyampe” di galaksi bima sakti
Ferry dengan gaya lugas langsung menuliskan tujuan bukunya bukan untuk aktualisasi diri, melainkan untuk mendapatkan margin profit.
Entah sudah berapa buku yang lahir di Bumi Pertiwi ini ditulis oleh seorang pemengaruh di jagat maya. Boleh diselisik apa yang sudah terjadi, seperti pada Marcella FP. Apalagi, jika sasarannya Gen-Z yang memiliki ketertarikan khas kini pada sebuah buku, terutama buku cetak.
Beberapa baris kalimat di IG Ferry itu sudah sangat kuat memberi impresi kepada pengikutnya (di IG 4,3 juta orang) dan juga yang belum menjadi pengikutnya—seperti saya.
Itulah Buku yang ditulis sendiri, diilustrasikan sendiri, dan diterbitkan sendiri. Paling tidak saya mengakui kehebatan Ferry membuat gambar coretan di bukunya itu karena menampilkan sketsa Lionel Messi yang memang mirip.
Penerbit mayor mungkin sudah sangat tergiur dengan buku Ferry—mengambil ancang-ancang untuk mengakuisisi buku itu. Tapi, Ferry yang paham ilmu ekonomi pastilah sudah membuat kalkulasi. Jadi, sepengamatan saya bahwa para pesohor, terutama di dunia maya ada yang lebih dulu menerbitkan buku di penerbit mayor lalu akhirnya menerbitkan bukunya sendiri—seperti Marcella FP. Ada juga yang lebih dulu menerbitkan bukunya sendiri lalu berpindah ke penerbit mayor—seperti Dewi Dee.
Ferry menulis sambil memamerkan beberapa bagian isi bukunya:
Buku ini gak akan bikin kalian jadi profesor ekonomi, jadi The Next Purbaya, atau penyelamat yang melindungi Indonesia dari hantaman krisis ekonomi global tapi buku ini bisa bikin kalian “nyampe” buat ngobrol di tongkrongan.
buku pengantar ekonomi paling gaul dalam tatanan tata surya. pesan sekarang! linkn di bio @malakabooksid dan ogut
Sikat!
Buku Ferry yang bertajuk Prinsipil Ekonomi sudah diterbitkan dan diluncurkan dalam kondisi tidak normal. Ferry meluncurkannya melalui video alakadarnya di daerah bencana—ketika ia masih berjibaku mengalirkan bantuan kemanusiaan untuk korban banjir bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Intermeso soal judul kok Prinsipil Ekonomi? Saya melihat coretan awal kover buku Ferry berjudul Prinsip Ekonomi. Kover yang kemudian publikasikan memuat judul Prinsipil Ekonomi: Memahami Ekonomi dengan Mudah. Jika mengecek KBBI, kata yang baku adalah ‘prinsipiel’ yang bermakna: mengenai atau bertalian dengan prinsip (asas); yang terpenting; bagian utama (pokok) mendasar. Namun, bukan persoalanlah, apalagi bagi seorang seperti Ferry.
Tampilan buku Ferry Irwandi yang dapat diintip di akun IG-nya mengingatkan saya pada buku praktis seri Introducing A Graphic Guide dari Icon Book. Buku itu merupakan gabungan antara teks singkat-singkat dan ilustrasi tangan. Kesan ringan dari tampilan meskipun muatannya berat memang membuat buku itu pas dibawa ke mana-mana.
Belajar Menerbitkan Buku dari Ferry Irwandi
Informasi dari Ferry, ia menulis buku pertamanya itu enam bulan yang lalu (terhitung dari Desember 2025). Pengalaman saya dalam kalkulasi waktu, 6 bulan menulis buku adalah waktu yang normal—standarnya setahun dan jurus kilatnya, 3 bulan. Bagi engkau yang mampu menulis buku kurang dari 120 hari alias 3 bulan, berarti kemahiranmu sudah seperti manusia setengah dewa. Bagi temannya temanmu yang katanya mampu menulis buku pakai AI hanya 1 jam, ia adalah penulis seperempat manusia. He-he-he.
Belajar dari Ferry, buku perdananya sudah dipersiapkan secara matang. Ia sudah merencanakan apa topik buku yang memang dikuasainya dan menarik untuk dibaca, bagaimana pemasarannya, format dan desain buku itu, dan bagaimana buku itu akan diluncurkan. Akhir November segala sesuatu sudah disiapkan dengan mengambil momentum peluncuran pada 16 Desember 2025, tepat saat Ferry berulang tahun ke-34.
Peluncuran yang dipersiapkan Ferry memang tidak terjadi seperti rencana, tetapi buku itu tetap diluncurkan di tengah bencana dengan video singkat apa adanya. Tetap saja itu magnet bagi calon pembacanya.
Ah, bagi saya yang tertarik pada ulasan-ulasan Ferry selama ini, tentu tidak masalah. Yang penting buku itu sudah jadi, sudah diluncurkan, dan sudah dapat dipesan.
Engkau yang menulis buku dan tidak selesai-selesai, carilah momentum penerbitan tahun depan. Apakah itu hari ulang tahunmu, ulang tahun suami/istrimu, atau hari istimewa. Momentum itu yang membuat engkau bergegas dan berkomitmen menuntaskan buku.
Engkau yang menulis buku walaupun bukan pesohor dengan jutaan pengikut seperti Ferry, tak perlu rendah diri. Menulis buku sajalah tentang apa yang engkau kuasai dan engkau miliki sebagai pengetahuan serta pembelajaran untuk pembaca. Jangan menulis buku yang cuma sampai di kulit ari-ari. Sederhanakan yang rumit; lugaskan yang berbelit-belit; bukakan yang tertutup; sinari yang gelap; dan rayakan keberhasilan engkau menulis buku secara khidmat.
Saya singgung juga konteks Ferry Irwandi menuliskan dan menerbitkan buku sendiri (self-publishing) dalam subtajuk di bawah ini.
Jiwa Self-Publishing
Konteks penulisan dan penerbitan buku secara mandiri yang dilakukan Ferry Irwandi adalah jiwa self-publishing sebenarnya. Buku itu ditulis sendiri (bahkan diilustrasikan sendiri—penyuntingan dan desain dikerjakan oleh orang lain), diterbitkan sendiri, dan dijual sendiri. Ferry menggunakan penerbit berjenama MalakaBooksid—tentu turunan dari Malaka Project sebagai platform edukasi digital yang ia dirikan beberapa tahun silam.
Penulis buku di Indonesia jamak terkecoh oleh istilah self-publishing. Banyak yang mengaku bahwa ia menerbitkan buku secara self-publishing dan menyebut dirinya self-publisher, tetapi ternyata penerbitnya bukan miliknya. Ia tidak memiliki kontrol terhadap naskah dan bukunya sendiri.
Sekalian saya luruskan di sini bahwa self-publisher (penerbit swakelola) itu adalah bisnis yang diinisiasi penulis. Biasanya karena ada penolakan dari penerbit mayor (tradisional), penulis buku kemudian menerbitkan bukunya sendiri dengan mendirikan penerbit sendiri. Ia harus terjun mengelola penerbitan (editorial, desain, dan sebagainya) sampai pada penjualannya sendiri. Itu sebabnya ia mau tidak mau harus terjun ke bisnis penerbitan buku—silakan telusuri perihal ini melalui tulisan dan buku Dan Poynter (sering disebut god father ribuan buku di AS karena ia mengompori orang untuk mendirikan penerbit sendiri).
Selama ini yang dirancukan adalah self-publishing dan vanity publishing. Jika engkau ingin menerbitkan buku lalu ada tawaran jasa penerbitan dari penerbit—yang sering kali membawa embel-embel anggota Ikapi dan tercatat di Perpusnas sebagai anggota ISBN—, keputusan engkau menerbitkannya adalah keputusan penerbitan berbayar/bersubsidi (vanity publisher).
Engkau sama sekali tidak melakukan penerbitan swakelola karena semua kontrol buku ada di penerbit yang bersangkutan. Engkau hanya diiming-imingi layanan all in lalu membayar sekian ratus ribu atau jutaan rupiah.
Vanity publisher akan “membela” yang membayar karena itulah yang menjadi model bisnis mereka. Model bisnis ini sering kali membingungkan para penulis (terutama generasi baby boomer dan generasi X) karena belum pernah terjadi pada era 1970–2000-an penulis harus membayar. Loh, menerbitkan buku kok bayar? Begitu pertanyaan para penulis, padahal di Barat model bisnis ini sudah berkembang lama karena kebutuhan penulis untuk aktualisasi. Di Indonesia berkembang karena kebutuhan penulis untuk aktualisasi plus menambah angka kredit kenaikan pangkat bagi PNS.
Satu istilah lagi, ada institusi penerbit yang disebut penerbit independen (independent publisher). Model penerbit ini kebalikan dari penerbit mayor karena umumnya dijalankan sebagai UMKM. Penerbit kecil yang tetap menerbitkan buku dari para penulis (penulis tidak selalu pemiliknya) dan tetap membayar royalti, tetapi dengan skala penjualan yang kecil-menengah. Misalnya, satu sisi saja, jika penerbit mayor menggunakan skala ekonomi mencetak buku pertama (first print run) antara 3.000–5.000 eksemplar, penerbit independen akan mencetak 500–1.000 eksemplar.
Penerbit independen biasanya menyasar topik-topik buku spesifik yang tidak digarap oleh penerbit mayor. Pembacanya spesifik pada komunitas-komunitas tertentu. Namun, bukan berarti penerbit independen bakal memperoleh revenue yang kecil, di antara mereka juga ada yang menjadi perusahaan sehat serta memperoleh margin profit yang lumayan. Bahkan, sangat mungkin buku-buku terbitan mereka juga merangsek naik menjadi buku best seller.
Suatu ketika saat saya berkunjung ke Frankfurt Book Fair, ada satu area di dalam hall yang disediakan untuk penerbit independen—rata-rata penerbit Eropa dan Amerika. Saya mengunjungi dua booth, yaitu How to Book Publisher dan Miles-Kelly. Booth mereka berukuran kecil dan memang tidak dapat dibandingkan dengan para penerbit raksasa yang hadir di sana.
All scientists are the same, until one of them writes a book. Ferry Irwandi bukanlah seorang saintis—jika hendak mengatakan demikian—, tetapi ia menjadi berbeda dari semua pemengaruh ketika menulis dan menerbitkan bukunya sendiri. Ferry adalah fenomena yang muncul ke permukaan kronik Indonesia masa kini sehingga membuat banyak orang bersimpati sekaligus beringin tahu tentang apa yang dituliskannya.
Selamat, Uda Ferry yang telah melahirkan buku perdananya! Semoga bakal lahir buku-buku lainnya yang mencerahkan dan menyadarkan, memberi katarsis bagi banyak orang.












