Nasib Warga Aceh Tamiang: Banjir Diikuti ISPA



ACEH TAMIANG,

Banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh Tamiang kini menyisakan tantangan baru bagi warga setempat. Setelah air mengalir, debu dari lumpur yang mulai mengering bertebaran di sekitar lingkungan permukiman. Hal ini memicu peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam proses pemulihan pascabencana.

Pantauan pada Sabtu (13/12/2025), di sepanjang jalan dan kawasan permukiman Aceh Tamiang, debu terlihat beterbangan akibat angin dan lalu lintas kendaraan. Kondisi ini semakin terasa karena cuaca panas yang menghiasi wilayah tersebut beberapa hari terakhir. Meskipun begitu, aktivitas warga tetap berlangsung seperti biasa.

Beberapa warga tampak membersihkan sisa lumpur di dalam rumah mereka, mencuci pakaian serta peralatan rumah tangga yang kotor atau rusak akibat banjir. Banyak juga warga yang memperbaiki kendaraan mereka yang sempat terendam lumpur.

Sebagian dari mereka mengenakan masker atau menutup hidung dan mulut dengan kain untuk mengurangi paparan debu. Namun, tidak sedikit warga yang masih beraktivitas tanpa perlindungan. Hal ini berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.

Persoalan ISPA yang mulai menyebar pascabencana menjadi salah satu penyebab meningkatnya jumlah kunjungan ke RSUD Aceh Tamiang. Sejak kembali beroperasi secara terbatas pada 9 dan 10 Desember 2025, rumah sakit ini menerima banyak pasien dengan keluhan gangguan pernapasan.

Keluhan yang sering dilaporkan oleh warga antara lain batuk, pilek, dan gangguan tenggorokan. “Yang paling banyak saat ini adalah keluhan ISPA,” ujar Kasi Pelayanan Medis RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang, dr Rahmadsyah Putra, dalam perbincangan dengan media, Sabtu (13/12/2025).

Menurut Rahmadsyah, kondisi lingkungan pascabencana sangat memengaruhi kesehatan warga. Debu dari lumpur kering menjadi salah satu faktor utama gangguan pernapasan. “Banyak debu sekarang, dan juga ada keluhan kulit seperti gatal-gatal,” tambahnya.

Selain ISPA dan penyakit kulit, RSUD Aceh Tamiang juga melayani pasien dengan keluhan lain, termasuk pasien kontrol rutin penyakit kronis. Di sisi lain, terdapat pula pasien yang mengalami luka akibat aktivitas pembersihan rumah.

“Kita juga melayani pasien-pasien yang lain, termasuk bedah, yang selama ini kan mereka kan kontrol rutin, misalnya jantung, saraf, dan lain-lain itu kita layani juga,” kata Rahmadsyah.

Pantauan di area RSUD Aceh Tamiang menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan saat ini masih dipusatkan di gedung instalasi gawat darurat (IGD). Gedung dan ruang pelayanan lainnya masih dalam proses pembersihan dan pemulihan karena terdampak banjir dan tanah longsor.

“Jadi, yang baru kita bersihkan ini baru ruang IGD. Tapi di IGD ini kita lakukan layanan yang lain-lainnya, seperti misalnya polinya juga di sini. Labnya juga di sini,” jelas Rahmadsyah.

Dia menjelaskan, pelayanan IGD kini juga difungsikan sementara sebagai ruang rawat inap dan layanan laboratorium. Sementara itu, ruang rawat inap lainnya masih dalam tahap pembersihan.

Untuk mendukung operasional pelayanan kesehatan, RSUD Aceh Tamiang mendapat bantuan dari relawan tenaga kesehatan. Mereka berasal dari organisasi profesi, fasilitas pelayanan kesehatan di daerah lain, hingga mahasiswa.

“Ya, untuk layanan sekarang ini 24 jam. Oke. Nah, jadi kita ada juga beberapa relawan, dokter-dokter spesialis,” ujar Rahmadsyah.

Warga diimbau menggunakan masker

Di tengah keterbatasan fasilitas, warga diimbau lebih waspada saat beraktivitas pascabencana. Penggunaan masker penting untuk mencegah gangguan kesehatan. “Jadi, makanya gunakan masker, kita untuk mencegah karena sesuai tadi kan, banyak keluhan yang batuk, pilek, dan sebagainya, karena tidak menggunakan masker di jalan banyak debu,” kata Rahmadsyah.

Dia juga mengingatkan warga untuk menggunakan alas kaki saat membersihkan rumah yang masih dipenuhi lumpur. Hal itu penting untuk mencegah luka dan infeksi. “Nah, kalau sudah kondisinya kotor kan kita takut nanti infeksi seperti itu. Kan susah kita, kan? Karena kita secara, apa, kapasitas rumah sakit kan masih terbatas,” ujar dia.

Di depan IGD RSUD Aceh Tamiang, kecemasan juga dirasakan keluarga pasien. Ibu Rum, salah seorang warga, menceritakan kondisi keluarganya yang harus dibawa berobat setelah mengalami keluhan pascabencana. Dia berharap kondisi kesehatan keluarganya segera membaik di tengah situasi pascabencana yang masih menyisakan berbagai keterbatasan.

“Mama pikiran. Pusing dia bencana ini kan. Terus sesak. Enggak mau dibawa dari kemarin, akhirnya kami paksa tapi berontak dia,” kata Ibu Rum singkat.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *