Siapkan Rekayasa Lalulintas dan 21 Pos Jaga untuk Nataru

Persiapan Pengamanan Libur Nataru di DIY

Kapolda DIY Irjen Pol Anggoro Sukartono menyampaikan bahwa rapat yang dipimpin oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bertujuan untuk memastikan pengamanan dapat berjalan optimal pada puncak libur panjang akhir tahun. Pemda DIY menegaskan kesiapan seluruh unsur keamanan dan pelayanan publik menghadapi puncak mobilitas masyarakat pada Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Dalam konferensi pers usai Rapat Forkopimda di Bangsal Kepatihan, jajaran Pemda dan kepolisian menegaskan kesiapan pengamanan, antisipasi bencana, hingga rekayasa lalu lintas di wilayah Kota Yogya. Anggoro menjelaskan bahwa dalam rapat tersebut, seluruh instansi terkait telah mengurai potensi kerawanan, termasuk cuaca ekstrem dan kemungkinan aktivitas Gunung Merapi. Antisipasi terhadap bencana menjadi bagian penting dari pengamanan Nataru.

DI Yogyakarta sebagai destinasi wisata utama diprediksi akan mengalami lonjakan kendaraan. Penambahan ruas jalan dan destinasi wisata baru juga berpotensi menimbulkan titik kemacetan. Anggoro menambahkan bahwa peningkatan volume kendaraan dapat menimbulkan kemacetan, serta adanya potensi meningkatnya kriminalitas.

Operasi Lilin Progo 2025

Untuk memastikan keamanan dan kelancaran pergerakan wisatawan, Polda DIY menyiapkan Operasi Lilin Progo 2025. Operasi ini mengerahkan 1.975 personel Polri, ditambah 700 personel instansi terkait serta dukungan komunitas masyarakat. Selain 21 pos pengamanan dan pelayanan, terdapat pula delapan pos pantai dan waduk yang menjadi titik rawan akibat dinamika cuaca. Total 19 pos jaga ditempatkan merata di satu kota dan empat kabupaten.

Terkait cuaca, peringatan dini gelombang tinggi di pesisir selatan pada 14–16 Desember juga menjadi perhatian. Informasi kepada wisatawan, penduduk pesisir, dan nelayan akan digencarkan.

Rekayasa Lalu Lintas di Wilayah Yogyakarta

Kepala Dinas Perhubungan DIY Chrestina Erni Widyastuti menegaskan bahwa sesuai arahan Gubernur, arus kendaraan pada masa Nataru harus dipisahkan secara ketat. Salah satunya dengan mengarahkan kendaraan yang hanya melintas untuk tidak memasuki pusat kota. Arahan dari Ngarsa Dalem menekankan bahwa pada arus Nataru, konsentrasi kendaraan perlu dipecah. Kendaraan pribadi maupun bus yang hanya melintas di Yogyakarta tidak diperbolehkan masuk kota. Mereka akan diarahkan ke ruas-ruas jalan alternatif.

Dishub menyiapkan tujuh jalur alternatif untuk memecah arus pemudik dan wisatawan yang tidak memiliki tujuan ke pusat kota. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah mengurangi kepadatan di Malioboro, kawasan dengan konsentrasi wisatawan tertinggi. Namun, sejumlah titik kemacetan baru diprediksi muncul, termasuk akibat perubahan pola arus lalu lintas di kawasan Jembatan Kewek dan sekitarnya yang mulai diterapkan pada Rabu (10/12/2025).

Jembatan peninggalan Belanda berusia 100 tahun itu, kondisi strukturnya dinilai makin kritis sehingga rawan jika dilalui kendaraan bertonase berat. Kendaraan roda empat, terutama bus-bus wisata juga truk, dilarang melintasi jembatan ini.

Petunjuk Jalur Malioboro

Selama rekayasa lalu lintas, kendaraan yang menuju Jalan Malioboro hanya dapat melalui dua jalan yakni Jalan Mataram dan Jalan Abu Bakar Ali. Kendaraan roda empat yang melintas dari arah Stasiun Yogyakarta menuju Malioboro, diwajibkan memutar terlebih dahulu melalui sisi timur Stadion Kridosono. Di sisi lain, kendaraan dari Jalan Mataram yang biasanya melewati lajur kanan menuju Jalan Kleringan, mulai besok dialihkan ke lajur kiri.

Termasuk kendaraan dari arah Kridosono yang akan menuju Malioboro akan diarahkan melalui lajur timur, agar tidak terjadi penumpukan terutama ketika libur akhir pekan. Sedangkan kendaraan roda dua, masih bisa melintasi Jembatan Kewek, namun tetap diatur secara terbatas. Jalur itu dipertahankan terutama untuk memudahkan akses masyarakat di kawasan Ledok Tukangan yang selama ini bergantung pada koneksi jalan tersebut.

Evaluasi dan Persiapan Lanjutan

“Saat ini masih terjadi kemacetan karena sosialisasi belum dilakukan secara masif. Kami memprediksi juga akan muncul titik kemacetan di kawasan Kridosono. Seluruh kondisi tersebut akan kami evaluasi dalam satu hingga dua hari ke depan,” jelas Erni.

Meski pola rekayasa akan diperketat, Erni menyebut pengalihan bus sepenuhnya keluar kota belum dapat dilakukan karena keterbatasan kapasitas kantong parkir di Ngabean dan Senopati. Dengan prediksi peningkatan dibanding 2024—yang mencapai sekitar empat juta kendaraan—Dishub menilai pengaturan harus dilakukan ekstra hati-hati.

“Intinya, kami ingin masyarakat yang tidak memiliki tujuan ke Malioboro tidak diarahkan atau memilih jalur melewati Malioboro. Saat ini masih banyak kendaraan yang hanya melintas tanpa tujuan ke kawasan tersebut, yang pada akhirnya menambah kepadatan,” katanya.

Dishub DIY, lanjut Erni, berencana memaparkan detail teknis rekayasa lalu lintas termasuk pola arus, lokasi rambu baru, dan penataan parkir.


Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *