Warga Kota Bima Kecam Anggota DPR RI yang Dianggap Tidak Amanah
Banyak warga Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), merasa kecewa terhadap kinerja anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Mahdalena. Isu ini muncul setelah banyak program bantuan yang dijanjikan tidak kunjung terealisasi, sementara bantuan justru dinikmati oleh warga yang dianggap lebih mampu.
Program Bantuan yang Disorot
Beberapa program yang menjadi perhatian warga antara lain Bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Bantuan Modal Usaha, dan Program Indonesia Pintar (PIP). Warga mengeluh bahwa program-program tersebut seharusnya ditujukan kepada masyarakat kurang mampu, namun dalam praktiknya, bantuan justru diberikan kepada pihak yang tidak membutuhkan.
M. Ali, seorang warga Kecamatan Mpunda, adalah salah satu yang merasa dibohongi. Ia didata sebagai penerima bantuan bedah rumah, tetapi hingga kini belum ada realisasi. “Sampai hari ini bantuannya tidak ada,” ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa saat menghubungi staf ahli Mahdalena, tidak pernah mendapat respons, bahkan terkesan dihindari.
Ali menambahkan bahwa saat verifikasi dilakukan, yang datang justru orang-orang yang secara ekonomi mampu. “Jujur saya sakit hati, karena yang didatangi itu orang-orang mampu, bukan kami yang benar-benar butuh,” katanya.
Bantuan Modal Usaha Disebut Tebang Pilih
Kekecewaan juga datang dari Andini, warga Kecamatan Rasanae Barat. Ia menyebut bantuan modal usaha yang digembar-gemborkan Mahdalena hanya menjadi ajang pencitraan. Menurutnya, bantuan tersebut justru diberikan kepada orang-orang mampu dari kelompok tertentu, bukan kepada masyarakat kecil yang membutuhkan.
Andini menilai bahwa citra Mahdalena sebagai sosok ramah, dermawan, dan peduli di media sosial tidak sejalan dengan realitas lapangan. “Di Facebook memang manis sekali. Tapi kenyataannya diskriminasi, tebang pilih, dan tidak amanah,” kritiknya.
Dana PIP yang Dijanjikan Tak Pernah Cair
Kasim, warga Kecamatan Asakota, turut mengeluhkan kinerja Mahdalena. Ia diminta menyerahkan data anaknya untuk menerima bantuan PIP. Namun hingga kini, program itu tak pernah terealisasi. “Kami juga kena prank. Katanya ada dana PIP, tapi sampai sekarang tidak ada. Hoaks semua,” katanya.
Gelombang protes ini membuat masyarakat mempertanyakan integritas dan komitmen Mahdalena sebagai wakil rakyat. Banyak warga menilai tindakan tersebut menunjukkan ketidaksiapan dan ketidakjelasan dalam mengelola program. Warga menuntut Mahdalena memberikan klarifikasi terbuka dan memastikan proses verifikasi penerima bantuan dilakukan transparan dan tepat sasaran.
“Jangan pilih Anggota DPR yang tidak amanah. Ini pelajaran untuk kita semua,” tegas Kasim.
Dugaan Monopoli Bantuan Negara Saat Banjir Bima
Pada 2025, saat banjir besar melanda Wera dan Ambalawi, Mahdalena menyalurkan 1.500 paket Ramadan untuk korban. Namun, paket tersebut disebut berasal dari anggaran negara, bukan dana pribadi. Salah satu akademisi, Muhaimin atau Deven, menuding bantuan itu dimonopoli dengan membelanjakannya di toko milik pribadi sehingga menggerakkan kepentingan ekonomi keluarga.
Deven menegaskan bahwa bantuan langsung dari anggota DPR RI rawan digunakan sebagai politik bantuan, yang membuat warga merasa terikat secara elektoral. Ia menyampaikan bahwa praktik semacam ini dapat berdampak langsung pada citra DPR RI sebagai lembaga negara.
“Jika tindakan seperti ini dibiarkan, DPR RI akan kehilangan marwahnya sebagai rumah aspirasi rakyat. Demokrasi lokal lumpuh, rakyat tidak lagi berani menuntut hak tanpa imbalan,” ungkap pria yang disapa Deven.
Deven mengingatkan bahwa fokus anggota DPR RI harusnya pada pembangunan jangka panjang, bukan pencitraan lewat bantuan instan. “Bantuan langsung bukan solusi. Yang dibutuhkan rakyat adalah kesempatan kerja, pemberdayaan ekonomi, dan pembangunan berkelanjutan,” tutupnya.
Hingga berita ini dimuat, Mahdalena belum memberikan tanggapan resmi atas tudingan warga tersebut.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."












