Pengasuhan Ketat (Strict Parenting) dan Dampaknya pada Anak
Anak-anak di masa remaja seringkali meminta kebebasan untuk bermain bersama teman-temannya tanpa pengawasan orangtua. Namun, karena khawatir, orangtua sering kali memberikan batasan yang membuat anak merasa tidak nyaman. Ada juga orangtua yang bahkan tidak mengizinkan anaknya pergi. Pola asuh ini dikenal sebagai strict parenting atau pengasuhan ketat. Setiap orangtua memiliki cara masing-masing dalam mendidik anak, karena ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Meski berbeda, setiap pola asuh memiliki kelebihan dan kekurangan.
Berikut adalah beberapa kelebihan dan kekurangan dari strict parenting yang perlu dipahami oleh orangtua:
1. Anak Terbiasa Hidup Disiplin
Salah satu sisi positif dari strict parenting adalah anak terbiasa hidup disiplin. Kebiasaan ini akan terus ia tanamkan hingga dewasa nanti, sehingga membuatnya menjadi pribadi yang teratur dan disiplin. Anak yang mendapat pola asuh ini sejak kecil akan terbiasa pulang ke rumah tepat waktu, menyelesaikan pekerjaannya dengan rapih, dan tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Secara tidak langsung, pola asuh ini membentuk kepribadian baik pada anak sejak kecil. Sehingga saat dewasa, ia sudah tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.
2. Anak Punya Ambisi untuk Berprestasi

Orangtua dengan pola asuh ketat biasanya membatasi waktu main anak di luar rumah. Dengan kata lain, anak akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk belajar. Walau terlihat membosankan, pola asuh ini justru membuat anak lebih banyak waktu untuk belajar. Anak juga akan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya lebih awal, sebelum ia pergi bermain. Dengan begitu, anak tidak perlu belajar dengan sistem kebut semalam saat menghadapi ujian. Beberapa anak juga takut dengan orangtuanya yang terbilang strict parents, sehingga ia berusaha maksimal untuk mendapatkan hasil terbaik di sekolahnya agar orangtuanya tidak marah.
3. Anak Menjadi Pemarah dan Benci pada Orangtua

Jika anak terus dipaksa untuk selalu mengikuti kata orangtua, risiko anak menjadi pemarah meningkat. Hal itu disebabkan karena anak merasa terkekang dan tidak bebas menjalani aktivitas sesuai keinginannya. Setiap anak memiliki keinginan tersendiri yang mungkin berbeda dengan pendapat orangtua. Hal tersebut wajar terjadi, dikarenakan anak juga ingin bertumbuh dan mencari pengalaman bersama teman-temannya. Namun karena tidak mendapat lampu hijau dari orangtua, si anak terpaksa mengikuti apa yang diperintahkan. Karena tidak bisa berkegiatan sesuai keinginannya, anak menjadi pemarah hingga memicu kebencian terhadap orangtuanya.
4. Meningkatkan Risiko Depresi pada Anak

Melihat anak-anak sebayanya dapat bermain dengan bebas sedangkan ia lebih banyak di rumah, seringkali membuat anak menjadi kecil hati. Dalam hatinya ia ingin sekali bermain bebas seperti teman-temannya, namun ia tidak punya daya untuk membantah perintah orangtua. Bahkan untuk marahpun ia tidak bisa. Terus berada di lingkungan yang keras dan mengekang, bisa memicu terjadinya depresi dini pada anak. Ia memendam amarah dan tidak tahu harus kemana dan bagaimana mencurahkan amarahnya tersebut. Memiliki orangtua yang menjalani kehidupan dengan strict parenting, dapat membuat anak merasa tidak nyaman di rumah. Ia tidak mau dianggap sebagai anak kecil yang harus selalu mengikuti perintah orangtuanya.
5. Kurangnya Motivasi dan Kreativitas Anak

Orangtua dengan pola asuh ketat kerap menentukan langkah anak hingga ia dewasa nanti. Sebab orangtua yakin bahwa pilihannya adalah yang terbaik bagi anaknya. Namun perlu diketahui, tidak semua hal yang terlihat baik di mata orangtua, sudah pasti baik untuk anak. Pada dasarnya usia anak-anak adalah usia yang penuh dengan rasa ingin tahu. Ia ingin mencari banyak pengalaman serta mengembangkan bakat dan minatnya. Tetapi karena anak memiliki keluarga dengan pola asuh ketat, ia jadi tidak memiliki ruang untuk bereksplorasi dan mengembangkan bakatnya tersebut. Hal ini dapat menghambat kreativitas anak dan membuat motivasinya untuk maju semakin menurun. Sebab ia merasa bahwa apa yang dilakukannya selalu salah di mata orangtua.
6. Orangtua dan Anak Sering Bertengkar

Semakin bertambahnya usia, pola pikir anak juga semakin berkembang. Akan ada masanya dimana anak-anak tak mau lagi menuruti perintah orangtuanya, yang dianggap bersebrangan dengan keinginannya. Jika anak dan orangtua sama-sama keras dan tidak mau mengalah, maka akan terjadi pertengkaran. Menuju masa remaja, anak-anak akan melihat teman-temannya memiliki kebebasan untuk bermain dan menentukan pilihannya sendiri. Maka saat ia tidak bisa melakukan hal yang sama, ia akan marah kepada orangtuanya. Anak juga akan mendesak orangtuanya agar ia diberi kebebasan layaknya anak-anak lain. Orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya, namun anak juga tahu apa yang terbaik bagi dirinya. Hal itulah yang kerap menimbulkan konflik dalam keluarga antara orangtua dengan anak-anaknya.
7. Memicu Kebiasaan Anak untuk Berbohong

Orangtua dengan pola asuh strict parenting seringkali memberi hukuman kepada anaknya saat ia melakukan kesalahan. Hukuman tersebut dapat memicu anak untuk biasa berbohong, dibandingkan harus berkata jujur dan mendapatkan hukuman dari orangtuanya. Beberapa orangtua kerap meminta anak untuk melakukan hal yang sebenarnya tidak disukai oleh anak. Namun karena anak takut untuk membantah, ia terpaksa melakukannya dengan berat hati. Saat merasa jenuh, kerap kali anak tidak melakukannya hal yang diperintahkan orangtuanya. Dengan begitu, ia terpaksa berbohong untuk menutupi kesalahannya tersebut. Lama kelamaan, anak akan terbiasa untuk melakukan kebohongan demi menghindari amarah orangtuanya.
Itu dia beberapa kelebihan dan kekurangan dari strict parenting. Orangtua tentu ingin yang terbaik untuk anaknya. Namun ada baiknya jika orangtua memberikan sedikit kebebasan kepada anak, supaya ia bisa mencari pengalaman dan mengembangkan bakatnya di bidang yang ia senangi.
Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”












