Budaya  

Imam Budi Prasetyo Jadi Juru Kunci Gunung Tidar: Warisi Amanah Ibu, Lanjutkan Tradisi ‘Pakunya Tanah Jawa’

Pengukuhan Juru Kunci ke-IV Gunung Tidar di Magelang

Di tengah suasana haru yang menyelimuti area parkiran atas Gunung Tidar Kota Magelang, Kamis, 11 Desember 2025, sosok pria bernama Imam Budi Prasetyo resmi dikukuhkan sebagai Juru Kunci ke-IV Gunung Tidar. Ia menggantikan ibunya, almarhumah Sutijah, yang baru saja meninggal dunia.

Pengukuhan ini dilakukan langsung oleh Walikota Magelang, Damar Prasetyono, dan disaksikan oleh para tokoh masyarakat, sesepuh, serta warga yang memenuhi lokasi. Prosesi ini menjadi momen penting dalam pelestarian budaya dan lingkungan Gunung Tidar.

Peran Penting Juru Kunci

Menurut Walikota Damar, pengukuhan ini bukan sekadar seremoni adat. Menurutnya, posisi juru kunci memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian budaya sekaligus lingkungan di sekitar Gunung Tidar. Ia menekankan bahwa Gunung Tidar memiliki dua peran sekaligus: sebagai warisan budaya dan warisan alam.

Sebagai warisan budaya, Gunung Tidar merupakan pusat spiritualitas, tempat ritual keagamaan, situs-situs sejarah, serta bagian penting dari identitas Kota Magelang. Sementara itu, sebagai warisan alam, Gunung Tidar berfungsi seperti kebun raya dan paru-paru kota. Kawasan ini juga menjadi resapan air serta habitat flora dan fauna yang menjaga keseimbangan ekosistem.

“Gunung Tidar adalah amanah besar. Amanah ini bukan hanya saya titipkan kepada juru kunci, tetapi juga kepada seluruh masyarakat Kota Magelang,” ujarnya.

Komitmen Pemerintah Kota

Pemerintah Kota Magelang berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan para juru kunci, tokoh masyarakat, dan sesepuh dalam hal edukasi, pelestarian, hingga penataan kawasan. Kepada Imam, ia menitipkan pesan khusus agar dapat menjalankan amanah dengan tulus, sabar, dan bijaksana.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga etika di kawasan suci tersebut serta mengutamakan kelestarian lingkungan. Damar berharap, dengan adanya pengukuhan ini, akan ada kesadaran bersama dalam menjaga nilai-nilai leluhur dan menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar Gunung Tidar.

Harapan Baru dan Rasa Kehilangan

Di balik prosesi yang khidmat, Imam tak menutupi perasaan campur aduk saat resmi menerima amanah sebagai juru kunci. Ia mengakui masih diselimuti duka mendalam atas kepergian sang ibu. “Jujur saja rasanya sedih dan senang jadi satu. Sedihnya itu masih ingat almarhumah ibu. Masuk rumah saja masih teringat beliau, karena ini kan tempat ibu,” ujarnya dengan suara tertahan.

Imam mengaku belum sepenuhnya ikhlas karena sang ibu baru meninggal sekitar seminggu setelah hari ke-40. Namun, sebagai pewaris garis keluarga, ia memahami bahwa tanggung jawab itu harus segera diambil. Dari empat bersaudara, Imam adalah anak kedua, namun menjadi satu-satunya kandidat yang memenuhi syarat.

“Saya bukan anak paling tua, tapi juru kunci harus laki-laki. Kakak saya yang pertama perempuan, jadi enggak bisa. Dari Solo bilangnya tetap saya yang harus menggantikan,” jelasnya.

Alasan Pengukuhan Cepat

Imam juga menegaskan bahwa pengukuhan tidak dilakukan tergesa-gesa. Ada alasan penting mengapa prosesi harus dilakukan segera. “Maaf, bukan berarti kami terburu-buru atau istilah bahasa Jawanya ‘kemrungsung’. Tapi sangat fatal kalau tidak ada pengukuhan resmi. Takutnya nanti ada orang yang punya tendensi tertentu memanfaatkan momen ini,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa sudah banyak orang mengaku-ngaku sebagai juru kunci, terutama karena Gunung Tidar merupakan ikon yang dikunjungi banyak wisatawan dari berbagai daerah. “Kita hanya menjaga agar tidak terjadi penipuan dan penyalahgunaan. Kalau sudah ada pengukuhan seperti ini, orang enggak berani ngaku-ngaku,” tegasnya.

Masa Depan Gunung Tidar

Dengan amanah baru di pundaknya, Imam bertekad meneruskan jejak ayah dan ibunya sebagai penjaga tradisi serta pelestari kawasan Gunung Tidar. Kehadirannya sebagai juru kunci generasi keempat diharapkan membawa angin segar bagi pelestarian budaya dan alam di jantung Kota Magelang.


Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *