Budaya  

Ocha, Ibu Pekerja yang Mengatur Waktu di Tengah Kelelahan

Pengalaman Seorang Ibu Pekerja dalam Mengatur Waktu

Pada masa lalu, rutinitas pagi seseorang hanya terdiri dari secangkir kopi dan sarapan untuk memulai hari sebelum berangkat kerja. Di siang dan sore hari, fokus utamanya adalah bekerja tanpa memikirkan rumah. Namun, setelah menjadi ibu, seorang ibu pekerja harus belajar menawar waktu—sedikit untuk dirinya sendiri, separuh untuk bekerja, dan separuh untuk mengurus anak.

Ocha sudah menjadi ibu pekerja selama delapan tahun. Pembagian waktu adalah tantangan terbesar yang dialami sejak punya anak. Tantangan terbesar pastinya masalah waktu, bagaimana cara mengatur waktu untuk mengurus anak, rumah, suami, dan kerjaan di kantor.

Terpaksa Menyewa Pengasuh

Karena satu dan lain hal, Ocha memutuskan untuk melanjutkan bekerja setelah mengambil cuti melahirkan selama tiga bulan. Beruntung, ia dibantu oleh ibunya untuk mengurus Gala. Namun, sang nenek hanya bisa memantau cucu dan mengajaknya bermain karena sudah berumur.

“Ada pengasuh dari awal, karena aku sadar diri kerja terus, tidak ada jeda terlalu lama pas resign sebelum kerja lagi. Jadi otomatis pastinya aku harus ambil pengasuh buat bantu si nenek saat aku kerja,” ujar Ocha.

Meski sudah dibantu oleh ibu dan pengasuh, Ocha tetap mengkhawatirkan anaknya. Naluri seorang ibu memang sulit untuk diajak tenang. Ada saja yang dipikirkan terkait kesehatan dan keselamatan anak.

Anak Dibawa Pulang Pengasuh

Ada satu momen yang cukup membuat Ocha merasa bersalah karena menjadi seorang ibu pekerja, yakni tidak bisa sepenuhnya memantau anak ketika sedang diasuh oleh pengasuh. Bahkan, ia sempat “kecolongan” dengan sikap pengasuh yang disebut “terlalu ekstrovert”, lantaran suka membawa Gala pulang ke rumahnya ketika masih bayi.

Lokasi rumah pengasuh memang tidak terlalu jauh, tetapi bukan berarti ia mengizinkan Gala dibawa pulang pengasuhnya. Apalagi, tidak ada pembicaraan soal hal itu dalam perjanjian kerja kedua belah pihak.

“Aku maunya anak di rumah saja, jangan ke mana-mana karena kita enggak tahu lingkungan di luar seperti apa. Pasti kan beda sama di rumah sendiri, entah dia bersih atau enggak lingkungan di rumahnya, orang-orangnya gimana, kita kan enggak tahu,” jelas Ocha.

Sang pengasuh rupanya sangat sering itu membawa pulang Gala, sampai si kecil sering tidur siang di sana. “Sampai difoto-foto, terus di-share di Facebook. Waktu itu aku kasih peringatan keras ke dia. Dan dia enggak bertahan lama, cuma tujuh bulan. Enggak aku perpanjang,” ucap Ocha.

Saat ini, Gala masih dijaga oleh pengasuh, tetapi orang yang berbeda.

Momen Kewalahan Menjadi Seorang Ibu

Harus mengajak anak bermain sepulang kerja. Menjadi seorang ibu adalah tugas sepanjang masa. Tidak heran bila seorang ibu bisa merasa kewalahan secara fisik dan mental ketika mengurus anak.

Ocha mengaku, momen dirinya merasa paling kewalahan adalah ketika sang buah hati masih bayi karena membutuhkan banyak perhatian, sekaligus diberikan beragam stimulasi demi perkembangannya.

“Sebenarnya sih aku bawa enjoy aja, cuma kan namanya manusia, rasa capek pasti ada. Aku kerja, pulang capek, dan sampai rumah masih harus ngajak main dan lain-lain. Tapi itu wajar lah, namanya manusia,” kata dia.

Belum Bisa Ini dan Itu

Secara mental, Ocha juga lelah karena berjibaku dengan dirinya sendiri. Ia sempat khawatir melihat anaknya belum bisa melakukan beberapa hal. Di sisi lain, ia juga memahami bahwa anaknya masih bayi, dan setiap bayi memiliki laju perkembangan yang berbeda-beda.

“Melihat anak belum bisa ini dan itu jadi merasa bersalah karena aku merasa, apa aku kurang main bareng, belajar bareng, dan lain-lain. Ngerasa kewalahan secara mental karena itu,” terang Ocha.

Berjuang dengan Didampingi Suami

Suami adalah support system utama Ocha. Ia selalu hadir menemaninya di saat Ocha merasa kurang baik menjadi seorang ibu. Suaminya pun tidak pernah absen di setiap fase perkembangan anak.

“Alhamdulillah suami aku orangnya bukan tipikal yang terlalu patriarki. Masih mau bantu gantiin popok, beres-beres rumah, dan lain-lain. Dia bukan orang yang sering diem aja, alhamdulillah rajin,” kata Ocha.

Saat Gala baru lahir, ia mengakui bahwa sang suami kurang andil dalam mengurus anak. Namun, ini karena ia takut menyakiti Gala yang kala itu masih sangat kecil.

“Dia takut megang bayi dan bingung sama anak bayi digendongnya gimana. Kata dia nanti kalau sudah gedean bakal diajak main, dan ya benar. Pas anak gedean, benar-benar diurus sama suami,” tutur Ocha.

Teman Curhat yang Bijaksana

Di samping menjadi orang yang telaten dalam membantu mengurus rumah dan anak, suami Ocha juga merupakan teman curhat yang bijaksana. Semua keluh kesah yang dirasakan, direspons dengan ajakan untuk mencari solusi bersama-sama, bukan menyuruh Ocha menyelesaikan permasalahannya seorang diri.

“Kalau curhat secara langsung bahwa aku merasa kurang jadi seorang ibu sih enggak pernah. Cuma kayak, aku ngerasa ada yang kurang di anakku. Dan kita cari solusi sama-sama, walaupun keseringannya solusinya dari aku,” tutur dia sambil tertawa.

Semua Dukungan Terpenuhi

Saking suportifnya sang suami, Ocha tidak merasa ada dukungan yang belum diberikan. Sebab, ia masih bisa me time. Pada awalnya, ia memang kesulitan untuk mendapatkan me time, karena suaminya masih berpikir bahwa seorang ibu hanya perlu menghabiskan waktu dengan anak.

“Awal-awal mungkin karena kaget punya anak, jadi (mengira) aku harus bareng anak. Aku kasih pengertian bahwa aku juga butuh waktu sendiri, dan kami juga butuh jalan-jalan sendiri,” tutur Ocha.

Seiring bertambahnya usia, kini Gala punya teman sendiri dan bisa dibilang sibuk dengan dunianya sendiri. Momen seperti inilah yang disyukuri oleh Ocha. Akhirnya, ia bisa memanfaatkan lebih banyak waktu untuk mengisi kembali energi yang dibutuhkan oleh jiwanya.

“Dan suami juga sudah paham ketika aku mau pergi-pergi ke mana, ya sudah. Paling kulineran, nongkrong sama teman. Kalau jalan-jalan paling acara kantor,” kata dia.

Pesan untuk Diri Sendiri di Masa Lalu

Ada pesan yang ingin Ocha sampaikan pada dirinya delapan tahun lalu ketika baru menjadi ibu, yakni harus banyak bersabar. Bersabar dalam menghadapi anak, bersabar dalam menghadapi berbagai rintangan, dan bersabar dalam bertindak. Terkhusus anak, momen mengurusnya ketika masih kecil tidak akan terulang.

“Waktu aku baru jadi ibu, jujur kesabaranku masih setipis tissue. Ngelihat kelakuan anak, kadang aku enggak bisa bedain antara gemes sayang dan rasa kesal. Jadi kadang aku agak keras,” ungkap dia.

Seiring berjalannya waktu, Ocha tersadar bahwa ia tidak perlu bersikap seperti itu apabila ia lebih banyak bersabar kala itu. “Karena, seharusnya bisa dibilangin pelan-pelan. Karena masih belum bisa kasih yang terbaik buat anak, ya jangan marah-marah mulu. Semua bisa diobrolin baik-baik, toh nanti anak juga akan ngerti seiring waktu,” pungkas dia.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *