Mengapa Penjarahan Terjadi Saat Bencana? Ini Penjelasan Psikologisnya



Pada hari Sabtu (29/11/2025), sejumlah minimarket menjadi sasaran penjarahan oleh warga yang terdampak banjir di Sibolga, Sumatera Utara, dan wilayah sekitarnya. Peristiwa ini menunjukkan kondisi darurat yang dialami masyarakat setempat akibat bencana alam yang terjadi. Salah satu warga, Baim, mengungkapkan bahwa tindakan tersebut dilakukan karena minimnya bantuan yang diterima. Ia menyatakan, “Kami terpaksa mengambil ini karena bantuan untuk makan tidak juga datang.”

Aksi penjarahan ini juga dikonfirmasi oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Menurutnya, kejadian ini terjadi karena beberapa wilayah terdampak bencana sulit dijangkau, sehingga pengiriman bantuan logistik terhambat. “Kebanyakan yang terekspos itu di daerah Sibolga. Memang banyak daerah yang terisolasi dan tidak mudah untuk melakukan dropping bantuan,” kata Tito saat berbicara di Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat. Ia menambahkan, “Stok mereka mungkin kurang, lapar, lalu ada yang masuk ke pertokoan.”

Penjelasan di Balik Perilaku “Penjarahan” Korban Bencana

Dari sudut pandang psikologi, apa yang membuat sebagian warga memilih menjarah minimarket alih-alih menunggu bantuan datang? Psikolog sekaligus dosen di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Ratna Yunita Setiyani Subardjo, menjelaskan bahwa fenomena ini dapat dipahami melalui beberapa teori psikologi:

  1. Teori Hierarki Kebutuhan Maslow

    Warga yang terkena dampak bencana mungkin mengalami kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi, seperti kebutuhan fisiologis (makanan, air, dan tempat tinggal). Ketika kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, individu dapat mengalami stres dan kecemasan yang tinggi, yang dapat memengaruhi perilaku mereka.

  2. Teori Reaksi terhadap Stres

    Warga yang terkena dampak bencana mungkin mengalami stres yang tinggi akibat bencana tersebut. Stres dapat memengaruhi kemampuan individu untuk membuat keputusan rasional dan memicu perilaku impulsif, seperti penjarahan.

  3. Teori Identitas Sosial

    Warga yang merasa menjadi bagian dari kelompok korban bencana bisa terdorong melakukan tindakan tertentu karena merasa “seperjuangan”. Identitas sosial ini dapat mempengaruhi perilaku mereka dan membuat mereka merasa bahwa penjarahan adalah cara untuk memenuhi kebutuhan mereka.

  4. Teori Deindividuasi

    Dalam situasi kelompok, individu dapat mengalami deindividuasi, yaitu kehilangan identitas diri dan rasa tanggung jawab. Hal ini dapat membuat individu lebih cenderung untuk melakukan perilaku yang tidak biasa, seperti penjarahan. Namun, perlu diingat bahwa penjarahan tidak dapat dibenarkan dan dapat memiliki konsekuensi yang serius.

Ratna menambahkan, pemerintah dan lembaga bantuan harus memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi dengan baik agar perilaku-perilaku tersebut tidak terjadi.

Respons Pemerintah Terkait Penjarahan Minimarket

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menanggapi kasus penjarahan di Sibolga yang dipicu dampak banjir dan tanah longsor. Ia menegaskan bahwa pemerintah terus menyalurkan bantuan, termasuk melalui jalur udara untuk wilayah yang terisolasi. “Tentu ada kendala dalam pengiriman bantuan, salah satunya medan berat. Maka diperlukan bantuan udara seperti helikopter dan pesawat. Semua sudah turun tangan, walaupun medan cukup berat,” ujarnya.

Ia menegaskan, pemerintah bekerja maksimal membantu korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. “Pemerintah bekerja keras. Tidak mungkin membiarkan. Presiden memberikan atensi khusus dan perintah kepada TNI, Polri, BNPB, hingga BUMN seperti PLN dan Pertamina untuk turun tangan,” terangnya.

Selain itu, pemerintah juga memberikan bantuan berupa santunan:

Rp 15 juta bagi korban meninggal dunia

Rp 5 juta bagi korban luka berat

Kementerian Sosial (Kemensos) juga memperkuat bantuan logistik bagi tiga provinsi tersebut. Hingga Senin (1/12/2025), total nilai bantuan yang telah didistribusikan mencapai Rp 14,5 miliar, ditambah layanan dapur umum senilai sekitar Rp 4,5 miliar.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat hingga hari ini tercatat sebanyak 631 jiwa, dengan 472 jiwa dilaporkan hilang. Jumlah korban terluka tercatat sebanyak 2.600 orang, dengan korban yang mengungsi sebanyak 1 juta jiwa.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *