Budaya  

Hujan Mengancam, Kenangan Banjir 2016 Masih Terasa

Warga Pangkalpinang Tetap Siaga Hadapi Banjir Tahunan

Hujan selalu membangunkan kewaspadaan perempuan 59 tahun itu. Bukan hanya hujan deras, tapi juga saat rintik air mulai membasahi tanah. Jika hal itu terjadi, dia bergegas memindahkan barang-barang ke tempat lebih tinggi, memasukkan pakaian ke dalam dus, dan menutup rapat pintu rumah agar air tidak mudah masuk. Kewaspadaan ini tidak terlepas dari kenangan pahit yang dialaminya pada tahun 2016 silam.

Erna (59), warga Gang Merpati, Kecamatan Rawabangun, Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mengaku kewaspadaan itu mulai terbentuk pascabanjir besar yang terjadi pada tahun 2016 silam. Musibah pada saat itu menjadi kenangan pahit yang melekat di hati Erna. “Jangankan hujan lebat, hujan sedikit saja sudah khawatir. Kalau lihat air mulai menggenang langsung cemas, karena air itu cepat naik kalau banjir,” tuturnya pelan sambil menatap aliran air dari selokan depan rumahnya, Selasa (2/12).

Erna mengingat saat banjir 2016, air naik begitu cepat hingga hampir menenggelamkan rumahnya. “Dulu 2016 banjir setengah rumah terendam. Kulkas, blender rusak, banyak barang harus dijemur supaya bisa dipakai lagi karena lumpurnya banyak,” ucapnya sambil menarik napas panjang, seolah kembali merasakan suasana panik sembilan tahun lalu.

Sejak peristiwa itu, Erna terbiasa hidup dalam kesiapsiagaan. Setiap hujan deras turun, ia segera memindahkan barang-barang ke tempat lebih tinggi, memasukkan pakaian ke dalam dus, dan menutup rapat pintu rumah agar air tidak mudah masuk. “Kami sudah biasa. Kalau hujan deras, langsung waspada dan amankan barang-barang,” katanya.

Namun di balik kebiasaan itu, ia menyimpan harapan besar. Ia meyakini penataan drainase menjadi kunci agar warga tak lagi hidup dalam ketakutan. “Harapannya bandar dibuat supaya airnya mengalir dan tidak tergenang. Kalau tergenang, air cepat naik dan bisa banjir, apalagi kalau hujannya lama,” ucapnya.

Penyesuaian Rumah untuk Menghadapi Banjir

Serupa disampaikan Yanti (52) yang tinggal di kawasan yang sama. Selasa (2/12) sore, dia tampak sibuk mengatur tumpukan pakaian yang ia letakkan di atas kasur yang sengaja di tempatkan lebih tinggi dari lantai. Kasur itu ditopang kursi dan kayukayu lain. Inilah bentuk pertahanan yang ia bangun sendiri sejak hampir tiga dekade lalu untuk menyelamatkan barang-barang dari banjir tahunan.

Ia juga memperlihatkan bagian kamar tidur lain yang memiliki ranjang dibuat jauh lebih tinggi bahkan hampir menyentuh langit-langit. Menurutnya, ranjang tinggi itu sudah lama menjadi benteng terakhir ketika air mulai naik lebih parah dari biasanya. Yanti sudah tinggal di rumah ini sejak 1996, dan sejak itu pula banjir menjadi tamu tahunan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Rumah sederhana itu memang berada di kawasan yang dikenal sebagai titik rawan banjir di Pangkalpinang. “Setiap tahun pasti ada banjir, pasti ada yang parah. Paling tidak setinggi betis orang dewasa,” ujar Yanti. Saat wartawan mengunjungi rumahnya, hampir seluruh barang berharga sudah dinaikkan ke tempat yang lebih tinggi. Kasur-kasur, baju, hingga dokumen penting keluarga sudah ditata rapi di bagian atas. Sebagian kasur terlihat rusak di bagian bawah bekas sering terendam banjir.

Antisipasi dan Harapan Warga

Antisipasi itu bukan tanpa alasan. Yanti masih mengingat banjir besar tahun 2016, peristiwa yang merendam seluruh bagian rumahnya hingga membuatnya kesulitan menyelamatkan barang-barang. Sejak itu, ia dan keluarga sepakat membuat ranjang tinggi sebagai penyelamat. Meski sudah puluhan kali menjadi korban banjir, Yanti tak pernah berniat pindah rumah. “Tanah di Pangkalpinang mahal. Lagian rumah ini dekat pasar, dekat ke mana-mana. Enak tinggal di sini,” katanya sambil tersenyum kecil.

Baginya, banjir bukan alasan untuk meninggalkan tempat yang sudah memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. “Kan banjirnya tidak setiap hari. Masih amanlah. Tapi setahun-sekali pasti ada yang parah itu, banjir tahunannya,” ungkap Yanti.

BPBD Memperkuat Mitigasi Bencana

Penghujung 2025 menjadi masa penuh kewaspadaan bagi masyarakat Bangka Belitung. Data Pusdalops BPBD mencatat 115 kejadian bencana alam sepanjang 1 Januari hingga 28 November 2025. Peristiwa banjir, angin kencang, hingga kebakaran hutan dan lahan terjadi silih berganti dan berdampak pada ribuan warga. Sebanyak 1.591 KK atau 4.735 jiwa terdampak, dengan ratusan bangunan mengalami kerusakan ringan, sedang, maupun berat.

Bangka Tengah menjadi daerah dengan jumlah kejadian bencana terbanyak, disusul Bangka Barat dan Bangka. Dari seluruh kejadian tersebut, banjir tercatat sebanyak 22 kali dan menjadi salah satu bencana yang paling meresahkan, terutama di wilayah-wilayah langganan luapan air seperti tempat tinggal Erna dan Yanti.

Di sisi lain, pemerintah provinsi menilai rangkaian bencana belakangan ini bukan kejadian tunggal. Kepala BPBD Provinsi Bangka Belitung, Budi Utama, menyebut cuaca ekstrem menjadi pemicu utama berbagai bencana yang terjadi. “Bencana yang biasa terjadi itu cuaca ekstrem, antara lain angin kencang, angin puting beliung, karhutla, dan banjir atau banjir rob,” kata Budi.

Ia menegaskan BPBD terus memperkuat langkah pencegahan dan mitigasi. Pemantauan cuaca secara berkala, apel siaga, hingga sosialisasi dan edukasi kebencanaan rutin dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. “Upaya ini penting agar risiko bencana dapat diminimalisir,” terangnya.

Imbauan kewaspadaan juga disampaikan Kepala BPBD Kabupaten Bangka Barat, Safrizal saat ditemui Bangkapos.com, Selasa (2/12). Dia mengatakan, pihaknya telah meningkatkan pemantauan perkembangan cuaca dan berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait untuk kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. Menurutnya, Kabupaten Bangka Barat, di sejumlah kecamatan, memiliki potensi banjir, ketika musim hujan. Seperti Kecamatan Mentok, Parittiga, dan Jebus. Untuk mengatasi potensi banjir yang terjadi, BPBD telah menyiapkan semua kebutuhan kebencanaan.


Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *