Dokter Rohmatyah Bocorkan Penyebab Anak Muda Gorontalo Mudah Stres

Anak Muda Gorontalo Menghadapi Tekanan Mental yang Meningkat

Anak muda di Gorontalo kini semakin rentan mengalami stres, kecemasan, dan tekanan mental. Hal ini diungkapkan oleh Spesialis Kedokteran Jiwa, Dokter Rohmatyah Suaib, SpKJ. Menurutnya, masalah kesehatan mental di Gorontalo sudah cukup tinggi sejak beberapa tahun terakhir.

Data yang Mengkhawatirkan

Rohmatyah merujuk pada data Riskesdas 2018 yang menunjukkan bahwa prevalensi atau presentase gangguan mental emosional usia 15 tahun ke atas di Gorontalo mencapai 17,7 persen, jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional yang hanya 9,8 persen. Data lain yang lebih baru bahkan menyebutkan angkanya naik menjadi 19,8 persen.

“Ini menunjukkan masalah kesehatan mental bukan hal kecil. Anak muda di Gorontalo semakin banyak yang merasakan tekanan, dan mereka datang karena mulai bingung harus bagaimana,” ujarnya.

Menurutnya, peningkatan gejala stres dan kec anxiety juga selaras dengan laporan lembaga internasional. World Health Organization (WHO) mencatat adanya lonjakan sekitar 25 persen kasus kecemasan dan depresi dunia pada tahun pertama pandemi. Di Indonesia, survei INAMHS menemukan bahwa satu dari tiga remaja mengalami masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir.

Faktor Pemicu Stres yang Multifaktorial

Rohmatyah menilai faktor pemicu stres anak muda di Gorontalo bersifat multifaktorial. “Semua saling terkait pola asuh, lingkungan, resiliensi individu, sampai faktor genetik. Tidak bisa disederhanakan hanya satu penyebab,” katanya.

Meski begitu, ia mengakui tekanan ekonomi adalah yang paling sering muncul. Banyak mahasiswa dan pekerja muda yang datang dengan keluhan beban pekerjaan, tuntutan finansial, hingga rasa gagal membangun karier.

“Tekanan ekonomi itu sangat berpengaruh. Mereka merasa harus cepat berhasil, sementara kesempatan dan situasi hidup tidak selalu mendukung,” jelasnya.

Selain itu, faktor hubungan seperti pernikahan muda, konflik pasangan, hingga tanggung jawab rumah tangga yang datang terlalu cepat turut memberikan tekanan besar. Rohmatyah menjelaskan bahwa pasangan usia muda rentan mengalami kecemasan, stres kronis, bahkan burnout.

“Ada yang belum matang emosional, tapi sudah harus mengurus rumah tangga, menghadapi masalah ekonomi, dan tetap mengejar pendidikan. Itu sangat berat untuk usia mereka,” ucapnya.

Dampak Media Sosial

Media sosial juga menjadi pemicu lain yang tak bisa dihindari. Banyak anak muda merasa kalah atau tertinggal hanya karena membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Sosial media memang menjadi simbol kemajuan zaman namun memiliki efek samping yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang.

“Banyak yang datang dengan keluhan merasa tidak berharga setelah lihat kegiatan atau pencapaian orang lain di media sosial. Ini memengaruhi kesehatan mental mereka,” katanya.

Gejala Stres yang Berkepanjangan

Gejala stres berkepanjangan, kata dia, terlihat dari turunnya produktivitas. Anak muda kerap mengeluh sulit fokus, tidak bersemangat, hingga sering sakit kepala dan sulit tidur.

“Ada yang datang dan bilang energi mereka hilang. Mereka cepat lelah, tidak semangat bangun pagi, dan tidak menikmati hal-hal yang dulu mereka sukai, gejala depersonalisasi, pencapaian menurun itu tanda-tanda burnout,” terangnya.

Kesadaran Anak Muda yang Berkembang

Dirinya menambahkan, sebagian anak muda memilih diam karena merasa tidak didukung keluarga. Beberapa pasiennya mengaku takut dianggap lebay atau kurang bersyukur ketika mencoba bercerita soal beban pikiran.

“Ada yang bilang kalau cerita sedikit soal masalahnya, mereka langsung dicap drama. Padahal mereka butuh ruang aman untuk bicara,” tambahnya.

Namun, ia menilai kesadaran anak muda untuk mencari pertolongan mulai meningkat. Banyak yang datang sendiri ke psikolog atau psikiater.

“Insight mereka sudah mulai baik. Tapi stigma masih ada. Masih ada anggapan bahwa ke psikiater berarti gila. Ini harus diluruskan,” tegasnya.

Pentingnya Langkah Cepat dan Peran Keluarga

Rohmatyah menekankan pentingnya langkah cepat saat stres mulai muncul. Ia menyarankan anak muda segera berkonsultasi jika gejala tak kunjung membaik.

“Kalau sudah sulit tidur, kehilangan minat, atau merasa hidup tidak berarti, itu waktunya mencari bantuan profesional,” ujarnya.

Ia juga menegaskan peran keluarga sangat besar dalam membantu pemulihan mental remaja dan dewasa muda.

“Keluarga itu fondasi. Kalau mereka peka dan mau mendengar, itu sudah membantu separuh proses pemulihan,” katanya.

Saran untuk Pemerintah dan Lembaga Pendidikan

Di sisi lain, ia memberikan sejumlah saran untuk pemerintah dan lembaga pendidikan. Menurutnya, diperlukan skrining berkala, penguatan guru BK, edukasi mental health, hingga peningkatan akses layanan psikologis di daerah.

“Sekolah dan pemerintah harus bekerja sama. Anak muda perlu lingkungan yang aman, sistem yang mendukung, dan akses layanan yang mudah dijangkau,” tandasnya.


Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *