Budaya  

Pameran Zeta: Mengikat Masa Lalu dan Masa Depan

Pameran Tunggal Zeta Ranniry Abidin: Menggabungkan Sejarah dan Imajinasi

Zeta Ranniry Abidin, seorang seniman muda lulusan pendidikan seni rupa di Universitas Kristen Maranatha 2025, menggelar pameran tunggal yang berjudul Recall History; Foresee Destiny di Galeri Orbital Dago, Bandung, mulai tanggal 12 hingga 23 November 2025. Pameran ini menampilkan karya-karya lukisan, gambar, dan seni interaktif yang memadukan sejarah dengan imajinasinya.

Karya-Karya yang Mewakili Perjalanan Peradaban

Di bagian yang berkaitan dengan sejarah, Zeta menampilkan tiga karya yang memiliki ukuran sama yaitu 150 x 200 sentimeter. Ketiga lukisan tersebut menggambarkan tiga ratu sebagai simbol perjalanan peradaban, dengan gaya kolase. Judul dari karya-karya itu adalah “Gayatri Rajapatni- Wisdom Consciousness”, kemudian “Tribhuwana Tunggadewi- Grit Possibilities”, dan “Dyah Suhita- Resilience Enlightenment”. Menurut Zeta, gambarnya bukan sekadar tempelan, tetapi dibuat berlapis-lapis.

Selain itu, terdapat lukisan lain yang berbentuk lingkaran dengan berbagai ukuran yang dirangkai dengan judul serial “The Story of Panji #1 & #2”. Zeta menelusuri kembali kisah Panji yang banyak ditemukan pada relief di Candi Penataran. Pada karya tersebut, ia memasang garis mendatar di tengah sebagai pembatas waktu, membagi ruang antara masa lampau dan masa kini, antara mitos dan realitas. Ia pun berkhayal lewat gambarnya seakan hidup di masa cerita Panji.



Lukisan Zeta dengan judul serial “The Story of Panji #1 & #2”. Tempo/ANWAR SISWADI

Seni Interaktif untuk Harapan Masa Depan

Pada karya berjudul “Foresee Destiny”, Zeta merancangnya sebagai seni interaktif. Para pengunjung diajaknya untuk menuliskan harapan atau ramalan mereka tentang masa depan Indonesia. Ide itu merujuk tradisi ramalan Nusantara seperti dari Jayabaya yang menjadi simbol harapan dan peringatan bagi sebagian orang dalam perjalanan bangsa. Karya ini berusaha menafsirkan kembali fungsi seni sebagai wahana membaca tanda-tanda zaman, menyentuh dimensi spiritual, sosial, dan politik yang selalu hadir dalam sejarah Indonesia.

Inspirasi dari Sejarah Masa Lalu

Ketertarikannya pada sejarah masa lalu menurut Zeta muncul semasa Sekolah Menengah Atas. Tiap pulang ke kampung halaman ayahnya di Kediri, Jawa Timur, peninggalan kerajaan masa lalu di daerah itu dan sekitarnya menempel dalam ingatannya. Kenangan itu lantas menginspirasinya untuk dijadikan topik tugas akhir kuliah yang ditindak lanjuti kemudian dengan riset di lokasi Candi Penataran.

Lewat pameran tunggalnya itu, Zeta berupaya merangkai kembali fragmen masa lalu sebagai refleksi terhadap masa depan. Baginya, mengingat sejarah bukan nostalgia melainkan kesadaran untuk menatap jauh ke depan dengan memahami dari mana manusia berasal.

Profil Zeta Ranniry Abidin

Gemar melukis sejak sekolah, Zeta pernah mendapat penghargaan sebagai juara melukis nasional dan beberapa kompetisi serupa tingkat SMA. Prestasi terbarunya yaitu memperoleh Bronze Award 13th UOB Painting of The Year Competition 2023 untuk kategori Emerging Artist.

Beberapa pameran tunggal sebelumnya seperti “The Miracle Of Selftalk, Miracle Aesthetic Clinic” pada 2022, kemudian “Re:Play, Unicorn Creative Space (2022), dan “Milestone-17” di Vasa Hotel Surabaya (2017). Sementara beberapa pameran kelompok, antara lain 1st Grey Annual Award, Grey Art Gallery (2024), Motif: Lamaran ArtJog, Jogja National Museum (2023), Art Moment 3 Jakarta, dan Asia International Friendship Exhibition 2022, Tokyo (2022).

Faridah Hasna

Reporter berita yang mengulas peristiwa cepat dan trending topic. Ia gemar memantau media sosial, mencoba aplikasi baru, dan membuat konten singkat. Waktu senggangnya dihabiskan dengan mendengarkan podcast opini. Motto: “Kecepatan harus sejalan dengan ketepatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *