DENPASAR,
Sebelum perayaan Galungan dan Kuningan, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar menemukan enam produk makanan yang mengandung bahan berbahaya. Penelusuran dilakukan langsung di Pasar Kreneng, Denpasar, Bali, dan hasilnya cukup mengkhawatirkan bagi masyarakat yang sedang mempersiapkan kebutuhan upakara maupun konsumsi harian.
Kepala BBPOM Denpasar, I Gusti Ayu Adhi Aryapatni, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan penelusuran pasar sejak pagi hari dan mengambil 22 sampel produk yang sering dibeli masyarakat untuk kebutuhan hari raya. Dari jumlah tersebut, enam produk ditemukan tidak memenuhi syarat. Totalnya mencapai 27 persen positif, dengan tiga produk positif formalin dan tiga lainnya positif rhodamin B.
Produk yang diperiksa melibatkan empat jenis bahan berbahaya, yaitu rhodamin B, formalin, boraks, dan metanil yellow. Beberapa sampel dipilih karena tampilan fisiknya mencurigakan. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa kecurigaan tim terbukti.
Berikut rincian produk yang diuji dan jenis bahan berbahaya yang ditemukan:
-
Uji Rhodamin B (10 produk)
Termasuk: terasi lombok, jajan kukus, jaja begina, arum manis, biji pink daluman, serta berbagai jajan Bali upakara. -
Uji Formalin (8 produk)
Termasuk: cumi, teri medan, dan sudang lepet. -
Uji Boraks
Untuk jenis krupuk. -
Uji Metanil Yellow
Pada roti kukus.
Dari pemeriksaan tersebut, tiga produk mengandung formalin, termasuk teri medan, cumi kering, dan cumi basah, dengan kadar formalin mencapai 13,5 persen. Tiga produk lainnya mengandung rhodamin B, ditandai dengan “cincin pink” pada sampel dalam tabung reaksi.
“Yang positif rhodamin B itu ada tiga, jadi ada terasi lombok dan terasinya ini juga tanpa izin edar, tiga-tiganya terasi yang kita cek positif 13,5 persen, di atasnya ada cincin pink, kalau tidak mengandung tidak ada cincin,” paparnya.
Penanganan yang dilakukan oleh BBPOM adalah tidak melakukan penyitaan terhadap produk-produk tersebut. Para pedagang hanya diminta menghentikan penjualan dan mengembalikan produk kepada penyedia agar tidak mengalami kerugian modal. Selain itu, BBPOM akan menelusuri lokasi produksi produk-produk tersebut untuk mengetahui sumber awalnya.
Ayu Adhi juga mengimbau masyarakat Bali agar lebih teliti, terutama pada produk berwarna mencolok. “Kalau Galungan justru yang jajan-jajan untuk sajen ini selalu cek juga higienisnya, bagaimana kondisi lingkungannya agar bersih, kalau cemaran kimia yang warna-warna mencolok ini, juga jangan lupa cek KLIK yaitu kemasan, label, izin, dan kedaluwarsanya,” ujarnya.
Kepala Pasar Unit Pasar Kreneng Denpasar, I Gusti Ngurah Arya Kusuma, memastikan akan mengikuti arahan BBPOM. “Yang jelas kami suruh berhenti dulu, kalau penyitaan belum ada perintah jadi kami imbau bagaimana menghentikan barang tersebut, tegur lagi kalau dijual kembali, kami evaluasi,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pengawasan akan diperketat, meski sering menghadapi trik pedagang. “Biasanya kami diajak kucing-kucingan seperti sekarang pedagang yang ditemukan itu sudah tutup tapi besok kami akan turun mengawasinya,” sambungnya.












