Perjuangan Anak-Anak Kampung Citamiang dalam Menempuh Jalur Ekstrem ke Sekolah
Di tengah perjalanan yang penuh tantangan, anak-anak Kampung Citamiang, Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, terus bersemangat menghadapi hari-hari mereka. Setiap pagi, sejak adzan subuh berkumandang, mereka sudah bersiap untuk menempuh perjalanan ekstrem menuju sekolah. Meski kondisi jalan dan medan yang harus dilalui sangat berat, semangat mereka tidak pernah padam.
Perjalanan yang Membutuhkan Keberanian
Perjalanan dimulai dari ujung kampung yang berbatasan dengan Sungai Cisanggiri. Di bawah lampu teras rumah warga, para siswa duduk sambil sarapan nasi yang dibungkus plastik. Mereka kemudian berjalan menuju jembatan rawayan sepanjang 70 meter yang hanya dibatasi tali seling baja. Jembatan ini menjadi penghalang utama yang harus mereka lalui setiap hari.
Setelah menyeberangi jembatan, mereka menghadapi jalan berbatu basah akibat hujan. Medan ini harus mereka lalui sekitar tiga kilometer untuk mencapai SDN Cikondang 1. Sementara siswa SMP dan SMA melanjutkan perjalanan lebih jauh melewati jalan desa yang sudah dirabat beton. Namun, perjalanan melalui hutan kecil dan kebun yang masih gelap tetap menjadi tantangan tersendiri.
Berbagi Rasa Takut dan Semangat
Para siswa biasanya berangkat bersama-sama karena medan yang menakutkan. Setelah satu jam perjalanan, mereka tiba di saung kecil di tepi sawah untuk beristirahat sejenak. Dari titik ini, rombongan mulai terpecah menjadi beberapa kelompok. Tiba di ujung kampung, mereka mengganti sandal yang sejak dari rumah dibungkus plastik dengan sepatu sekolah.
Nazwa (15), siswi kelas delapan SMPN 4 Cisompet, mengatakan bahwa ia tetap ingin melanjutkan pendidikan hingga SMA meskipun harus berjalan jauh. Hal serupa disampaikan oleh Aos (13), siswa kelas enam SDN Cikondang 1, yang mengaku tetap bersemangat berangkat sekolah meski harus berjalan saat hujan.
Upaya untuk Menyampaikan Pesan
Anita (27), orangtua siswa, hampir setiap hari mendampingi para anak berangkat sekolah. Ia kerap membuat rekaman perjalanan mereka dan membagikannya di media sosial hingga mendapat perhatian warganet. “Saya ingin orang di luar melihat dan berharap jalannya bisa diperbaiki, kasihan anak-anak,” kata Anita.
Ayat Hidayat (32), anggota BPD Cikondang, menjelaskan bahwa perjuangan anak-anak Citamiang sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu. Pada 2014, pemerintah membangun jembatan rawayan baru menggunakan bantuan luar negeri, dan beberapa tahun terakhir jalan mulai diperkeras, meski belum seluruhnya.
Prestasi yang Menginspirasi
Kepala SDN Cikondang 1, Neli Andriany, mengatakan bahwa siswa dari Citamiang dikenal memiliki prestasi yang baik, termasuk seni tradisional pupuh Sunda. “Rata-rata masuk sepuluh besar. Semangat mereka bagus,” ujar Neli. Meski prestasi akademik menurun sejak adanya akses listrik dan jaringan telepon, semangat mereka untuk tetap bersekolah tidak surut.
Penyebab Sulitnya Akses
Akses buruk anak-anak di pedalaman Indonesia menuju sekolah setiap hari disebabkan oleh kombinasi faktor geografis, infrastruktur, ekonomi, dan sosial. Secara geografis, banyak wilayah pedalaman terletak di daerah pegunungan, hutan lebat, atau pulau terpencil yang sulit dijangkau. Kondisi alam seperti sungai besar tanpa jembatan, jalan berlumpur saat musim hujan, dan jarak antarpermukiman yang jauh membuat perjalanan ke sekolah menjadi sangat sulit.
Dari sisi infrastruktur, pembangunan jalan, transportasi umum, dan fasilitas pendidikan di daerah-daerah terpencil masih sangat terbatas karena minimnya anggaran dan sulitnya akses logistik. Faktor ekonomi juga berperan, karena banyak keluarga di pedalaman hidup dalam keterbatasan sehingga tidak mampu menyediakan sarana transportasi yang layak bagi anak-anak mereka.
Selain itu, faktor sosial seperti rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan dan kekurangan tenaga guru di daerah pedalaman turut memperparah kondisi tersebut. Semua faktor ini saling terkait dan menciptakan lingkaran masalah yang membuat anak-anak di pedalaman menghadapi tantangan besar untuk mendapatkan pendidikan yang layak.












