Kehilangan yang Membawa Kebahagiaan

Kehadiran Katty, Kucing Anggora yang Tidak Sepenuhnya Disukai

Pada suatu hari, seorang keponakan membawa kucing anggora ke rumah orang tua kami. Kucing berbulu lebat dengan warna dominan cokelat dibawa dalam sebuah pet cargo. Dalam perjalanan, terdapat persediaan makanan dan sejumlah pernak-pernik yang dibutuhkan untuk memastikan kenyamanan Katty selama tinggal di rumah.

Singkat cerita, kucing anggora yang kemudian diberi nama ‘Katty’ dirawat di rumah orang tua kami. Awalnya, kehadiran Katty membuat semua penghuni rumah senang. Beberapa dari mereka bahkan sesekali ikut membantu menyediakan makanan atau membersihkan kandang.

Katty tergolong kucing yang cerdas pada awalnya. Ia tidur teratur dan masuk ke kandangnya tanpa dituntun. Perilakunya manja, geraknya lemah lembut seperti putri raja. Jika ingin kencing atau membuang kotoran, Katty akan mencari wadah yang sudah diberi pasir bentonite.

Namun, Katty sendirian. Tak punya teman senegara. Ia asing, sebagai hewan WNA. Ia dikabarkan berasal dari Ankara Turki. Entah kehadirannya di tanah air membekal visa dan paspor atau tidak. Sebab ditakutkan Katty akan dicari petugas imigrasi untuk dideportasi seperti Kobe, anjing jenis French bulldog milik pebasket Lamar Patterson.

Dalam kesendirian, Katty tampak berupaya keras untuk beradaptasi dengan lingkungan, yang sangat cenderung tidak sesuai dengan habitat asalnya. Ia tampak stres saat kondisi rumah orang tua kami memang tidak cukup memadai untuknya.

Di sisi lain, perilakunya pada saat didekati atau melakukan pendekatan dengan kucing lokal justru tampak membuat stres yang dialami Katty semakin meningkat. Katty mulai sering menunjukkan amarah. Kencing dan membuang kotoran sembarangan. Tidak lagi pada wadah berpasir bentonite.

Keadaan itu diperparah oleh perawatan, pengurusan dan pengawasan yang jauh berkurang akibat kesibukan keponakan saya sebagai pemiliknya. Hingga suatu hari Katty terlihat diam, murung dan lemah.

Sesekali justru tampak tak bisa diam. Kadang menggeliatkan tubuhnya yang sudah mengecil, ke lantai, dinding atau pembatas kandang seolah sedang merasakan gatal, panas dan ada sesuatu yang mengganggu tubuhnya.

Ketika pada akhirnya Katty dibawa ke dokter hewan untuk diperiksa, ternyata Katty terkena semacam ektoparasit. Serangan kutu pinjal atau flea yang membuat Katty bertambah stres, lemah dan kurus.

Tetapi yang mengejutkan bagi saya, yang kebetulan turut membawa Katty berkunjung ke dokter hewan untuk diperiksa adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk jasa dokter hewan, tindakan dan satu jenis obat yang diberikan cukup besar. Yaitu sebesar Rp 200.000. Angka yang sungguh besar saat itu jika dibandingkan dengan berkunjung ke dokter umum yang berkisar Rp 30.000-Rp 100.000-an bahkan berikut obat.

Setelah dibawa pada dokter hewan, Katty pulih. Namun perubahan pada perilakunya tak bisa dihindari. Katty menjadi liar. Mudah marah, kencing, buang kotoran dan tidur di sembarang tempat. Ia mulai mengejar-ngejar tikus dan memakannya seperti kucing lokal. Semua penghuni dibuat bingung dan kesal.

Hingga pada suatu waktu, Katty sering keluar rumah dan kembali untuk waktu yang cukup lama. Pada awalnya, Katty hanya berkeliaran di halaman dan atap rumah serta sebatas rumah tetangga sampai kemudian Katty tak pernah kembali lagi ke rumah orang tua kami. Hilang.

Bagi keponakan saya yang menjadi pemilik dan pemelihara Katty, ia merilis kehilangan kucing kesayangannya dengan kesedihan. Bagi kakak dan ibu, saya menduga kehilangan Katty adalah kelegaan. Keduanya tak lagi harus ikut bersusah-susah memberi makan, membersihkan kandang dan mencari keberadaan Katty.

Sementara bagi saya, selain kelegaan ada sedikit kebebasan karena bulu kucing adalah salah satu tersangka yang sangat berpotensi memicu alergi yang bisa mengakibatkan asma saya pada saat-saat itu, kumat.

Keberartian Kehilangan

Kehilangan adalah soal patah hati. Kesedihan tentang kebersamaan yang tiba-tiba berhenti. Kenangan dalam suka dan duka yang tak mungkin bisa terulang lagi. Ingatan akan segala keindahan, keterlibatan dan keterikatan emosional yang harus segera dilupakan saat ditinggal mati.

Tetapi kehilangan bisa menjadi suka cita ketika melepaskan belenggu dan meninggalkan kebebasan. Kehilangan itu napas hidup baru saat ketersiksaan berlalu pergi. Menghadirkan kelegaan dan membuat lupa pada kehampaan. Juga pertanda berakhirnya luka, derita dan air mata yang mampu membuat bahagia.

Lubuk hati terdalam tak mungkin bisa dibohongi saat ada salah seorang anggota keluarga yang tiap detik menyusahkan, melakukan fitnah, bermalas-malasan, tukang berkelahi, pecandu narkoba, penggoda anak istri orang dan membuat nama besar keluarga selalu buruk tanpa ada satu pun perilaku baik atau kebaikan yang dilakukan dalam hidupnya–keluarga akan menangisi kehilangan saat tiba-tiba ajal menjemputnya.

Adalah rilisan kehilangan palsu ketika seorang kekasih yang toxic, temperamental sehingga sering melakukan kekerasan dalam hubungan atau Intimate Partner Violence (IPV), matre abis, tukang selingkuh dan berbagai keburukan yang membuat hidup dalam ketersiksaan setiap hari–nyawanya dicabut Tuhan, merilis bahwa dirinya galau hingga depresi akibat ditinggal pergi.

Tidak mungkin orang-orang di sudut pasar ikut berduka cita saat seorang preman pengganggu para pedagang dan konsumen dengan menarik paksa iuran setiap hari, dinyatakan tewas akibat kalah berduel dengan salah seorang yang dipalak pakai kekerasan fisik tetapi berani melawan.

Pastinya, kaum Yahudi bersorak gembira waktu terbebas dari holokaus pada momen Hitler dan balatentara nazinya kalah perang. Terlebih ketika kemudian Hitler dinyatakan kehilangan nyawa. Bahkan mungkin bagi prajuritnya yang tersisa, merilis kesedihan adalah tipuan.

Ketika kehilangan membuat bahagia, kehilangan tidak selalu membawa luka, derita, kecewa, kesedihan, tangis dan air mata. Dari kehilangan manusia belajar dan diajarkan oleh keadaan untuk bisa menerima takdir apa pun yang diberikan Tuhan. Belajar untuk tetap tegar, tidak putus asa, percaya diri dan yakin bahwa di balik setiap kesulitan ada kemudahan. Di balik musibah ada hikmah.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *