Budaya  

Kisah Sentot, Penjual Tahok Pak Citro di Pasar Gede Solo, Laku 160 Porsi Akhir Pekan

Khas Solo: Keunikan dan Sejarah Tahok Pak Citro

Tahok Pak Citro, sebuah usaha kuliner khas Solo yang telah berdiri sejak tahun 1968, terkenal dengan cita rasa yang unik dan daya tariknya yang kuat. Pemilik generasi kedua, Sentot, menjelaskan bahwa penjualan tahok di tempatnya selalu habis terjual setiap hari, bahkan pada akhir pekan bisa mencapai 160 porsi per hari.

“Ramainya Sabtu Minggu hari libur. Natalan tahun baru ramai juga. Hari libur orang luar kota banyak. Bisa 2 kaleng. Hari biasa 1 kaleng,” ujarnya. Penjualan ini dilakukan sejak pukul 05.00 pagi hingga selesai. Harga yang ditawarkan hanya Rp 10 ribu, namun pengunjung merasa puas dengan rasa yang lezat dan hangat.

Cita Rasa yang Menarik Perhatian

Saat mencicipi tahok buatan Sentot, aroma saripati kedelai yang kuat langsung menyeruak. Kuah jahe gula yang disajikan bersama tahok mirip dengan wedang ronde. Jahe dan gula dipadu dengan daun serai, daun jeruk, dan daun pandan mengiringi lembutnya saripati kedelai membuat tubuh terasa hangat.

“Kuahnya gula jahe. Jahe direbus sampai pedas baru masuk gula. Bahannya daun serai, daun jeruk, daun pandan,” jelas Sentot. Cita rasa ini membuat tahok menjadi favorit para pecinta kuliner di Solo.

Sejarah dan Perkembangan Usaha

Tahok Pak Citro adalah salah satu kuliner legendaris yang sudah ada sejak tahun 1968. Awalnya, ayah Sentot berjualan keliling dari pasar ke pasar. Dari Pasar Legi, Pasar Ledoksari, hingga Pasar Gede. Baru sekitar tahun 2004 ia mulai mangkal di Pasar Gede.

“Mulai 2004 mangkal di Pasar Gede. Dulu pakai pikulan awalnya. 2010 ganti gerobak. Pasar Legi, Pasar Ledoksari, Pasar Gede,” jelasnya. Sentot sendiri mulai menggantikan ayahnya tahun 2006 silam karena ayahnya sudah tua dan capek.

Meski telah dikenal legendaris, Sentot tetap menjaga sederhana. Ia mangkal di pinggir jalan dengan gerobak ala kadarnya. Pelanggan pun menikmati sajian tahok dengan kursi atau duduk di trotoar. Namun, karena cita rasanya yang tak terkalahkan, tempat yang ala kadarnya berasa makan di restoran mewah.

Cukup dengan kocek Rp 10 ribu, tahok bisa membuat mood langsung menyala menjadi nyawa sepanjang hari. Saat saya tanya, Sentot bukannya tak mau mengembangkan bisnisnya. Barangkali bisa melayani pelanggan dengan lebih baik menggunakan meja kursi beralaskan lantai keramik dan atap tebal. Ia kini menaruh harapan pada anak-anaknya.

Meski saat ini mereka tengah meniti karir di bidang masing-masing, ia berharap suatu saat ada yang mengembangkan usaha warisan ayahnya tersebut. “Sebenarnya pengen. Anak-anak belum pada siap. Masih pada kerja. Calonnya saya minta terusin. Sementara belum. Yang 2 masih ikut pemerintah. Yang satu kerja ikut orang. Anak 4 yang 3 udah kerja. Seumpama bisa keluar saya suruh gantiin,” ungkapnya.

Apa Itu Tahok?

Tahok merupakan salah satu minuman tradisional yang lekat dengan Kota Solo. Di balik rasanya yang sederhana dan menenangkan, tahok menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan akulturasi budaya Tionghoa dan masyarakat Jawa.

Kuliner ini mulai dikenal sejak tahun 1950-an, meski pada awalnya hanya dikonsumsi oleh komunitas Tionghoa yang tinggal di Jawa.

Seiring waktu, tahok perlahan diterima oleh masyarakat Jawa hingga akhirnya menjadi bagian dari identitas kuliner Solo. Kini, tahok dikenal sebagai salah satu sajian khas yang tidak dapat dipisahkan dari Kota Bengawan.

Asal Usul Tahok

Keberadaan tahok di Solo diyakini berkaitan dengan kedatangan masyarakat Tionghoa yang mengungsi ke Jawa pasca-kerusuhan etnis di Batavia pada tahun 1740. Para pengungsi tersebut kemudian menetap di Kartasura, wilayah yang letaknya tidak jauh dari Solo. Pada masa itu, mereka diterima oleh Paku Buwono II (PB II) yang tengah berkuasa.

Dalam perjalanannya, hubungan antara PB II dan masyarakat Tionghoa sempat diwarnai konflik besar yang dikenal sebagai Geger Pecinan Kartasura pada tahun 1742. Meski demikian, jejak budaya Tionghoa tetap bertahan, salah satunya melalui kuliner tahok.

Nama “tahok” sendiri berasal dari kata “Tao” atau “Teu” yang berarti kacang kedelai dan “Hoa” atau “Hu” yang berarti lumat. Karena pelafalan tersebut sulit diucapkan lidah Jawa, penyebutannya kemudian disederhanakan menjadi “tahok”.

Komposisi dan Ciri Khas

Tahok terbuat dari sari kacang kedelai yang dilumatkan hingga bertekstur lembut, menyerupai puding atau bubur sumsum. Hidangan ini disajikan dengan kuah manis berbahan gula merah yang direbus bersama daun pandan, sereh, dan jahe. Perpaduan tersebut menghasilkan rasa manis hangat yang khas dan menenangkan.

Selain lezat, tahok juga dipercaya memiliki berbagai manfaat kesehatan. Minuman ini dikenal dapat menghangatkan tubuh, meredakan masuk angin, serta memberikan rasa kenyang. Dalam kepercayaan tradisional, tahok juga dianggap baik untuk ibu hamil karena diyakini membantu kelancaran persalinan.

TAHOK PAK CITRO – Sentot, pemilik Tahok Pak Citro generasi kedua, saat melayani pembeli di Pasar Gede, Solo.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *