Mengusir Kesedihan Anak Penderita Tumor di Perbatasan Negara

Laporan tentang Anak Penderita Tumor di Kecamatan Naibenu

Di sebuah kampung kecil bernama Bobkase, RT/RW; 002/001, Desa Manamas Kecamatan Naibenu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi NTT, enam orang anak sedang bermain di halaman rumah. Ketika penulis tiba pada Selasa, 30 Desember 2025, aktivitas mereka sejenak terhenti. Raut heran tergambar jelas di wajah mereka.

Dua orang anak tanpa alas kaki seketika berlari masuk ke dalam rumah kecil sederhana berukuran 4×6 m⊃2;. Rumah ini memiliki dinding bebak (dinding yang terbuat dari atang Daun Lontar) dan lantai semen serta tanah. Kondisi ini cukup memprihatinkan. Ventilasi rumah tersebut tidak memadai. Kamar mandi sederhana dibangun di luar rumah.

Beberapa saat kemudian seorang pria paruh baya muncul dari balik pintu depan rumah. Pria ini bernama Vinsensius Bana, paman dari seorang bocah penderita tumor. Hari itu adalah kali kedua penulis berkunjung ke rumah ini. Kunjungan perdana dilaksanakan pada Kamis, 23 April 2025 lalu.

Rintik hujan menggasing perlahan di atap seng rumah pagi itu. Awan tebal menggantung pekat di jantung Desa Manamas. “Kami sekeluarga di sini sehat-sehat saja,” ujar Vinsensius dengan mata berbinar-binar.

Vinsensius mengajak penulis duduk di bangku sederhana di dalam ruang tamu rumah itu. Beberapa saat kemudian ia memanggil seorang bocah yang sedang bermain di halaman rumah untuk berbincang-bincang di ruangan itu.

Menderita Tumor

Anak tersebut bernama Juan Alberto Margkes Sanbein (8). Ia terlihat malu-malu saat diminta duduk di samping pamannya. Bocah tersebut biasa disapa Margkes. Ia menetap di rumah ini bersama kakeknya, Yosep Soi Bana dan neneknya, Sebastiana Ani Kolo beserta paman, Vinsensius Bana dan bibinya, Rosina Teme, 2 orang saudara kandung serta saudara sepupunya (anak dari Vinsensius Bana dan Rosina Teme) yang berjumlah 6 orang. Total sebanyak 13 orang yang menetap di dalam rumah itu.

Margkes pertama kali didiagnosa menderita tumor pada Bulan April 2025 lalu. Ia mengalami benjolan berukuran besar pada beberapa bagian tubuhnya. Saat ini, Margkes sedang duduk di bangku Kelas III di SDK Manamas. Ia mengalami benjolan pada kedua kaki sejak 6 tahun yang lalu. Benjolan mulai muncul sejak Margkes masih bayi. Seiring bertambah usia Margkes, benjolan tersebut kian membesar.

Ia mengaku tidak nyaman dengan benjolan yang muncul pada bagian tubuhnya ini. Selain itu, benjolan juga muncul pada bagian bokong kanan bocah ini. Hal paling sulit dilakukan bocah ini yakni sangat kesulitan saat akan BAB (Buang Air Besar). Rasa nyeri juga sering dirasakan pada kedua kakinya. Berdasarkan diagnosa dokter benjolan ini diduga diakibatkan oleh tumor. Margkes mengalami kesulitan ketika menaiki tangga atau berjalan mendaki jalan yang menanjak.

Nafsu makan Margkes cukup baik. Meskipun demikian, ia lebih suka makan makanan berkuah dan berminyak. Ia juga masih bisa beraktivitas seperti anak seusianya. Kendati dilanda sakit, Margkes setiap hari pergi ke sekolah seperti biasa. Margkes biasa bermain bersama saudara-saudara dan tetangganya sepulang sekolah. Ia mengaku baru mengenal angka dan sudah bisa menghafal huruf maupun membaca. Kebutuhan sandang dan pangan Margkes dan saudara-saudaranya dipenuhi oleh kakek, nenek, paman dan bibinya, dan sesekali mereka menerima kiriman uang dari ibunya.

Saat pergi ke sekolah, Margkes tidak mengenakan sepatu lantaran kondisi kakinya yang tidak memungkinkan. Ia hanya mengenakan pakaian seragam sekolah. Margkes selalu berdoa, suatu saat nanti ia bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya. Doa ini merupakan harapan terakhir bocah ini bisa menikmati masa kecil dengan bebas seperti teman-teman seusianya.

Orang Tua Berpisah dan Ditinggal Pergi Ibu Merantau

Paman dari Margkes bernama Vinsensius Bana menuturkan, Margkes merupakan anak 4 dari 5 bersaudara buah cinta Agnes Bana dan Inosensius Sanbein. Ayah dan ibu dari Margkes telah berpisah. Ayahnya, (Inosius Sanbein) menikah lagi dan berdomisili di daerah lain bersama istri barunya. Sedangkan ibu Margkes bernama, Agnes sedang merantau ke Pulau Kalimantan pada tanggal 16 Maret 2025 lalu.

Ayah dan ibu dari Margkes berpisah ketika ia masih berusia 4 tahun. Margkes dan 4 orang saudaranya sebelumnya tinggal bersama ibu di rumah kakek dan neneknya (sebelum ibunya pergi merantau). Saat ini anak pertama dan anak kedua tinggal bersama ayah mereka di wilayah Kecamatan Insana Utara. Sedangkan anak ketiga, keempat (Margkes) dan kelima menetap bersama paman dan bibi mereka.

Ibu Margkes Agnes Bana merantau ke Pulau Kalimantan. Sebelum pergi merantau, kata Vinsensius, Agnes berjualan bensin eceran di Desa Manamas demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Pendapatan ini tidak dapat menunjang kebutuhan keluarganya. Oleh karena itu, Agnes kemudian memutuskan untuk merantau demi memastikan tungku api di rumah itu tetap menyala.

Vinsensius mengatakan, mereka melarang Margkes bermain bersama teman-temannya di kali. Hal ini bertujuan untuk mencegah Margkes jatuh ketika berada di kali.

Keterbatasan Biaya dan Kesulitan Berobat

Vinsensius menyebut keluarga mereka tergolong keluarga sangat tidak mampu. Vinsensius berprofesi sebagai petani. Dalam sebulan mereka hanya memperoleh pendapatan kurang dari Rp. 300.000 dari hasil bertani di kebun. Mengingat ayah dan ibunya (kakek dan nenek dari Margkes) sudah usia lanjut, Vinsensius terpaksa harus menjadi tulang punggung untuk dua keluarga ini.

Vinsensius dan istrinya memiliki 6 orang anak. Anak perempuan pertama sudah berkeluarga. Sedangkan anak kedua baru menuntaskan pendidikan. Anak ketiga baru saja menuntaskan pendidikan jenjang SMA. Sementara anak keempat sedang mengenyam pendidikan di jenjang SMP dan 2 orang di bangku Sekolah Dasar (SD). Mereka bergantung hidup dari hasil pertanian. Pada musim kemarau, Vinsensius dan istrinya menanam sayur hortikultura sebagai pendapatan tambahan demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dan pendidikan anak-anak.

Badai keterbatasan ini, menjadi salah satu alasan keluarga Vinsensius sangat kesulitan mencari solusi pengobatan medis untuk kesembuhan keponakannya, Margkes. “Jangankan berobat pak, untuk makan dan minum saja kita susah pak,” ucap Vinsensius dengan suara serak menahan lara.

Pertemuan Tak Terduga

Kondisi yang dialami Margkes pertama kali tersebar ketika Bhabinkamtibmas Desa Manamas, Bripka Rimson Panjaitan berkunjung ke rumah tersebut. Saat itu Rimson berkunjung ke rumah Margkes untuk memediasi perselisihan antara Vinsensius dan tetangga mereka. Ketika sedang berada di dalam rumah itu, Bripka Rimson tanpa sengaja melihat Margkes yang muncul di samping pintu rumah pamannya. Saat itu Margkes dan neneknya baru saja pulang dari kebun.

“Saya langsung kaget. Saya tanya ke opa dan omanya bilang kenapa anak ini. Dia sakit apa,” ujarnya mengulang pernyataan kala itu. Rasa prihatin dan sedih menyelimuti anggota Polri tersebut. Ia menanyakan kondisi dan mendengar langsung kisah yang dialami Margkes. Didorong oleh rasa prihatin dan peduli, Rimson bertekad menempuh perjalanan sejauh 39,7 kilometer dengan waktu tempuh 1 jam 4 menit untuk menginformasikan hal ini kepada Kapolres TTU, AKBP Eliana Papote, S. I. K., M.M di Mapolres TTU.

“Saat itu, saya sampaikan ke mereka, saya tidak janji tapi saya berusaha carikan jalan supaya anak Margkes ini bisa diringankan beban sakitnya. Nanti saya laporkan ke pimpinan,” ungkapnya. Setelah menerima informasi dari Bhabinkamtibmas, Kapolres Timor Tengah Utara, AKBP Eliana Papote, S. I. K., M. M mengajak Wakapolres dan seluruh jajaran perwira mengunjungi Margkes. Selain membawa tali asih, dalam kunjungan itu Eliana membawa serta seorang dokter bernama Ni Komang.

Berdasarkan pemeriksaan luar dokter Ni Komang, kata Eliana, Margkes disarankan menjalani pemeriksaan secara spesifik oleh dokter spesialis anak. Kondisi Margkes ini disampaikan kepada Bupati TTU oleh Eliana sehari setelahnya dalam kegiatan audiens. Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kefamenanu lalu diminta Bupati TTU memeriksa dan menangani kondisi anak ini. Usai diperiksa di RSUD Kefamenanu, Margkes dirujuk ke Kupang demi menjalani pengobatan lebih lanjut.

Eliana mengaku terharu mengingat Margkes terlihat nyaris seumuran dengan anak keduanya. Semestinya, di usia seperti ini, mereka menikmati masa kecil yang bahagia. Ketika pertama kali ditugaskan di Kabupaten TTU, Eliana selalu meminta anggota Polres TTU untuk bekerja dengan baik, berbuat baik, melayani dan menolong masyarakat sepenuh hati. “Karena, kalau hari ini kita berbuat baik, pasti suatu saat kebaikan itu akan kembali ke kita,” ungkapnya.

Bantuan Telur dan Susu Setiap Bulan

Kapolres perempuan pertama di Polres TTU ini mengirimkan Margkes susu dan telur melalui Bhabinkamtibmas setiap bulan. Hal ini dilakukan setelah menerima informasi dari dokter bahwa Margkes mengalami kekurangan gizi. “Dan kekurangan protein, jadi saya sudah berkomitmen bahwa setiap bulan mengirimkan telur dan susu untuk Margkes,” ucapnya. Telur dan susu ini diberikan untuk memenuhi kebutuhan protein Margkes setiap hari. Ia juga mengaku bersyukur karena Margkes juga dibantu oleh Yayasan Ratu Pecinta Damai di Kupang. Gelombang kepedulian ini, tidak diduga oleh Eliana sebelumnya.

Apabila ada hal-hal yang perlu ditanggulangi atau kebutuhan urgent dari Margkes, AKBP Eliana memastikan akan menyanggupinya. Banyak doa yang dipanjatkan dan niat baik terjawab dari langkah kecil ini. “Karena saya lihat dan temui langsung, saya sangat sedih sekali. Dia seperti anak-anak yang lain, bermain, dan berinteraksi serta membaca dengan baik,” ujarnya menahan butiran mutiara di pelupuk mata.

Ikut Pelajaran di Sekolah Tanpa Diskriminasi

Kepala Sekolah Dasar Katolik (SDK) Manamas, Maria Magdalena Nebe Teme menyebut, sebanyak 144 orang siswa-siswi yang sedang menempuh pendidikan di sekolah tersebut. Meskipun demikian, yang tercatat di Dapodik sebanyak 139 siswa. Pasalnya ada sejumlah anak yang masih terkendala dokumen seperti kartu keluarga dan lain-lain. “Ada yang orang tua pergi merantau dan anak tinggal dengan neneknya tapi tidak sempat urus dokumen kartu keluarga,” ujarnya.

Margkes mengenyam pendidikan di SDK Manamas sejak tahun 2023. Saat ini ia sedang duduk di bangku kelas III. Margkes mengikuti proses belajar mengajar seperti biasa tanpa diskriminasi. Mengingat kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan, sekolah memperbolehkan Margkes untuk tidak mengenakan sepatu saat ke sekolah. Di bangku pendidikan sekolah dasar, Margkes diterima oleh semua siswa-siswi dan guru-gurunya dengan baik. Margkes juga bermain seperti biasa dengan rekan-rekannya di sekolah. Ia juga tidak mengenakan sendal karena kondisi kakinya tersebut.

Meskipun demikian, ia tidak aktif seperti teman-teman yang lain karena kondisi fisiknya ini. Pihak sekolah, melalui wali kelas memperbolehkan Margkes untuk tidak mengikuti pelajaran olahraga di luar kelas. Ia mengaku sudah menerima laporan dari Bhabinkamtibmas Desa Manamas bahwa, mereka akan membawa Margkes untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut. Pihak sekolah mengizinkan hal ini demi kesehatan Margkes. “Saya bilang baik, karena polisi sudah perhatikan dan beri pelayanan tidak hanya kepada orang dewasa dan orang tua tetapi juga anak-anak kami,” ujarnya dengan suara serak menahan sedih.

Maria memastikan sekolah mendukung penuh proses pemulihan Margkes melalui tangan dokter berkat kepedulian dan perjuangan polisi.

Operasi Perdana

Bhabinkamtibmas Desa Manamas, Bripka Rimson Pandjaitan menyebut, Margkes telah menjalani operasi perdana pada Bulan Agustus 2025 lalu. Operasi perdana dilakukan pada tumor yang ada pada bokong. Operasi tersebut berjalan lancar dan sukses. Semua keluarga menyampaikan apresiasi kepada tim dokter dan semua pihak yang telah berkontribusi penting dalam pelaksanaan operasi ini. Margkes telah kembali ke rumahnya pada Bulan Desember 2025 lalu. Kehadirannya disambut tangis haru keluarga.

Berdasarkan informasi dari yayasan, kata Rismon, operasi kedua bakal dilaksanakan setelah kondisi Margkes membaik. Saat ini Margkes telah mengikuti proses belajar mengajar di sekolah seperti biasa. “Untuk sementara mereka hanya check up kesehatan saja di Kupang,” ujarnya. Rismon terus melakukan pemantauan terhadap kondisi Margkes hingga pelaksanaan operasi kedua berjalan tuntas nantinya. Setiap bulan, ia menyerahkan bantuan susu dan telur dari Kapolres TTU.

Menghapus Lara Anak Penderita Tumor di Tapal Batas Negara

Wajah Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo tampak sumringah saat ditemui penulis, Senin, 5 Januari 2026. Sejak dilantik pada Bulan Februari 2025 lalu, Falentinus melakukan sejumlah gebrakan berani demi menuntaskan janji politiknya. Kabupaten TTU terdiri dari 24 kecamatan dan 193 desa/kelurahan. Luas wilayah kabupaten yang dijuluki “Bumi Biinmaffo” ini 2.669,70 kilometer ⊃2;. Kabupaten TTU merupakan salah satu kabupaten/kota di Provinsi NTT terletak di lokasi yang sangat strategis. Wilayah Kabupaten TTU berbatasan langsung dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) Distrik Oecusse. Sebuah wilayah enklave Negara Timor Leste yang terletak di antara Kabupaten Kupang dan Kabupaten TTU.

Sebelum terpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, wilayah Distrik Oecusse merupakan provinsi ke 27 yakni Provinsi Timor Timur. Meskipun berbeda negara, masyarakat Oecusse dan masyarakat di wilayah Kabupaten TTU, NTT pada umumnya memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat. Falentinus mengaku baru menerima informasi kondisi anak penderita tumor bernama Margkes di Desa Manamas pada Bulan April 2025. Ia tidak bisa membayangkan jika kondisi Margkes ini tidak pernah terlihat oleh Bhabinkamtibmas Desa Manamas.

Menurutnya, Desa Manamas terletak di Kecamatan Naibenu yang persis berada di wilayah perbatasan RI-RDTL Distrik Oecusse (salah satu wilayah enklave Negara Timor Leste yang terletak di antara Kabupaten TTU dan Kabupaten Kupang). Letaknya yang berada di jantung perbatasan menjadi salah satu kendala bagi mereka untuk melakukan identifikasi terhadap anak-anak yang mengalami persoalan seperti Margkes. Kepedulian personel Polri dalam membantu pemerintah daerah mendeteksi kesulitan warga di desa-desa melalui Bhabinkamtibmas harus diapresiasi. Kolaborasi dan kerja sama ini membuktikan sinergitas yang baik.

Saat ini, kata Falentinus, Margkes telah menjalani operasi perdana di Kota Kupang. Operasi akan dilanjutkan pada tahap kedua setelah kondisi Margkes pasca operasi pertama dipastikan pulih total. Ia mengaku bersyukur, proses pengobatan Margkes didukung Yayasan Ratu Pencinta Damai dan Polri. Anggota Polri di perbatasan telah membuktikan bahwa kehadiran mereka menyentuh semua aspek kehidupan masyarakat. Selain menjalankan tugas pengabdian kepada bangsa, Anggota Polri dari tapal batas telah menunjukkan sisi lain dari kehadiran mereka tidak hanya aspek humanis tetapi menjadi pelipur lara masyarakat tak mampu dan termarjinalkan.

Falentinus mengatakan, dari tangan Prajurit Bhayangkara, lara atau kesedihan anak penderita tumor di perbatasan RI-RDTL dihapus. Harapan yang tak pernah lekang oleh waktu untuk sehat dan ceria tanpa diskriminasi.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *