Yuliana Wetuq, Pahlawan Hutan Lindung Wehea Kutim

Peran Penting Yuliana Wetuq dalam Melestarikan Hutan Lindung Wehea

Di kawasan Hutan Lindung Wehea, Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, sosok Yuliana Wetuq tidak asing lagi. Sebagai perempuan Dayak Wehea, ia dikenal sebagai penjaga hutan yang konsisten melindungi kawasan hutan adat dari ancaman kerusakan.

Dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-69 Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Yuliana menerima penghargaan Tokoh Berjasa Bidang Lingkungan Hidup. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, di Gedung DPRD Kaltim. Ia hadir mengenakan blazer hitam dan kalung manik-manik khas daerahnya.

“Saya sangat berterima kasih sekali dan tidak menyangka juga bahwa saya akan mendapat penghargaan ini. Terima kasih sekali sama pemerintah provinsi yang sudah menghargai saya sebagai aktivis lingkungan,” ujarnya.

Yuliana memiliki segudang rekam jejak dalam menjaga kawasan Hutan Lindung Wehea sejak tahun 2008. Selama belasan tahun, ia rutin melakukan patroli 2–4 kali setiap bulan dengan menempuh perjalanan panjang menggunakan motor dan perahu untuk memantau kondisi hutan dari pencuri kayu dan satwa.

Di luar patroli, ia juga aktif mendampingi kegiatan penelitian, edukasi lingkungan, serta menjadi fasilitator bagi pelajar dan masyarakat lokal dalam mengenal ekosistem dan budaya Dayak Wehea. Ia juga dikenal sebagai penggerak kesadaran lingkungan dengan melibatkan perempuan dan generasi muda dalam berbagai aktivitas, mulai dari patroli hutan, kegiatan spiritual di alam, hingga pelatihan membatik menggunakan bahan alami dari hutan Wehea.

Kini, ia menjabat sebagai Koordinator Petkuq Meheuy (penjaga hutan) sekaligus Penanggung Jawab Wisata Alam Hutan Lindung Wehea. “Saya di Hutan Lindung Wehea itu sejak tahun 2008, waktu itu saya masih kantornya di Dinas Lingkungan Hidup di Sangatta. Lalu saya pulang kampung, tetap juga menjalankan itu sampai sekarang. Karena saya itu mencintai hutan,” jelasnya.

Sebagai orang Dayak Wehea asli, Yuliana turut prihatin terhadap berbagai persoalan lingkungan yang belakangan terjadi di Kalimantan Timur. Ia menyoroti maraknya alih fungsi kawasan hutan di sejumlah wilayah, mulai dari Tahura Bukit Soeharto hingga kawasan Taman Nasional Kutai yang tersentuh aktivitas pertambangan.

Bagi Yuliana, hutan sudah seperti nadinya. Sebab bagi orang Dayak, hutan adalah sumber kehidupan bagi mereka. “Di dalam hutan itu ada obat-obatan. Obat-obatan serta bahan-bahannya ritual adat yang sering kami ambil, lalu ada rotannya juga, terus ada kayu-kayunya juga perlu dijaga. Termasuk sumber air bersihnya di situ juga,” jelasnya.

Yuliana bersyukur, hingga kini Hutan Lindung Wehea dengan luas sekitar 29 ribu hektare masih relatif aman dari laju deforestasi. Namun perjuangan menjaga kawasan tersebut bukan tanpa tantangan. Ia kerap meninggalkan anak dan keluarga saat jadwal patroli tiba. Minimnya sinyal komunikasi, penerangan terbatas, serta akses jalan yang sulit menjadi bagian dari keseharian yang harus ia hadapi demi memastikan hutan tetap lestari.

“Kami tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga hutan itu supaya hutan itu tidak habis,” tegasnya.

Tak hanya menjaga, Yuliana juga aktif membina anak-anak muda dari enam desa di sekitar Wehea. Ia mengajak mereka ikut patroli, mengenal pemasangan kamera trap satwa, monitoring satwa, hingga memahami jenis-jenis kayu dan fungsi ekologis hutan. Tujuannya sederhana, agar kelak ada generasi penerus yang melanjutkan perjuangan menjaga rimba ketika dirinya tak lagi kuat turun ke lapangan.

“Jadi saya sering mengajak mereka supaya mereka juga bisa untuk setelah saya sudah tidak di hutan lagi, mungkin ada penerus-penerus yang baru,” tambahnya.

Di tengah dedikasinya, Yuliana berharap khususnya kepada Gubernur Kalimantan Timur dan Bupati Kutai Timur untuk memberi perhatian terhadap mereka para penjaga hutan di lapangan. Ia menilai dukungan infrastruktur, akses jalan, hingga kendaraan operasional masih sangat terbatas.

Padahal, Hutan Lindung Wehea sendiri telah mengharumkan nama Indonesia melalui berbagai penghargaan, seperti Juara III Schooner Prize Award di Kanada pada 2008 dan Penghargaan Kalpataru pada 2009.

“Tolong lah diperhatikan gitu, jangan sampai hutan lindung Wehea ini kan sudah pernah menjadi juara tiga dunia,” demikian Yuliana.


Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *