Budaya  

Kisah Perahu Kecil

Pengalaman Reporter Saat Menyusuri Laut Bersama Jukung

Pernahkah kamu membayangkan menyusuri lautan bersama jukung? Jawaban yang muncul beragam. Ada yang langsung bertanya apa itu jukung, ada pula yang malu-malu mengangkat tangan seraya melafalkan satu kata, pernah. Dan jawaban “pernah” tersebut juga menyisipkan kisah unik.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 2013 lalu. Saat itu, seorang reporter baru saja pulang dari peliputan ekspedisi pelayaran kapal layar tradisional Jukung. Perjalanan kapal Jukung memakan waktu sekitar dua bulan. Harap maklum, karena jukung yang dinaiki hanya dihiasi oleh nakhoda yang sendirian, menyusuri perjalanan dari Bali, melewati pantai utara Pulau Jawa, Kepulauan Seribu Jakarta, beberapa pantai Bangka Belitung, lalu beralih ke Kalimantan Barat, dan akhirnya berakhir di negara tetangga, Brunei Darussalam.

Untuk diketahui, jukung adalah perahu kayu Johar dengan panjang 7,7 meter dan lebar 55 sentimeter. Tiap sisi dilengkapi cadik atau pelampung penyangga yang berjarak sekitar 2 meter dari sisi kiri dan kanan perahu. Perahu menggunakan layar tunggal berbahan parasut yang membantu perahu mengarungi lautan. Namun ketika tidak ada angin, perahu menyiagakan mesin motor tempel berkekuatan 15 PK di bagian belakang.

Singkat cerita, reporter tidak mengikuti ekspedisi jukung hingga Brunei. Alasan kemanusiaan membuat kawan-kawan redaksi ingin segera memulangkan reporter ke Jakarta. Dalam obrolan yang penuh tawa, terasa juga rasa tak tega saat mendengar laporan harian reporter yang hanya berdua di jukung.

Setiba di Jakarta, reporter langsung menemui Kepala Biro. Ia menumpahkan cerita dan ulasan perjalanan di jukung. Saya yang ikut dalam persamuhan mendadak itu terpingkal-pingkal mendengar peliputan sang reporter.

Usai pertemuan singkat, reporter diminta untuk membuat tulisan. Di sini masalah mulai muncul. Reporter ternyata hanya jago bercerita. Saat menuangkan dalam rangkaian kata-kata, kata yang muncul justru tersendat-sendat. Dengan alasan jetlag lantaran berhari-hari di jukung, sang reporter meminta waktu dan membawa tugas penulisan ke rumah.

Lagi-lagi perikemanusiaan yang bicara. Alasan itu diterima, dengan syarat tulisan sudah diterima sekira pukul 12 siang pada esok hari. Ia pun pulang dengan senyum saat izin berkumandang.

Esoknya, janji tinggal janji. Tulisan soal ekspedisi jukung baru masuk email bersama sekira pukul 16.00 WIB. Lagi-lagi, tak mau ambil pusing ketika janji yang dibuat terabaikan. Toh, tulisan juga sudah masuk.

Dan, brakk. Emosi meledak. Sepuluh jemari tangan kompak memukul meja. Tulisan yang diharap penuh deskripsi, menarik dan penuh cerita itu bak laporan riset 13 tahun. Mirip laporan makalah berjilid-jilid.

Untungnya, ada foto-foto yang dikirim. Ada beragam video yang ikut disertakan dalam laporan. Berbekal itu ulasan didaur ulang. Cerita kembali ditata ulang. Bukan lagi dari laporan, tapi foto, video dan juga cerita langsung dari lapangan.

Foto dan video menjadi jejak fenomenologis. Bukan lagi sekedar ilustrasi, melainkan jembatan representasi pengalaman reporter pada peristiwa. Realitas tidak lagi dilaporkan, tetapi dimunculkan lagi. Laporan menjadi dialog fakta lapangan, medium visual dan terkadang kesadaran penulis.

Pelatihan Jurnalis yang Dilakukan Setelah Kejadian

Kabar lainnya. Peristiwa itu kemudian membuat manajemen mengulang pelatihan. Sejumlah wartawan diberi penyegaran soal tulisan. Tulisan yang praktis, tidak ruwet dan belajar untuk terbiasa berpikir dengan skala besar di kepala. Skala Niagara, jeram raksasa atau yang sekarang ini jadi perdebatan ketika Trump kepincut mengambil Greenland.

Kenapa itu dilakukan?

Kesederhanaan dan kejernihan berpikir menjadi prinsip klasik, dan bisa jadi syarat komunikasi rasional. Tulisan praktis dan tidak ruwet, bukan berarti dangkal. Tulisan itu justru berarti soal berpikir teratur, bernalar dan menyusun makna secara efisien saat melihat peristiwa sebagai bagian dari arus besar. Kita diajarkan menghubungkan fakta-fakta partikular ke dalam gambaran menyeluruh, dan tidak terjebak dalam detail teknis semata.

Jurnalisme yang Lebih Dalam

Hal lain yang kemudian menjadi pijakan. Jurnalisme tidak sekedar menyampaikan informasi. Bisa juga menjadi suatu upaya memahami dan menjelaskan kenyataan dalam lanskap kompleks yang terus bergerak, meski terkadang menuntut imajinasi dalam membaca peristiwa.


Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *