Terlalu sedikit tidur? Waspadai risiko umur pendek

Kurang Tidur: Epidemi yang Tidak Bisa Diatasi dengan Vaksin

Kurang tidur bisa menjadi sebuah epidemi tersendiri yang bahkan lebih sulit teratasi daripada penyakit-penyakit menular seperti Covid-19. Jika vaksin bisa membantu mengatasi pandemi, maka untuk kurang tidur tidak ada solusi sederhana seperti itu. Dampaknya bisa terasa jauh lebih dalam dan berkepanjangan.

Bagaimana kita tahu apakah sudah cukup atau masih kurang tidur? Kita bisa menggunakan ambang batas jumlah jam tidur yang direkomendasikan. Namun, angka rekomendasi ini bervariasi tergantung usia. Bayi dan anak-anak membutuhkan lebih banyak waktu istirahat karena proses pertumbuhan mereka sangat aktif. Sementara itu, bagi orang dewasa, American Academy of Sleep Medicine dan Sleep Research Society merekomendasikan 7 jam tidur per malam agar kesehatan optimal. Meski demikian, tidur terlalu lama, misalnya lebih dari 10 jam, juga bisa merugikan kesehatan.

Namun, meskipun kuantitas tidur sudah terpenuhi, jangan sepelekan kualitasnya. Jika tidur selama 7 jam terganggu oleh gangguan seperti sleep apnea atau insomnia, maka kualitas tidur tetap rendah. Oleh karena itu, penting untuk menjaga keduanya secara seimbang.

Secara umum, kurang tidur tampaknya tidak terlalu berbahaya. Namun, jika terjadi secara terus-menerus, dampak negatifnya pada individu dan masyarakat bisa sangat besar.

Wabah Kurang Tidur di Seluruh Dunia

Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gangguan tidur telah menjangkiti lebih dari 66% populasi dunia. Dua pertiga manusia di muka bumi mengalami masalah tidur. Ratusan juta orang di negara-negara maju dilaporkan tidak tidur cukup, yaitu di bawah 8 jam per hari. Hal ini disebutkan dalam buku Why We Sleep Unlocking the Power of Sleep and Dreams karya Walker tahun 2017.

Penyebab Kurang Tidur Kronis

Berdasarkan temuan National Sleep Foundation tahun 2021, beberapa faktor utama penyebab kurang tidur kronis antara lain:

  • Pola kerja modern yang terus-menerus sepanjang hari (24/7)
  • Paparan tinggi cahaya biru dari gawai seperti ponsel, tablet, dan TV
  • Tingkat stres yang tinggi dan tidak terkelola dengan baik
  • Pola hidup yang tidak sehat

Dampak Buruk Kurang Tidur

Pada tingkat individu, studi oleh Cappucio et al. dalam laporan “Sleep duration and all-cause mortality: a systematic review and meta-analysis of prospective studies” (2011) menunjukkan bahwa kurang tidur jangka panjang dapat memicu penyakit serius seperti obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, serta penurunan sistem kekebalan tubuh.

Pada anak dan remaja, efek kurang tidur terutama akibat penggunaan ponsel dan teknologi berlebihan adalah gangguan perkembangan kognitif, performa akademis, dan kesehatan mental. Dengan kata lain, kurang tidur mengancam kesehatan generasi saat ini maupun mendatang.

Selain itu, kesehatan mental juga sangat rentan terganggu. Studi oleh Baglioni et al. dalam laporan “Insomnia sebagai alat prediksi depresi” (2011) menyebutkan bahwa seseorang yang kurang tidur terus-menerus sangat rentan mengalami depresi, kecemasan, dan gangguan suasana hati. Jadi, jika Anda memiliki rekan kerja atau atasan yang sering marah tanpa alasan jelas, kemungkinan besar ia sedang mengalami kurang tidur kronis.

Dampak Ekonomi dan Keselamatan

Masyarakat yang mengalami epidemi kurang tidur juga bisa mengalami kerugian ekonomi. Studi oleh RAND Corporation dalam laporan “Why Sleep Matters – The Economic Costs of Insufficient Sleep” (2016) menunjukkan bahwa kerugian miliaran dolar AS per tahun akibat turunnya produktivitas, peningkatan biaya kesehatan, dan absensi kerja.

Selain itu, kecelakaan lalu lintas dan insiden kecelakaan kerja juga meningkat akibat kelelahan. Bekerja dalam kondisi kurang tidur dan mengantuk berat sangat berpengaruh pada kecepatan, refleks, dan kewaspadaan. Efeknya sama seperti alkohol pada otak. Tak heran, orang yang kurang tidur tidak bisa bekerja dan berpikir optimal.

Berkurangnya Harapan Hidup

Menurut laporan Oregon Health and Science University (OHSU) di jurnal SLEEP Advances Januari 2026, tidur kurang dari 7 jam per hari bisa mengurangi harapan hidup seseorang. Kecukupan tidur menjadi salah satu faktor prediksi harapan hidup.

Peneliti OHSU menemukan bahwa kurang tidur berkaitan erat dengan penurunan harapan hidup. Bahkan pengaruhnya lebih besar daripada faktor lain seperti asupan makanan, olahraga, dan kesepian. Namun, dibandingkan merokok, kecukupan jam tidur masih kalah dalam pengaruhnya.

Studi ini menjadi yang pertama mengungkap hubungan antara kebiasaan tidur dan harapan hidup subjek studi dari tahun ke tahun di seluruh Amerika Serikat.

Dengan begitu, mari kita perbaiki kuantitas dan kualitas tidur kita demi kesehatan yang lebih baik di masa depan.

Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *