Penemuan Mortir di Batujajar, Bukti Sejarah Perjuangan Kemerdekaan
Di wilayah Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, beberapa kali ditemukan benda-benda berupa mortir yang diduga merupakan peninggalan masa Perang Kemerdekaan. Penemuan tersebut menjadi bukti bahwa wilayah ini pernah menjadi lokasi palagan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Pada tahun 2025, sebanyak tiga kali polisi setempat menemukan mortir di wilayah hukumnya. Kejadian terakhir terjadi pada Rabu, 17 Desember 2025, ketika sebuah mortir ditemukan oleh warga bernama Hadi di Blok Sukamaju, RT 05 RW 12, Desa Batujajar Barat. Saat itu, Hadi sedang menggali tanah untuk menanam pohon pisang. Tiba-tiba ia menemukan benda asing berbentuk besi bulat lonjong.
Awalnya, Hadi mengira benda itu hanya besi rongsok. Namun, kecurigaan muncul dari warga sekitar yang menganggap benda tersebut menyerupai amunisi. Akhirnya, temuan tersebut dilaporkan kepada Ketua RT dan berlanjut kepada Bhabinkamtibmas Desa Batujajar Barat. Selanjutnya, laporan diteruskan kepada piket fungsi Polsek Batujajar.
Setelah dilakukan pengecekan, benda asing tersebut ternyata merupakan amunisi jenis mortir dengan baham logam/besi berkarat. Bentuknya bulat lonjong berekor dengan diameter 60 milimeter dan panjang sekitar 20 sentimeter. Karena dikhawatirkan masih aktif serta lokasi penemuan berada dekat perumahan, mortir kemudian dimusnahkan oleh Tim Penjinak Bahan Peledak (Jihandak) Detasemen Gegana Sat Brimobda Polda Jabar.
AKP Asep Saepuloh, Kapolsek Batujajar, mengungkapkan bahwa penemuan mortir ini memiliki kesamaan dengan kasus serupa sebelumnya. “Hampir semua penemuan di wilayah Sukamaju,” ujarnya. Hal ini memicu pertanyaan tentang alasan mengapa mortir kerap ditemukan di Batujajar.
Berdasarkan arsip dan dokumen lama, Batujajar memang salah satu lokasi yang bergejolak selama Perang Kemerdekaan. Saling serang antara pasukan Belanda dan pejuang kemerdekaan terjadi. Kedudukan pasukan Belanda dan pejuang hanya dipisahkan oleh Sungai Citarum. Pasukan Belanda bermarkas di Batujajar, sementara para pejuang berada di seberangnya, yaitu Cililin.
Dalam bukunya Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur) Soegih Arto, Soegih mencatat bahwa pasukan Belanda jarang menyeberang Citarum untuk menyerang pasukannya di Cililin. “Dan hanya sekali-kali menembakkan mortir ke daerah kami. Saya kira hanya sekadar pemberitahuan bahwa mereka masih ada di Batujajar,” tulisnya.
Namun, tidak hanya pasukan Belanda yang melontarkan mortir ke kedudukan musuh. Para pejuang juga melakukan hal serupa. R.J. Rusady W, salah satu pejuang dari Batalyon 33 Resimen Sukapura, sempat menembakkan mortir saat kompinya ditugaskan di sepanjang Citarum wilayah Cililin, Patrol, Cihampelas, dan Cipatik dalam menghadapi pasukan baret merah Belanda di Batujajar.
“Pernah pada satu pertempuran, untuk mendapatkan daya tembak yang maksimal, saya menembakkan sebuah babymortar mendatar dari paha. Akibatnya paha saya bengkak selama satu bulan,” kata Rusady dalam bukunya Tiada Berita Dari Bandung Timur 1945-1947.
Meskipun tidak menyeberang Citarum, Belanda menggunakan pesawat udaranya untuk mengincar Soegih Arto. Dalam catatan bukunya, saat itu Soegih bersama Komandan Kompi 2 Letnan Udaka naik mobil menuju Gununghalu. Ketika kendaraan tersebut berada di atas jembatan, pesawat Belanda menghujani mereka dengan peluru. Keduanya selamat karena berlindung di bawah jembatan, tetapi mobil mereka rusak akibat serangan dari udara tersebut.
Di waktu lain, giliran para pejuang menghantam markas Belanda di Batujajar. Dalam catatan buku berbahasa Belanda pada 1915, Aardrijkskunde van Nederlandsch-Indië voor de hoogste klassen der lagere school met vele vragen en opgaven, Batujajar disebut sebagai lokasi latihan tahunan penembakan artileri gunung.
Munculnya fasilitas latihan militer serta berbagai kelengkapannya di Batujajar diduga terkait dengan pemusatan instansi-instansi militer Hindia Belanda secara bertahap ke Bandung pada 1895-1918.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."












