Sayangkan Penutupan Kalipait, Sarka Space: Sampah Tetap Ada Meski Ditutup

Penutupan Kalipait: Kritik terhadap Pendekatan Pengelolaan Lingkungan

Koordinator Sarka Space Bondowoso, Ahmad Quraisy, menyampaikan kritik terhadap kebijakan penutupan kawasan wisata Kalipait di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Bondowoso. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan cara pandang yang salah dalam menghadapi isu lingkungan.

“Penutupan Kalipait menjadi bukti bahwa pengelolaan lingkungan masih dipahami sebagai upaya menyembunyikan masalah, bukan menyelesaikannya,” ujarnya saat dikonfirmasi Jumat (2/1/2026).

Menurut Quraisy, sampah tidak akan hilang hanya karena sebuah lokasi ditutup. Justru, langkah tersebut hanya memindahkan persoalan tanpa solusi jangka panjang. “Sampah tidak hilang karena lokasi ditutup. Ia hanya dipindahkan, seperti tanggung jawab yang terus dilempar dari satu kebijakan instan ke kebijakan instan berikutnya,” tegasnya.

Peran Sarka Space dalam Pengelolaan Sampah

Sarka Space merupakan komunitas pemerhati lingkungan yang fokus pada pengelolaan sampah di Bondowoso. Mereka dikenal juga dengan sebutan Roma Sarka Bondowoso, yang berarti rumah sampah Bondowoso. Komunitas ini aktif dalam berbagai diskusi terkait isu lingkungan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) maupun Bappeda. Namun, keputusan penutupan Kalipait dinilai minim komunikasi.

“Harusnya ada komunikasi, apalagi kawasan itu masih masuk wilayah Bondowoso meski berada di bawah kewenangan BKSDA,” terangnya.

Meski demikian, Sarka Space tetap berharap pemerintah daerah mau membuka ruang kolaborasi untuk menangani persoalan sampah secara berkelanjutan. “Kami tidak selalu butuh anggaran. Yang kami butuhkan adalah kemauan untuk bekerja bersama. Kami sudah membuktikan bisa bergerak meski tanpa bantuan pemerintah,” pungkasnya.

Persoalan Sampah dan Revalidasi Geopark

Quraisy menilai penanganan sampah yang reaktif, ditambah kondisi TPA Bondowoso yang mendapat “kartu merah”, berpotensi memberikan citra buruk dalam proses revalidasi Geopark. “Ini bukan sekadar soal citra, tapi konsistensi antara narasi pariwisata berkelanjutan dengan praktik kebijakan di lapangan,” imbuhnya.

Ia juga menegaskan bahwa penutupan kawasan bukan solusi, melainkan bentuk pengakuan bahwa pemerintah daerah kalah dalam mengelola persoalan sampah. “Kalah karena enggan membangun sistem, kalah karena menutup mata terhadap potensi kolaborasi, dan kalah karena memilih langkah yang tampak tegas tapi kosong substansi,” ujarnya.

Ancaman Penutupan Lokasi Wisata Lain

Quraisy mengingatkan, jika pola seperti ini terus berulang, maka lokasi wisata lain bisa mengalami nasib serupa. “Hari ini Kalipait, besok entah di mana lagi. Selama sampah dijadikan alasan penutupan, bukan objek pengelolaan, siklus ini akan terus berulang,” katanya.

Penutupan Kalipait oleh BKSDA

Sebelumnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menutup kawasan air terjun Kalipait di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Bondowoso, dari kunjungan wisatawan. Penutupan dilakukan karena banyaknya sampah yang ditinggalkan pengunjung. Meski belum dikelola secara resmi sebagai destinasi wisata, Kalipait kerap dikunjungi wisatawan karena keindahan aliran air asam dari kawasan Kawah Ijen. Lokasi ini juga termasuk dalam kawasan Geopark Ijen Unesco Global Geopark.

Koordinator RKW 15 TWA Kawah Ijen, Rusdi Santoso, mengatakan penutupan dilakukan hingga sarana dan prasarana pendukung serta petugas pengamanan tersedia. “Dikeluhkan banyak sampah dari pengunjung, jadi sementara ditutup sampai sarana dan prasarana siap,” ujarnya, Sabtu (27/12/2025).

Status Kawasan Kalipait

Sementara itu, Ketua Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG) Bondowoso, Tantri Raras Ayuningtias, menegaskan bahwa secara status kawasan Kalipait masuk dalam Taman Wisata Alam (TWA), sehingga pengelolaannya harus mengikuti aturan konservasi. “Kawasan itu merupakan wilayah konservasi, sehingga tidak bisa serta-merta dibuka sebagai destinasi wisata. Semua harus sesuai kebijakan BKSDA,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan bahwa Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso serta BUMDes Kalianyar sempat mengajukan diri sebagai pengelola, namun hingga kini belum ada kesepakatan final.


Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *