Budaya  

Warga Jerman Mulai Menolak Tradisi Petasan Tahun Baru, Minta Larangan

Tradisi Antre di Malam Tahun Baru

Pada dini hari Senin (29/12/2025), warga di daerah Thuringen, Jerman, menghubungi polisi karena melihat “gerombolan pencuri” mencoba masuk ke sebuah supermarket. Namun, ketika petugas tiba di lokasi, mereka tidak menemukan pelaku kriminal, melainkan sekelompok pemuda yang “bersenjata” dengan teh panas dan selimut hangat.

Mereka sedang menjalani tradisi antre untuk menunggu toko buka agar bisa menjadi yang pertama dalam antrian membeli petasan. Tanggal 29 Desember di Jerman adalah awal dari rentang waktu tiga hari saat kembang api dapat dijual kepada orang dewasa di atas usia 18 tahun, untuk merayakan Malam Tahun Baru. Di tengah cuaca dingin dan gelap, banyak orang rela antre setiap tahun untuk membeli produk-produk seperti Giftzwerg (kurcaci racun), Hysteria, dan Hurricane Force.

Minat Masyarakat terhadap Petasan

Meski memiliki tradisi panjang dalam merayakan Malam Tahun Baru dengan membeli dan menyalakan kembang api, petasan, dan mercon, tidak semua orang suka melakukan hal ini. Asosiasi Industri Kembang Api Jerman memperkirakan bahwa omzet bisnis ini pada tahun 2024 mencapai 197 juta euro (sekitar Rp 3,8 triliun), rekor tertinggi yang naik dari 180 juta euro pada tahun sebelumnya. Asosiasi produsen memperkirakan penjualan akan meningkat 10 hingga 15 persen pada tahun 2025.

Namun, hanya 22 persen orang di Jerman ingin menyambut Tahun Baru dengan membeli dan menyalakan sendiri kembang api mereka. Ini adalah temuan dari survei representatif terhadap 2.500 orang berusia di atas 18 tahun oleh lembaga penelitian opini Civey. Survei ini komisikan oleh Asosiasi Badan Inspeksi Teknis Jerman (TÜV). Joachim Buhler, CEO asosiasi TÜV, mengatakan bahwa hanya sebagian kecil orang yang menyalakan petasan, roket, atau kembang api lainnya sendiri pada Malam Tahun Baru. Tradisi ini paling populer di kalangan anak muda dan keluarga dengan anak-anak.

Dampak Negatif dari Petasan

Di balik warna-warni yang menarik, mercon dan kembang api dapat membawa dampak negatif serius dan menimbulkan polusi. Badan Lingkungan Federal mencatat bahwa pembakaran petasan dan kembang api untuk menyambut tahun baru menghasilkan lebih dari 2.000 metrik ton partikel halus, yang merupakan risiko bagi kesehatan. Jumlah ini setara dengan sekitar 1 persen dari seluruh polusi partikulat tahunan di Jerman.

Namun, kekhawatiran yang paling serius adalah meningkatnya cedera dan kerusakan properti terutama di kota-kota besar. Petasan dapat menyebabkan cedera serius seperti trauma akustik, luka bakar, dan kehilangan bagian tubuh, seperti jari atau seluruh tangan. Kebanyakan cedera itu akibat kembang api yang dibeli secara ilegal di pasar gelap di Polandia, Republik Ceko, dan Belanda, dan memiliki daya ledak yang jauh lebih besar. Menurut polisi, kembang api tersebut sebanding dengan bom dan granat.

Pada 2024, dua pemuda meninggal di Jerman setelah menyulut petasan yang berisi lebih dari 600 gram bubuk mesiu. Seorang dokter menggambarkan salah satu pria itu “tercabik-cabik”.

Harapan untuk Pelarangan Petasan

Banyak organisasi berharap pelarangan petasan. Kembang api dan petasan mercon juga dapat disalahgunakan untuk menyerang polisi, pemadam kebakaran, dan paramedis. Agresi dan kekerasan cenderung terjadi pada Malam Tahun Baru, terutama di kota-kota besar. Beberapa daerah bahkan nyaris seperti di zona perang.

Itu sebabnya, dinas keamanan menyerukan pelarangan menyeluruh terhadap semua jenis kembang api. Petisi untuk pelarangan ini dikeluarkan serikat pekerja polisi (GdP) di Berlin dan telah ditandatangani hampir 2,5 juta orang. Ketua cabang GdP di Berlin, Stephan Weh, percaya bahwa para politisi harus bertindak.

“Yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir hanyalah pemberlakuan larangan lokal terhadap petasan, senjata api, dan pisau, di zona-zona tertentu,” katanya. “Kami tidak mau menunggu sampai salah satu kolega kehilangan nyawa dalam kegilaan petasan yang liar dan tidak masuk akal ini.”

Lebih dari 50 organisasi masyarakat sipil juga menyerukan para individu untuk menyulut mercon, dan kembang api pribadi pada Malam Tahun Baru, dengan menggunakan tagar #bollerciao (“Selamat tinggal, petasan”). Asosiasi medis, Aksi Lingkungan Jerman, dan organisasi kesejahteraan hewan termasuk yang mendukung inisiatif ini. Sekitar 750.000 orang telah menandatangani petisi tersebut.

Zona Bebas Mercon Meningkat

Meningkatnya agresi pada Malam Tahun Baru juga memengaruhi persepsi masyarakat tentang keamanan. Survei TUV menemukan bahwa hampir satu dari tiga orang, khususnya perempuan, tidak merasa aman di tempat umum jika ada kembang api di sekitar. Sejumlah 32 persen dari responden dan 45 persen perempuan yang disurvei mengatakan tidak merasa aman di luar rumah pada Malam Tahun Baru karena mercon.

Hampir setengah responden mendukung pelarangan total, kecuali untuk jenis yang terkecil seperti kembang api percik. Dan 22 persen ingin semua jenis, baik besar maupun kecil, dilarang. Sementara 33 persen responden menolak segala bentuk larangan, dengan alasan tradisi dan kebebasan pribadi.

Tampaknya, pelarangan belum akan terjadi dalam waktu dekat. Namun semakin banyak zona bebas petasan telah ditetapkan di Berlin, Hamburg, Koln, Munchen, dan kota-kota besar lainnya, terutama di pusat kota. Menyalakan kembang api, petasan, dan petasan mercon juga dilarang di sekitar rumah sakit, gereja, panti asuhan, panti jompo, dan bandara di seluruh Jerman.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *