Pengakuan Dosa Kompasianer Angkatan 2009

Interupsi! Saya Kibarkan Bendera Putih

Saya mengakui kesalahan saya. Kemarin, melalui artikel berjudul “Dapur Redaksi dan Warung, Beda Koki Satu Rasa”, dengan gaya selangit seperti pengamat politik di TV, saya membedah dapur redaksi media arus utama versus.

Analisisnya kelihatan canggih, penuh istilah teknis ala teknokrat. Tapi, pembaca di sini matanya setajam elang. Di kolom komentar, saya dirujak Kompasianer. Banyak yang teriak, “Banyak ide dan gagasan di sini jadi inspirasi media besar”, “Di juga ada Satpam galak”, “Di sini bukan sekedar warung kopi”.

Saya baca komentar-komentar itu sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Dan harus saya akui, MEREKA BENAR. Analisis saya aslinya, DANGKAL. Sedangkal dan setipis aspal jalan proyek yang baru seminggu sudah berlubang.

Pisau bedah saya tumpul. Karatan pula. Maklum, saya ini Kompasianer angkatan ‘Jebot’. Bergabung tahun 2009. Zaman ketika BlackBerry (BB) masih jadi barang mewah dan harus antre di bilik Warnet berjam-jam cuma buat update status Facebook.

Anda yang baru gabung mungkin asing, tapi saya mengalami masa ketika ‘Lurah’ kita masih Kang Pepih Nugraha. Slogannya pun masih romantis, “Sharing Connecting” Bukan “Beyond Blogging”. Di zaman itu, masih murni. Belum ada iklan pop-up yang muncul tiba-tiba kayak mantan minta balikan. Belum ada K-Rewards. Dan yang paling penting, Belum ada istilah Akun Premium. Dulu, kita menulis ya menulis saja. Tidak perlu membayar upeti bulanan cuma demi menyingkirkan iklan. Semuanya gratis. Tis.

Lalu, setahun kemudian (2010), saya menghilang. Lenyap. Kenapa saya minggat dari rumah ini? Bukan karena ngambek. Bukan juga diculik alien. Alasannya klise, Demi sesuap nasi (dan sebongkah berlian, kalau ada). Begitu lulus kuliah, saya langsung terjun bebas ke dunia nyata. Saya diterima magang di sebuah media arus utama.

Jadilah saya kuli tinta beneran. Siang malam dikejar deadline. Dimaki redaktur itu menu sarapan pagi yang bergizi, hingga terbiasa tidur di kantor beralas koran kriminal bekas.

Akibat kesibukan itulah, akun saya jadi rumah hantu. Berdebu. Penuh sarang laba-laba. Praktis, saya buta sama sekali soal evolusi di sini.

Baru akhir November 2025 kemarin, setelah belasan tahun melanglang buana, saya ‘pulang ke rumah’ ini. Rasanya kayak Captain America yang baru cair dari es setelah 70 tahun. Bingung.

Rumah lama ini sudah direnovasi total. Ada monetisasi. Ada grade akun. Dulu kita menulis cuma dibayar ‘Pahala’ dan ‘Jempol’. Sekarang? Tulisan warga ada harganya. Kapitalisme sudah masuk warung kopi, Bung!

Di tengah kebingungan itu, rekan-rekan senior yang baik hati, ada Mas Agus, ada Pak Merza, ramai-ramai berteriak. “Mas Fahruddin, ayo centang biru!”, “Legalisir akun Anda!”.

Saya terharu? Jelas. Terima kasih, Kawan. Tapi, maaf. Izinkan saya bersikap sedikit ‘sombong’ (atau mungkin pasrah). Saya tidak ambil pusing.

Mau centang biru, hijau, atau ungu janda. Saya masa bodoh. Bagi saya, itu cuma kosmetik. Bedak. Gincu. Saya tidak akan ribet mengejar sebuah logo kecil di samping nama.

Prinsip saya kolot, penulis itu dinilai dari ‘Daging’ tulisannya, bukan dari ‘Stempel’ akunnya. Ibarat makanan, yang penting rasanya enak, bukan seberapa bagus sertifikat kokinya.

Lalu soal label ‘Artikel Pilihan’ atau ‘Artikel Utama’ (AU). Isunya sensitif. Ada yang baper akut kalau tulisannya dicuekin admin. Rasanya lebih pedih daripada chat sayang yang cuma di-read doang.

Di kolom komentar, banyak yang jadi ‘pengacara’ dadakan saya. “Tulisan sebagus ini kok gak dilabeli Biru? Artikel ini layak AU”. Dari lubuk hati paling dalam, Terima kasih. Saya angkat topi.

Tapi soal label yang tak kunjung turun itu? Saya? No Komen. Itu Diskresi Mutlak. Hak Veto Admin. Ibarat restoran konsep Omakase, Admin adalah Executive Chef. Kekuasaannya absolut. Terserah dia mau menyajikan menu apa di etalase depan.

Kita ini siapa? Kita cuma suplier bawang merah di pasar induk. Tugas kita cuma kirim barang bagus. Kalau Chef-nya lagi pengen masak Semur, ya daging Wagyu kita gak bakal dipake. Simpel.

Tapi ingat, Bung. Admin di sini bukan cuma Koki. Mereka juga merangkap profesi lain, ‘Satpam’ (atau Bouncer Klub Malam). Jangan kira cuma kantor media arus utama yang punya Satpam galak. Di , satpamnya tak terlihat, tapi pentungannya terasa.

Admin di sini matanya elang. Galak. Tegas. Salah sedikit melanggar S&K? Zap! Postingan Anda dihapus tanpa ampun. Melenceng dari aturan komunitas? Blep! Tulisan dicekal, hilang ditelan black hole. Dan yang paling ngeri (amit-amit jabang bayi) kalau pelanggarannya fatal, akun Anda bisa kena Vonis Mati (Banned Permanen). Wassalam. Tamat riwayat!

Jadi, meski saya bilang ini ‘Warung Kopi’, jangan mentang-mentang bebas lalu Anda bisa kencing sembarangan di pojokan. Satpam digital di sini siap menendang pantat siapa saja yang bikin onar.

Lantas, kalau bukan cari Centang Biru, ngapain saya balik? Apa demi K-Rewards? Demi saldo Gopay yang nilainya fluktuatif? Prett. Maaf, tidak munafik, uang itu enak. Tapi kalau cuma cari uang, saya lebih baik jadi makelar tanah atau jualan gorengan. Lebih pasti cash flow-nya.

Saya pulang ke sini karena satu alasan sederhana, ‘kesepian’.

Bertahun-tahun menulis di media arus utama dan mengurus kolom redaksi, saya merasa seperti orang yang berteriak di tengah hutan. Saya menulis berita. Terbit. Dibaca ribuan orang. Tapi sepi. Sunyi. Tidak ada balasan. Tidak ada sanggahan. Pembaca cuma angka statistik di layar dashboard. Angka itu dingin, Bung. Gak bisa diajak curhat, gak bisa dipinjemin duit.

Saya rindu ‘kehangatan’. Saya rindu suasana Warung Kopi.

Bagi saya, hari ini adalah warung kopi raksasa itu. Warung yang pengap. Berisik. Penuh asap rokok. Penuh uap kopi. Tapi yang paling penting, penuh kepulan asap gagasan.

Di sini, orang bebas bicara. Bebas mendebat. Bebas setuju atau tidak setuju (asal tidak kena pentungan satpam tadi). Di sini, tulisan bukan sekadar informasi satu arah, tapi pemantik diskusi.

Itulah kenapa saya kembali. Saya ingin duduk di pojokan warung ini. Memesan kopi hitam. Lalu melempar satu-dua topik panas ke tengah meja. Saya butuh teman ngobrol. Saksi ahli kehidupan. Kolom komentar di bawah artikel ini, bagi saya, adalah meja-meja kecil di warung kopi itu.

Maka, saya berjanji. Saya akan menyisir komentar Anda. Satu per satu. Saya akan menyapa Anda layaknya kawan lama yang baru datang, menarik kursi, lalu ikut nimbrung obrolan. Kita ini manusia. Mari ngobrol sebagai manusia.

Jadi, simpan centang birunya. Simpan saldo Gopay-nya. Cukup beri saya kopi dan teman bicara yang waras.

Kopinya sudah dingin, Bung. Mari diseruput.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *