Retakan Baru Kekuasaan Teokratis Iran

Kondisi Politik Iran di Akhir Tahun 2025

Pada akhir tahun 2025, Iran berada dalam kondisi yang kurang stabil secara politik. Hal ini ditandai oleh munculnya gelombang demonstrasi besar-besaran di Teheran dan kota-kota besar lainnya. Demonstrasi ini menunjukkan kekecewaan publik yang telah terakar selama dua dekade di bawah sistem teokratis yang berkuasa.

Demonstrasi ini bisa dianggap sebagai ledakan eksistensial dari rasa putus asa yang sudah lama menggerogoti masyarakat. Awalnya, momentum perayaan akhir tahun justru menjadi titik pecah kemarahan kolektif warga. Pemicu utamanya adalah penurunan tajam nilai tukar Rial Iran terhadap dolar AS, yang membuat harga barang sehari-hari seperti roti atau susu berubah drastis hanya dalam hitungan jam.

Kondisi ini memicu reaksi berantai, termasuk aksi mogok massal di Grand Bazaar Tehran, pasar tertua dan terbesar di kota tersebut. Pedagang di sana, yang biasanya pendukung rezim, memilih untuk menutup toko mereka karena tidak mungkin melakukan perdagangan di tengah hiperinflasi yang merusak daya beli konsumen dan pedagang.

Namun, aksi mogok yang awalnya terkesan sunyi itu berubah menjadi demonstrasi jalanan yang masif ketika mahasiswa kosmopolitan dan buruh pabrik bergabung. Keluhan ekonomi berubah menjadi tuntutan politik yang menantang kekuasaan di Teheran.

Akar Masalah yang Terus Berulang

Masalah utama Iran bukanlah hal baru, melainkan lagu lama yang diputar dengan volume semakin keras setiap tahun. Dalam tiga tahun terakhir, Iran mengalami berbagai bentuk kemarahan publik, meskipun tidak sepenuhnya mirip, tetapi berujung pada kejenuhan yang sama.

Contohnya, gerakan “Woman, Life, Freedom” pada tahun 2022 yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini. Protes ini fokus pada martabat wanita dan kebebasan sipil. Kemudian, pada tahun 2024, muncul protes sporadis terkait krisis air dan kelangkaan pangan di wilayah pinggiran.

Apa yang terjadi hari ini adalah konvergensi dari semua luka lama yang tak kunjung sembuh. Pemerintah Iran, di bawah Presiden Masoud Pezeshkian, gagal menjinakkan inflasi yang kini melebihi 50 persen. Rakyat kini berdiri di hadapan paradoksal yang menyedihkan: negara tampak kuat dalam ambisi nuklir dan pengaruh geopolitik, tapi sistem kesehatan dan layanan dasar rusak.

Analisis Sosiologis-Politik

Farzin Vejdani, dalam bukunya “Private Sins, Public Crimes: Policing, Punishment, and Authority in Iran,” menjelaskan bagaimana otoritas di Iran cenderung mengaburkan batas antara dosa pribadi dan kejahatan publik. Setiap perilaku individu di ruang publik diawasi dengan curiga, seolah-olah setiap gerak-gerik warga adalah ancaman langsung terhadap kedaulatan Tuhan.

Buku ini menunjukkan bahwa bagi rezim mullah, penegakan hukum bukan untuk menciptakan keadilan, tetapi sebagai alat untuk menegaskan otoritas moral yang hegemonik. Ketika rakyat turun ke jalan, rezim sering kali melihatnya sebagai “pembangkangan suci” yang harus diredam dengan kekerasan.

Struktur Ekonomi Politik yang Tidak Seimbang

Iran memiliki struktur ekonomi politik yang menderita penyakit kronis ketimpangan sistemik. Rezim teokrasi menciptakan kelas elite yang bersembunyi di balik jubah agama. Faksi-faksi elite di IRGC berhasil menjadi konglomerat yang menguasai hampir seluruh urat nadi kehidupan di Iran.

Sementara rakyat dipaksa mengencangkan ikat pinggang, para elite militer dan jejaring politik berbasis agama justru hidup mewah. Ini membuat rakyat Iran menyimpulkan bahwa kekayaan nasional mereka dicuri oleh segelintir orang yang memegang senjata dan tasbih di puncak kekuasaan.

Respons Rezim yang Tidak Efektif

Respons Teheran atas gelombang protes kali ini masih mengikuti naskah lama. Di satu sisi, ada upaya untuk menampilkan wajah populis, tetapi di lapangan, pasukan paramiliter Basij dan aparat keamanan dikerahkan untuk melakukan penangkapan massal dan kekerasan.

Kebijakan ekonomi yang ditawarkan, seperti kenaikan upah minimum yang tidak sebanding dengan kenaikan pajak, dirasakan rakyat sebagai menuangkan garam di atas luka. Prospek dari kebijakan darurat ini terlihat suram, dan rakyat tidak lagi percaya pada reformasi yang substansial.

Masa Depan Iran yang Tidak Jelas

Dalam hemat saya, situasi saat ini lebih berbahaya bagi kelangsungan rezim di Iran. Gerakan hari ini berhasil menyatukan berbagai faksi kelas sosial yang biasanya berseberangan. Ini menunjukkan bahwa legitimasi ekonomi dan moral rezim mulai runtuh.

Namun, meruntuhkan rezim teokrasi yang didukung kekuatan militer sangat sulit. Meski begitu, sejarah mengajarkan bahwa rezim yang kehilangan kepercayaan dari basis massa akan segera jatuh.

Demonstrasi hari ini menjadi retakan paling dalam pada fondasi teokrasi Iran sejak Revolusi 1979. Rakyat sedang melakukan eksperimen keberanian politik agar ditonton dunia bahwa penjara, siksaan, dan intimidasi tidak cukup kuat untuk membungkam perut yang lapar dan jiwa yang merindukan keadilan.

Proses delegitimasi ini sudah hampir mencapai titik tanpa jalan kembali. Iran sedang bertransformasi menjadi masyarakat yang semakin sekuler dan rasional, meskipun sistem politik masih religius secara simbolis.

Ketegangan antara masyarakat dinamis dan sistem politik statis akan terus memicu ledakan-ledakan baru. Akhirnya, rakyat Iran akan merebut kembali kekuasaan yang seharusnya ada di tangan mereka.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *