Pengalaman WFC di Maraca Books & Coffee
Cuaca Jakarta kali ini cukup lembab, setelah hujan. Kapal speedboat tiba di dermaga Marina masih terbilang pagi. Namun pikiran saya sudah sibuk dengan bagaimana cara menyelesaikan deadline video. Setelah semalaman suntuk berkutat dengan editing, tetapi belum merasa puas dengan hasil yang dikerjakan. Akhirnya, pagi ini saya dibayangi oleh kekhawatiran bagaimana agar segera menyelesaikan video dan mendapatkan approval. Hahaha, sungguh, satu Januari 2026 yang sangat menantang.
Lantas, saya melanjutkan perjalanan. Jalan kaki, lalu dibonceng teman kerja ke halte Transjakarta di Ancol. Kemudian naik KRL dari stasiun Jakarta Kota. Sempat keliling area dekat stasiun Jakarta Kota, tetapi tidak dilanjutkan karena harus mencari cafe untuk menyelesaikan pekerjaan editing video.
WFC di Maraca Books & Coffee
Setelah melakukan pencarian via google review dan beberapa artikel, entah kenapa tidak menemukan cafe yang cocok di kantong dan terjamin wifi-nya kencang. Dari pada mencoba yang tidak pasti, saya langsung putuskan untuk mengerjakan editan video di Maraca Books & Coffee.
Salah satu tempat yang cukup saya andalkan sejak akhir 2024 hingga beberapa bulan belakangan. Saya sering melakukan WFC (Work from Cafe) di tempat tersebut karena lokasinya strategis dan harga makanan serta kopi cukup terjangkau.
Selain itu, Maraca Books & Coffee direkomendasikan buat yang ingin mengerjakan pekerjaan. Wifi-nya terbilang cukup kencang. Sering melakukan zoom meeting atau editing video/desain, upload file besar ke Google Drive, intinya semua aktivitas saya aman banget di Maraca.
Saya bersyukur, saat tiba di Maraca. Ada spot yang nyaman masih kosong. Langsung saya tandai dan memesan makanan serta minuman terlebih dahulu. Saya penasaran dengan Black Coffee Lemon (dingin), lalu ubi bluree dan kentang goreng. Wow, double karbohidrat banget yak hehehe.
Alamat Maraca Books & Coffee
Oh iya, sobat kompasiner pasti bertanya-tanya letak atau alamat Maraca Books & Coffee ini dimana sih? Berikut alamatnya: Jl. Jalak Harupat No.9a, Sempur, Bogor Tengah, Kota Bogor.
Cara menuju Maraca kalau dari stasiun Bogor: keluar dari stasiun Bogor dengan pintu ke arah alun-alun Kota Bogor. Bisa jalan kaki atau naik angkot 03. Bisa juga naik BisKita walaupun area turunnya tidak pas alias harus jalan. Paling bener emang naik 03 saja atau ojek online biar makin praktis.
Tersedia area indoor dan semi outdoor. Terdapat beberapa rak buku yang tersusun rapi. Ada banyak buku bagus dan bergizi, yang bisa dibaca sama para pengunjung cafe.
Cafe yang cukup kids friendly, karena menyediakan beberapa permainan anak, kursi anak, serta makanan yang enak buat anak-anak. Setiap kali saya WFC, pasti ada saja anak kecil yang ngafe sama ortunya. Mereka anteng, tidak berisik. Biasanya mewarnai, atau main beberapa permainan yang sudah disediakan.
Fasilitas dan Atmosfer di Maraca Books & Coffee
Kursi dan meja didominasi oleh kayu minimalis. Ruangan indoor dicat putih, clean & memperkuat kesan minimalis. Saat memesan makanan, bisa langsung bayar. Pembayaran: cash, debet dan QRIS. Tinggal disesuaikan sama gaya bertransaksi kamu. Di area indoor cukup nyaman, dingin dan bebas asap rokok pastinya. Ini poin penting buat saya tiap cari cafe.
Area semi outdoor cukup rindang dan hijau karena terdapat banyak tanaman. Masih terbilang teduh dan tersedia kipas angin juga. Walau, beberapa pengunjung ada yang merokok dan ngevape di area tersebut. Makanya saya tidak suka diam di area semi outdoor.
Kabar baiknya, cafe ini sangat peduli sama keberlanjutan. Menggunakan sedotan bukan plastik, kemudian ada area mengolah limbah juga dan staf cafe akan mengingatkan kita kalau ada makanan yang belum habis. Mereka menawarkan opsi di bungkus, supaya tidak tambah banyak limbah makanan.
Jam buka nya pun terbilang cukup pagi. Mengakomodir orang yang mau sarapan tapi tidak masak. Bukanya dari jam 06.30 WIB sampai dengan 22.00 WIB, sangat panjang sekali. Banyak para pelari melipir sarapan di cafe ini.
Pengalaman Menyelesaikan Deadline
Selain itu, memang ada beberapa pengunjung yang sengaja WFC di sana sama seperti yang sering saya lakukan. Seringkali saya bisa tiga sampai empat jam di cafe. Buat beresin kerjaan. Itulah kenapa saya pesan dua makanan. Tapi tenang, tidak lebih dari seratus ribu kok. Seringnya saya hanya mengeluarkan sekitar 60-70 ribuan sekali kesana. Beberapa bulan ini malah tidak sempat mampir karena nugas terus bahkan Sabtu Minggu pun.
Saya bersyukur, perlahan editan video mulai menampakan hasil. Saya sambil upload hasil jepretan camera ke Google Drive. Setelah video benar-benar finish, minta approval dan sempat ada revisi minor. Saya tutup laptop dan nikmati suasana cafe.
Ada beberapa keluarga muda mengajak anaknya buat bermain, tidak terlalu bising. Suara mereka aman. Ada pasangan sedang ngopi dan ngobrol bareng. Lalu ada beberapa sahabat yang sedang hangout sambil cerita-cerita seru. Di area semi outdoor terdapat beberapa pelari sedang sarapan yang kesiangan. Iya, waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB. Makan siang beberapa jam lagi. Sarapan sudah cukup lewat.
Kemudian, saya bangkit dari tempat duduk. Memilih salah satu buku yang ingin saya baca. Setelahnya, saya menengok isi gelas. Kopi sudah habis, terbesit untuk memesan fresh milk hot dan ternyata ada. Bak gayung bersambut, saya pun tambah secangkir susu hangat.
Bikin perut saya nyaman dan tenggorokan enak. Sambil perlahan buka buku yang telah saya pilih dari sebuah rak. Saya hanyut dalam kisah dalam buku tersebut. Ikut membayangkan yang di deskripsikan oleh penulis. Ceritanya sederhana namun menarik. Perjuangan seorang mahasiswa yang kuliah di Mesir. Setiap prosesnya sangat menggugah, bikin pengen kuliah lagi.
Apalagi penulis bercerita terkait orang-orang yang ditemui. Bikin tulisan makin terasa hidup banget.
Tidak terasa, tiga jam berlalu. Saya habiskan di cafe dengan semua tugas yang Alhamdulillah selesai. Saya bergegas merapihkan ransel untuk lanjut pulang ke rumah. Tanggal 1 Januari yang penuh kesan. Walau ngantuk dan lelah, saya tetap berusaha menyelesaikan deadline pekerjaan.
Saya lega, bisa kelar dan posting dengan aman. Setelahnya saya bisa menjumpai mama dan bapak di rumah setelah menginap semalam di Pulau Untung Jawa.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











