Budaya  

Penjaga Tradisi Wayang Sasak di Tengah Arus Industri

Upaya Pelestarian Musik Wayang Sasak

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, kegelisahan terhadap hilangnya tradisi musik Wayang Sasak menggerakkan Amru untuk melakukan penelitian. Tujuannya adalah agar nada-nada khas musik ini dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Penelitian ini menjadi langkah penting dalam menjaga keaslian dan kekayaan budaya masyarakat Lombok.

Pada acara Sangkep bertajuk “Memetakan Nada Nada Musik Wayang Sasak dengan Sistem Pelarasan Microtones”, Amaq Su, salah satu pemain suling wayang Sasak yang sudah berpengalaman, mencoba memadukan suara suling tradisionalnya dengan petikan gitar modern yang dimainkan oleh Adya Amru Hidayat. Awalnya, perpaduan antara dua alat musik ini terdengar asing, tetapi seiring waktu, keduanya menemukan keselarasan. Pengalaman ini memberikan wawasan baru bagi Amaq Su tentang sistem nada yang selama ini hanya ia pelajari secara intuitif.

“Biasanya cuma dengar, lalu mengisi (filling). Semoga dengan ada anak-anak yang belajar musik ini, musik Wayang Sasak bisa lebih cepat dipahami,” ujarnya dengan harapan besar.

Generasi Musik Tradisional Kian Berkurang

Sayangnya, jumlah generasi pemain instrumen Wayang Sasak semakin menyusut. Selain sulitnya mencari nada yang baku, musik Wayang Sasak hingga kini belum memiliki pakem tertulis yang bisa dipelajari secara bersama. Di sisi lain, generasi muda terus disuguhi musik industri modern yang semakin menjauhkan mereka dari tradisi.

Amru merasa khawatir bahwa pengetahuan tentang musik Wayang Sasak akan hilang jika tidak segera diwariskan. Ia menyatakan bahwa anak-anak muda saat ini sudah terdistorsi oleh alat musik barat. “Kita enggak punya jejak. Takutnya 30 tahun ke depan, saya cuma bisa cerita ke anak-cucu kalau dulu ada musik ini, tapi tidak bisa disuarakan lagi,” katanya.

Dalam presentasinya, Amru memaparkan microtones sebagai bagian dari penelitiannya. Microtones merupakan nada-nada yang berada di antara nada-nada standar dengan interval yang lebih kecil dari semitone. Pendekatan ini diibaratkan seperti membuat “penggaris” agar musisi memiliki acuan dalam memainkan jarak nada (interval).

Peran Sekolah Pedalangan Wayang Sasak

Safwan, kepala Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS), mengapresiasi langkah Amru dalam meneliti musik Wayang Sasak. Menurutnya, penelitian ini merupakan langkah awal untuk membumikan Wayang Sasak. Meski penelitian baru mengambil sampel nada dari instrumen suling, Safwan menegaskan bahwa Wayang Sasak memiliki perangkat musik yang jauh lebih kompleks.

Instrumen pada musik Wayang Sasak meliputi gong, gendang, lanang, wadon, knot, kajar, dan rincik. Semua instrumen harus dicari tangga nadanya agar dapat menampilkan orkestra yang baik. Safwan juga mencatat perkembangan seni Wayang Sasak masih berjalan stagnan. Pada 2022, jumlah dalang Wayang Sasak di Pulau Lombok tercatat 46 orang, namun hanya belasan yang masih aktif.

Kolaborasi dan Penelitian Jangka Panjang

Fitri Rachmawati, pendiri SPWS, menjelaskan bahwa riset Amru telah berjalan selama lima tahun dan semakin intens dua tahun terakhir melalui kerja kolaboratif bersama SPWS. Salah satunya dalam pertunjukan teater kolaborasi Wayang Sasak berjudul “Pertale Gumi atau Bumi Dalam Lipatan”. Dari sana, Amru menyampaikan kegelisahannya ingin menemukan nada-nada musik Wayang Sasak dalam hitungan yang pasti, dengan ilmu fisika dan matematika yang ia kuasai.

Menurut Fitri, upaya Amru merupakan langkah maju untuk menegaskan bahwa musik Wayang Sasak adalah musik otentik milik masyarakat Sasak Lombok. “Bukan milik Bali, bukan juga Jawa,” tegasnya.

SPWS, kata Fitri, memfasilitasi diskusi dan presentasi awal riset Amru secara swadaya. Hasil penelitian itu dinilai penting untuk memperkuat Wayang Sasak sebagai Warisan Budaya Takbenda yang memiliki warna musik khas, berbeda dari Wayang Bali maupun Wayang Jawa.

Langkah Pemerintah Daerah

Di tengah upaya pelestarian yang digerakkan dari akar rumput, angin segar juga datang dari pemerintah daerah. Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menyampaikan komitmennya untuk mengembangkan kebudayaan dengan membentuk Dinas Kebudayaan tersendiri pada 2026. “Salah satunya, tahun depan mulai Januari akan ada Dinas Kebudayaan secara terpisah, khusus memikirkan dan mengembangkan kebudayaan yang beraneka ragam,” ujarnya.

Menurutnya, pembentukan dinas ini menjadi wujud pengarusutamaan budaya dalam kebijakan pemerintah daerah. “Budaya bukan hanya dalam arti tradisi, tetapi budaya tidak bisa dipisahkan dari semua kebijakan yang dibuat oleh pemerintah,” ujarnya.

Di ruang sanggar itu, diskusi ditutup dengan denting suling Amaq Su yang berpadu dengan petikan gitar Amru seakan menjadi simbol kecil dari harapan besar bahwa musik Wayang Sasak tak sekadar bertahan, tetapi menemukan kembali jalannya di tengah kemajuan musik digital modern.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *