Tangani Stunting, Dinas PUPR Perkim Tana Tidung Bangun 37 Jamban di Lima Desa

Upaya Dinas PUPR Perkim Tana Tidung dalam Mengentaskan Stunting melalui Sanitasi

Dinas PUPR Perkim Tana Tidung sedang melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas sanitasi di wilayah Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara. Tujuan utama dari program ini adalah untuk mengentaskan angka stunting yang masih menjadi tantangan di daerah tersebut.

Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR Perkim Tana Tidung, Rico Ardianto, menjelaskan bahwa pengerjaan sanitasi mencakup pembuatan jamban atau WC serta pengadaan drainase. Program ini juga masuk dalam tim pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

“Di tahun 2025 ini kita memiliki pekerjaan terkait SPM air bersih dan sanitasi. Untuk sanitasi, kita fokus pada pembuatan WC masyarakat dan peningkatan sistem drainase,” ujar Rico.

Pembangunan jamban atau WC dilakukan di lima desa yang ada di Tana Tidung. Hingga saat ini, sebanyak 37 jamban telah dibangun dan masih dalam proses pengerjaan. Lima desa tersebut antara lain Tideng Pale Timur, Sebidai, Sebawang, Sesayap Selor, dan Gunawan.

Selain itu, Dinas PUPR Perkim juga memperbaiki saluran air atau drainase di empat kecamatan se-Kabupaten Tana Tidung. Keempat kecamatan tersebut yaitu Muruk Rian, Betayau, Sesayap, dan Sesayap Hilir. Drainase yang dibangun mencakup berbagai jenis, termasuk drainase lingkungan dan normalisasi. Di beberapa area seperti Tideng Pale, drainase yang tersumbat telah diperbaiki.

Pengerjaan sanitasi ini dimulai sejak Juli 2025. Di anggaran perubahan, Dinas PUPR Perkim juga mengajukan tambahan anggaran untuk menyelesaikan proyek sanitasi. “Kita mulai bekerja dari Juli dan di anggaran perubahan, kita tambah untuk drainase. Area yang sering genang akan kita bangunkan drainase, dan di 2026 nanti kita akan bangunkan lagi termasuk septic tank,” jelas Rico.

Total panjang drainase yang dibangun selama tahun 2025 mencapai lebih dari 5 kilometer di seluruh kabupaten. “Itu total keseluruhan se-kabupaten, dan untuk yang normalisasi kita fokus pada area yang sering tergenang air,” tambahnya.

Pembuatan septic tank di rumah-rumah masyarakat juga tetap mempertimbangkan dampak lingkungan. Konsep biofilter (biofil) digunakan agar tidak mencemari lingkungan, terutama area perairan. “Biofil ini merupakan sistem yang menggunakan bakteri pengurai agar air yang keluar tidak merusak lingkungan. Air yang sudah diproses akan disedot dan dibuang ke TPA di kilometer 8 desa Limbu Sedulun,” jelas Rico.

Menurut Rico, ketersediaan jamban yang sesuai standar sangat berpengaruh dalam menurunkan angka stunting. “Sanitasi yang baik, seperti adanya septic tank yang benar, sangat penting untuk mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan masyarakat.”

Sayangnya, kendala yang dihadapi adalah banyak masyarakat yang meski sudah difasilitasi untuk membuat septic tank sendiri, namun tidak dikerjakan. Untuk mengatasinya, Dinas PUPR Perkim kini langsung membangunkan septic tank di rumah-rumah yang menjadi sasaran.

“Beberapa masyarakat diberi uang Rp 2,5 juta dan konsep biofil, tapi mereka tidak mau membangun. Jadi sekarang kita dari PU yang membangunkan karena jika tidak, proyek tidak akan berjalan,” keluh Rico.

Biofil sendiri adalah salah satu cara pembuatan septic tank dengan sistem yang menggunakan bakteri pengurai. Setelah beberapa tahun, kotoran yang tertampung dalam septic tank akan disedot dan dibuang ke TPA. “Air yang sudah diproses akan menjadi pupuk,” tutup Rico.


Hartono Hamid

Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *