Kisah Bintang Kala: Inovasi yang Berjuang di Tengah Bencana
Dalam sebuah perjalanan yang penuh tantangan, Bintang Kala berhasil mencapai grand final dalam ajang Budaya GO yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Mereka tidak hanya menyelesaikan aplikasi mereka di tengah bencana alam, tetapi juga mendapatkan apresiasi khusus dari pihak berwenang atas kegigihan dan semangat mereka.
Aplikasi yang dikembangkan oleh tim ini bernama Smart Keuneunong, sebuah karya yang mengandalkan kearifan lokal. Tujuan utamanya adalah untuk membantu para petani dan nelayan memahami alam, cuaca, serta siklus kehidupan yang selama ini hanya diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Tim Bintang Kala: Kekuatan Bersama
Tim Bintang Kala terdiri dari lima anggota yang berasal dari berbagai daerah di Aceh:
- Nanta Es dari Lhokseumawe, seorang programmer dan operator SMAN Mosa Arun Lhokseumawe.
- Syahrul Hamdi dari Aceh Selatan, ahli data sains dan programmer, juga dari SMAN Mosa Arun Lhokseumawe.
- Reny Fharina dari Aceh Tengah, pegiat seni dan guru seni SMPN 3 Bireuen.
- Abu Rahmat dari Aceh Utara, pegiat seni dan guru SMAN 1 Baktiya.
- Nyakman Lamjamee dari Banda Aceh, seorang seniman.
Mereka bekerja sama dengan komitmen tinggi, bahkan saat situasi ekstrem sedang terjadi.
Perjuangan di Tengah Bencana
Pada tanggal 26 November 2025, setelah pengumuman tahap dua, tim masih berdiskusi melalui grup WhatsApp untuk menyempurnakan demo aplikasi. Namun, hujan deras mulai mengancam kestabilan hidup mereka.
Hujan turun tanpa henti, listrik padam di hampir seluruh Aceh, dan jaringan komunikasi terputus. Air masuk ke rumah-rumah hingga ketinggian satu meter, mengubah desa menjadi lautan lumpur. Dalam situasi seperti ini, mereka tetap berusaha menyelesaikan demo aplikasi, meskipun dengan daya baterai seadanya dan cahaya yang sangat minim.
Empat Hari Tanpa Cahaya
Empat hari tanpa listrik, tanpa sinyal, dan tanpa kabar membuat mereka merasa terisolasi. Saat hujan reda, mereka berjalan kaki menuju tempat-tempat tinggi hanya untuk mencari seberkas sinyal. Di sanalah mereka menemukan kabar yang menggetarkan: nama “Bintang Kala” muncul dalam daftar undangan grand final.
Perasaan campur aduk muncul: bahagia, takut, sedih, dan bimbang. Bagaimana bisa berangkat jika jalan terputus? Bagaimana bisa berpikir tentang lomba saat perut lapar dan rumah hancur?
Perjalanan Menuju Jakarta
Beberapa anggota tim harus menyeberangi sungai berarus deras menggunakan perahu kecil milik nelayan. Sementara itu, satu anggota dari Bireuen berangkat setelah menelepon orang tua dan memohon izin, sambil menahan air mata. Anggota dari Banda Aceh menunggu mereka dengan berjalan kaki berkilometer demi memastikan komunikasi tetap hidup.
Tiba di Banda Aceh
Pada tanggal 3 Desember 2025, mereka akhirnya tiba di Banda Aceh dalam keadaan selamat. Mereka menumpang di kantor BPK Wilayah I, satu-satunya tempat yang masih memiliki listrik. Di sana, mereka duduk bersama untuk pertama kalinya, bukan hanya sebagai tim, tetapi sebagai saudara seperjuangan.
Malam itu mereka belajar, berdiskusi, dan mempersiapkan diri untuk Jakarta. Pagi harinya, mereka berangkat ke bandara, dan sore hari, mereka tiba di lokasi Budaya GO Jakarta. Meski tidak datang dengan pakaian terbaik, mereka hadir dengan luka, air mata, dan tekad yang tak pernah padam.
Kesuksesan yang Tak Terduga
Dari 627 peserta, mereka berhasil menjadi 100, lalu 50, hingga akhirnya menjadi 10 besar grand finalis nasional. Bintang Kala tidak hanya membawa aplikasi, tetapi juga kisah tentang ketahanan manusia. Mereka membuktikan bahwa inovasi lahir bukan dari kenyamanan, tetapi dari keberanian.
Pesan dari Abu Rahmat
“Kaki harus menyelesaikan mapan yang sudah kami mulai,” kata Abu Rahmat saat menerima apresiasi pada malam penutupan. Mereka hadir semua di panggung, diiringi latar bencana banjir dan longsor di Aceh, kampung mereka.
Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”












