Budaya  

Viral atau Fatal? Kekuatan Pikiran Kolektif yang Mengikis Budaya Lokal

Fenomena Budaya Digital: Antara Kebangkitan dan Penghilangan Makna



Di tengah kegembiraan yang ditimbulkan oleh video Rayyan Arkan Dikha (Dika) yang menari di ujung perahu Pacu Jalur Riau, muncul sebuah paradoks. Video ini menjadi fenomena “aura farming” global, yang seolah-olah menunjukkan kemenangan diplomasi budaya digital. Namun, di balik kegembiraan tersebut, muncul pertanyaan penting: Apakah kita sedang melestarikan warisan budaya atau hanya menyaksikan penggerusan identitas lokal yang menarik?

Fenomena ini lebih dari sekadar tradisi viral; ia menunjukkan bagaimana cara orang berpikir di era internet telah mengubah bagaimana kita menikmati, memaknai, dan mempertahankan budaya kita. Latar belakang budaya Indonesia mengalami transformasi yang signifikan, terutama ketika budaya lokal hanya muncul sebagai video 60 detik yang dipaksa menjadi viral. Jutaan anak muda Indonesia lebih mengenal tarian tradisional melalui filter TikTok daripada di panggung asli, dan batik dijual secara live dengan metode “mas-mas adem seperti ubin masjid”.

Media sosial telah menciptakan mentalitas kawanan digital yang memaksa setiap aspek budaya untuk “berkomunikasi” melalui algoritma. Hal ini menjadikannya mudah diakses, cepat tersebar, dan menghibur. Namun, seberapa banyak makna filosofis dan nilai moral yang hilang akibat transformasi ini? Lebih penting lagi, apakah generasi kita akan mampu membedakan antara budaya yang telah diubah oleh virus dan budaya tempat mereka berasal?

Bayangkan seorang remaja yang melihat video tari Saman Aceh yang menjadi viral di TikTok. Dia sangat terpukau dengan gerakan penari, sehingga mencoba meniru beberapa dari mereka. Dia membagikan video tersebut kepada teman-temannya dengan cepat. Beberapa jam kemudian, dia merasa seperti “mengenal” budaya Aceh. Apakah dia menyadari bahwa setiap tepukan tangan Saman menunjukkan keinginan untuk berkolaborasi? Apakah dia menyadari bahwa prinsip-prinsip moral Islam terkandung dalam lirik lagu tersebut? Mungkin bagi dia, Saman hanyalah sebuah “tarian keren yang viral”.

Meskipun jutaan orang dapat “melihat” keragaman budaya Indonesia di media sosial, hanya kulitnya yang terlihat. Layaknya makan gudeg instan: bentuk dan rasanya sama, tetapi kenikmatan dan rasa dari proses memasak tradisional—yang membutuhkan kesabaran dan keahlian yang diwariskan—hilang. Budaya modern harus “meringkas diri” menjadi konten yang mudah dicerna, meskipun sebelumnya bergantung pada ritual, cerita, dan filosofi yang mendalam.

Sangat mengkhawatirkan bahwa cara orang berkumpul di media sosial cenderung menghasilkan pola pikir “ikut-ikutan tanpa memahami”. Semua orang berbondong-bondong untuk menjadi trending ketika budaya lokal tiba-tiba menjadi viral. Namun demikian, mereka sering melakukannya tanpa menyadari apa yang sebenarnya mereka lakukan. Hasilnya, daripada mempertahankan budaya asli, kita malah membuat versi “kopi” nya. Jumlah data yang hilang atau terdistorsi berkorelasi dengan kerusakan permainan telepon langsung. Dan ironisnya, generasi yang tidak pernah mengalami tradisi ini melihat bentuk “fotokopian” ini sebagai budaya yang sebenarnya.

Distorsi budaya ini semakin parah ketika fenomena “kebaya crop top ala Korea” menjadi viral. Dalam sejarah filosofi Jawa, pakaian wanita melambangkan keanggunan, kesopanan, dan identitas perempuan Nusantara. Namun, gaya ini tiba-tiba berubah menjadi ekspresi mode yang bertentangan dengan prinsip-prinsipnya. Ini bukan hanya perubahan; itu menghilangkan makna filosofis yang telah ada sejak lama. Ironisnya, generasi modern melihat versi “terdistorsi” ini sebagai “inovasi budaya”.

Algoritma sebagai Dalang Homogenisasi

Algoritma media sosial adalah budaya yang tersembunyi di balik semua peristiwa ini. Tujuan algoritma ini adalah untuk meningkatkan partisipasi daripada menjaga keaslian budaya. Oleh karena itu, konten yang sensasional dan mudah dicerna tidak akan dapat bersaing dengan konten budaya yang “berat” yang membutuhkan konteks yang lebih mendalam. Sebuah “remix” yang lebih menarik dan sesuai dengan selera massa global akan menggantikan tarian tradisional yang membutuhkan pemahaman filosofis.

Homogeneisasi ini menyebabkan efek domino. Budaya lokal yang viral harus mengikuti agar budaya lain tidak tenggelam. Akibatnya, setiap tarian tradisional harus “dikemas” dengan gaya, musik, dan durasi yang sama. Keunggulan khusus setiap bidang secara bertahap dihapus dan digantikan oleh template universal yang “bersahabat dengan algoritma”. Sekarang, budaya Nusantara harus “monokrom” untuk menarik algoritma.

Generasi yang Terputus dari Akar

Salah satu efek paling berbahaya dari fenomena ini adalah generasi yang menganggap dirinya “kenal” dengan budayanya sendiri. Padahal, sebenarnya mereka hanya mengenal simulakra atau bayangan semu dari budaya tersebut. Kini, remaja di Desa Suralaga di Lombok Timur lebih suka berkomunikasi melalui internet yang cepat dan efisien daripada forum konvensional yang penuh dengan informasi. Mereka dapat menari Sasak dengan gerakan yang tepat dengan menggunakan tutorial dari TikTok. Namun, mereka tidak tahu mengapa gerakan itu dilakukan atau apa pesan spiritual yang ingin disampaikan.



Terlebih lagi, herd mentality digital menciptakan tekanan conformity yang luar biasa. Anak-anak percaya mengikuti tren viral akan membuat mereka diterima secara sosial, tetapi itu berarti mengabaikan prinsip keluarga yang sudah mereka pelajari. Fenomena “berjoget-joget, membuka aurat, dan berpacaran” yang muncul di media sosial di Sulawesi Selatan adalah contoh nyata bagaimana tekanan viral dapat menghancurkan norma dan rasa malu yang telah ada selama bertahun-tahun.

Antara Pelestarian dan Komodifikasi

Ironisnya, saat mencoba “melestarikan” budaya melalui media digital, kita secara tidak sadar mengkomodifikasinya. Berbeda dengan budaya sebelumnya yang hidup dalam lingkungan sakral dan komunal, budaya modern dipaksa untuk menjadi “produk konsumsi” individu. Foto selfie—yang dulunya digunakan untuk menunjukkan kemurnian dan keseimbangan—sekarang lebih populer.

Filosofi masyarakat Kampung Adat Cikondang, “Panjang Tong Dipotong, Pondok Tong Disambung,” menunjukkan betapa pentingnya menjaga warisan leluhur tetap utuh. Filosofi ini tampaknya bertentangan dengan budaya viral yang inovatif dan dinamis. Namun, dalam filosofi asli budaya Nusantara, setiap elemen memiliki tempat dan waktu yang tepat, makna yang mendalam, dan fungsi yang tidak dapat diganti oleh elemen lain. Saat semua itu digabungkan dalam waktu 60 detik yang harus “dihubungkan” dan “dibagi”, hanya kulit dan bentuk yang tidak memiliki substansi yang tersisa.



Pada akhirnya, arus media sosial yang tersebar luas dan cepat telah memberi budaya lokal kesempatan yang sangat baik untuk dikenal oleh dunia. Namun, kekayaan budaya pelan dapat menjadi tontonan jika kita hanya melihatnya tanpa memahaminya. Mentalitas kelompok digital dapat segera menjadi tradisi yang familiar bagi banyak orang. Namun, hal itu juga membawa risiko budaya yang hanya dinikmati secara dangkal tanpa pemahaman mendalam.

Untuk memastikan bahwa budaya lokal tetap ada dan memiliki makna asli untuk generasi berikutnya, semua orang harus berbicara tentang cara menggunakan kekuatan viral. Karena melestarikan budaya saat ini berarti menjaga keseimbangan agar keberagaman dan kearifan lokal tetap hidup di tengah arus digital yang cepat. Jika kita mengabaikannya, sisa-sisa budaya hanyalah rekaman digital. Gali kembali makna budaya lokal dan bagikan dengan cara yang bermakna—tidak sekadar viral, tetapi juga benar-benar bernilai untuk masa depan bangsa.

Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *