Budaya  

4 Tempat Wisata Religi Menarik di Hulu Sungai Selatan, Makam Tumpang Talu Penuh Misteri

Wisata Religi yang Menarik di Kalimantan Selatan

Meskipun Kalimantan Selatan tidak memiliki banyak pilihan wisata alam, wilayah ini justru menonjol lewat kekayaan wisata religinya. Dengan mayoritas masyarakat berasal dari suku Banjar yang memeluk agama Islam, wajar jika banyak ditemukan masjid dan musala berusia tua yang memiliki nilai historis serta ciri khas arsitektur menarik.

Selain itu, Kalimantan Selatan juga dipenuhi makam ulama yang kerap menjadi tujuan ziarah masyarakat. Saat berkunjung ke sana, wisatawan mungkin akan menjumpai makam-makam yang dibalut kain kuning, diberi kelambu, atau ditutupi kain hijau berhiaskan kaligrafi Arab. Semua itu merupakan makam para ulama maupun tokoh pejuang kemerdekaan yang dihormati oleh warga setempat.

Salah satu daerah yang memiliki banyak makam semacam ini adalah Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Makam para tokoh dan ulama sangat mudah ditemukan di kawasan tersebut. Bahkan beberapa di antaranya memiliki nilai sejarah kuat karena merupakan tempat peristirahatan para pejuang di masa lampau. Berikut beberapa destinasi wisata religi yang bisa dikunjungi di Hulu Sungai Selatan:

1. Kubur Anam / Makam 6 (Enam) Pejuang

Makam ini terletak di Jalan Ahmad Yani, Desa Ida Manggala, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Uniknya, makam ini berisi jenazah enam orang pejuang kemerdekaan RI dari Kalimantan Selatan, yakni Ahmad Sumbawa, Muhammad, Salamat, Ugub, Marhalla, dan Darmawi. Mereka tidak dikubur sendiri-sendiri, tetapi dijadikan satu lubang. Satu lubang berisi tiga jenazah, sehingga di sana ada dua kuburan.

2. Makam Tumpang Talu



Berlokasi di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Kandangan Barat, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, destinasi wisata yang satu ini juga tak kalah menarik. Menariknya adalah dari latar belakang sejarahnya. Hampir mirip dengan Kubur Anam di atas, kuburan ini juga memiliki lebih dari satu jenazah yang dimakamkan di satu lubang. Namun bedanya, ini hanya satu kuburan berisi tiga jenazah, yaitu jenazah tiga pejuang kemerdekaan asal Kalimantan Selatan. Mereka adalah Bochari, Landoek, dan Matamin yang diperkirakan tewas pada 1899 saat pertempuran Hantarukung di daerah Parincahan, Kandangan. Oleh warga, mereka dimakamkan di satu lubang sehingga kemudian makam ini dikenal dengan nama Makam Tumpang Talu atau jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia berarti makam tumpang tiga karena jenazah mereka posisinya bertumpang atau bertumpuk tiga.

Setelah kejadian tersebut, banyak warga masyarakat baik dari daerah setempat atau dari luar daerah yang berziarah ke Makam Tumpang Talu tersebut serta bernazar apabila hajat atau keinginannya tercapai akan melakukan selamatan di makam tersebut.

3. Makam H Sa’duddin

Almarhum yang dimakamkan di sini bernama Haji Muhammad Thaib yang bergelar Haji Sa’duddin bin Haji Muhammad As’ad bin Puan Syarifah binti Al Allamah Syeikh Haji Muhammad Arsyad Al-Banjari. Dia adalah seorang ulama terkenal dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Dia dilahirkan di Kampung Dalam Pagar, Martapura pada 1194 Hijriah yang bertepatan dengan 1774 Masehi. Sejak kecil dia telah mendapat pendidikan langsung dari ayahnya yaitu ‘Alimul Allamah Haji Muhammad As’ad yang ketika itu menjabat sebagai mufti Kerajaan Banjar. Dia juga selalu mengabdi kepada kakak beliau ‘Alimul Allamah Mufti Haji Muhammad Arsyad. Di usia 35 tahun, yaitu setelah bermukim dan menuntut ilmu di Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah selama 10 tahun, beliau kembali ke tanah air dengan membawa ilmu pengetahuan yang sarat dan luas serta gelar Al-Alimul Al-lamah. Dia kemudian pindah ke Kampung Taniran di Kabupaten Hulu Sungai Selatan karena diminta warga setempat untuk berdakwah di sana. Dia berdakwah di sana hingga akhir hayatnya dan dimakamkan di sana pula. Makamnya ini biasa diziarahi warga, terletak di Jalan Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

4. Makam Habib Abu Bakar (Habib Lumpangi)



Pria ini merupakan penyebar agama Islam di daerah Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Dia dari Yaman, Yordania berhijrah ke Loksado guna berdakwah dan memantapkan keyakinan keimanan warga terhadap agama Islam. Warga yang mengikuti pengajiannya tak hanya dari Loksado tetapi juga dari daerah lain seperti Kandangan, Barabai, Nagara, Amuntai dan berbagai daerah lainnya. Selama 45 tahun guru besar ini berdakwah dan berhasil mencetak para ulama penerus yang tersebar di Hulu Sungai Selatan. Pada tahun 1860 hijriah, dia wafat dan dimakamkan di Loksado, tepatnya di Jalan Lumpangi, Desa Lumpangi, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Banyak peziarah yang datang ke makamnya untuk mengenang perjuangan dakwahnya dalam menyebarkan agama Islam di Kalimantan Selatan.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *