Mie Basi dan Keracunan Makanan di Program Gratis Batam, SPPG Turun Tangan

Masalah Keamanan Pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis di Batam

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berjalan di Kota Batam kembali menjadi perhatian masyarakat setelah beberapa insiden terkait keamanan pangan muncul. Dua laporan terpisah menunjukkan adanya masalah yang memicu kekhawatiran publik.

Penemuan Mie Basi di SDN 008 Seibeduk

Pada Jumat, 14 November 2025, sebuah kejadian menghebohkan terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 008 Seibeduk. Seorang orang tua siswa, Tia, mengungkapkan bahwa anaknya tidak mengonsumsi mie yang disajikan karena terlihat dan berbau tidak sedap.

“Anak-anak tidak jadi makan mienya karena sudah terlihat dan berbau tidak sedap. Mereka akhirnya hanya menyantap makanan pendamping, yaitu ayam dan buah,” ujar Tia, menjelaskan pengalaman anaknya.

Insiden ini menimbulkan pertanyaan tentang kualitas makanan yang disajikan dalam program MBG. Meskipun tidak ada laporan resmi dari pihak sekolah, kejadian ini menjadi peringatan bagi pihak yang bertanggung jawab untuk lebih teliti dalam memastikan kelayakan makanan.

Diare pada Siswa MAN 2 Batam

Masalah yang lebih serius dilaporkan dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Batam. Sebanyak 235 siswa melaporkan gejala diare setelah menyantap makanan dari program MBG pada Selasa, 11 November 2025. Menanggapi hal ini, Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batam, Defri Frenaldi, segera melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kota Batam.

“Belum dapat dipastikan keracunan. Memang kami menerima laporan ada sejumlah anak dengan keluhan diare dari sekolah. Namun tidak ada yang sampai dirawat dan siswa masuk sekolah dan beraktivitas seperti biasa,” ujarnya.

Kronologi Kejadian di MAN 2 Batam

Kepala MAN 2 Batam, Ernawati, menjelaskan kronologi lengkap kejadian tersebut. Menurutnya, gejala baru muncul beberapa jam setelah siswa menyantap menu MBG sekitar pukul 12.00 WIB.

“Dari total 648 siswa, sekitar sepertiganya atau 235 orang melaporkan gejala diare pada malam harinya, sekitar pukul 19.00-20.00 WIB. Saat masih di sekolah, semua anak dalam kondisi baik dan dapat mengikuti pembelajaran hingga pulang,” ujarnya.

Ernawati menyampaikan bahwa dugaan sementara penyebabnya adalah lauk dendeng balado yang disajikan hari itu. Menu lengkapnya terdiri dari dendeng balado, tahu, sayur, dan buah.

Yang menjadi perhatian, pihak sekolah mengaku telah beberapa kali meminta agar tidak disediakan lauk berbahan daging karena pernah mengalami masalah serupa.

“Kami sudah menyampaikan permintaan itu sebelumnya. Kemungkinan karena ada pergantian pimpinan, permintaan tersebut tidak tersampaikan atau tidak tercatat dengan baik,” tambah Ernawati.

Respons Pemerintah dan Tindak Lanjut

Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, menyatakan bahwa sampel makanan dari kedua kejadian tersebut sedang menjalani uji laboratorium oleh dinas terkait untuk memastikan kelayakannya.

“Rencananya saya akan melakukan inspeksi langsung ke dapur produksi pada Senin pekan depan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Wagub mengaku belum dapat memastikan apakah dapur produksi yang dimaksud telah memiliki Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS). Namun, ia menegaskan komitmennya untuk menertibkan hal ini.

“Kami mengimbau dengan sangat kepada seluruh SPPG yang beroperasi di provinsi Kepri untuk segera mengurus dan melengkapi SLHS dari Dinas Kesehatan. Ini penting untuk menjamin keamanan pangan bagi anak-anak kita,” pungkasnya.

Faridah Hasna

Reporter berita yang mengulas peristiwa cepat dan trending topic. Ia gemar memantau media sosial, mencoba aplikasi baru, dan membuat konten singkat. Waktu senggangnya dihabiskan dengan mendengarkan podcast opini. Motto: “Kecepatan harus sejalan dengan ketepatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *